Mujahadah Melawan Takwil Modernitas

Kenduri Cinta Januari 2016. Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam suatu malam setelah mendapat sebuah pesan dari Mbah Nun dalam jurnal video di laman caknun.com, seketika usai, saya seolah diarahkan untuk mengambil sebuah buku tulisan Marja’ Maiyah yang lain, yakni Alm. Syaikh Nursamad Kamba. Tentu saja bagi kalangan Maiyah, salah satu buku beliau berjudul “Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam” sudah tidak asing lagi, karena begitu dalamnya akan penjabaran ilmu tasawuf yang dikaitkan dengan realitas kehidupan zaman modern.

Secara acak, saya mencoba langsung membuka lembaran buku tersebut. Karena masih dalam frekuensi akan nasihat untuk tidak sombong, entah bagaimana saya langsung dipertemukan dengan bacaan yang masih dalam frekuensi yang sama. Bahkan setelah dirasakan dan didalami, pikiran yang masih melayang-layang ini seperti ditunjukkan untuk fokus membuka pintu selanjutnya.

Awal mulanya ialah ketika langsung mendapati tulisan dari Al-Junaid dalam buku tersebut, yang menyatakan bahwa apapun aktivitas batin dan apa yang terbesit dalam pikiran itu, semua tidak akan lepas dari tiga macam al khawathir (kecenderungan), yaitu: khatir al haqq (kecenderungan baik), khatir al thab’i (kecenderungan biologis), dan khatir al syaithan (kecenderungan jahat). Ketiga khawathir tersebut menurut Al-Junaid akan mempengaruhi kita seperti halnya orang lain berbicara kepada kita, datang silih berganti.

Dan juga ada peringatan tentang takwil, yakni mengalihkan dan pemahaman dari makna kebenaran yang semestinya — kebenaran yang bersumber pada akal sehat dan nurani. Keadaan takwil ini merupakan gambaran tentang jiwa manusia yang tak terbebas dari inklinasi kecenderungan jahat, dan setan akan terus mendorong jiwa untuk mencari beribu alasan untuk melegitimasi pikiran dan perbuatan jahatnya. Takwil ini sendiri menurut Al-Junaid merupakan salah satu jebakan pada kedalaman jiwa yang tersembunyi, yang mana masih terbesit sisa-sisa kesukaan akan dunia dan orientasinya.

Keadaan ini terjadi bukan karena seseorang kurang memiliki ilmu, namun sebaliknya, biasanya justru terjadi pada orang-orang yang sudah menguasai banyak ilmu tapi kurang waspada dan terobsesi akan inisiatif, terutama berlebihan dalam melakukan hal-hal yang dianggapnya baik. Karena secara tidak langsung, ketidakwaspadaan dalam jiwa itu akan mendorong manusia untuk jatuh dalam jurang riya’ dan syirik, bahkan kesombongan. Sekalipun jiwa seolah merasa sudah patuh terhadap pikiran-pikiran yang baik.

Terlebih dalam fenomena pandemi seperti ini, banyak sekali takwil-takwil yang banyak bermunculan. Yang tak lain disebabkan oleh batasan-batasan yang mengancam keselamatan. Sehingga pikiran dengan pondasi yang rapuh mudah kalang kabut dihantam badai-badai informasi yang sesungguhnya secara tidak sadar banyak dikonsumsi oleh diri sendiri. Pikiran yang semula bermuatan khatir al haqq, kemudian beralih pada kecenderungan khatir al thab’i. Sebab kecenderungan biologis lebih kuat dan erat kaitannya pada kebiasaan-kebiasaan fisik sehari-hari, seperti makan dan minum, bahkan istirahat.

Kebutuhan biologis memang menjadi salah satu urgensi yang harus tercukupi dalam mayoritas pandangan kehidupan. Dan dari sinilah kecenderungan ini akhirnya mampu mengalahkan kecenderungan baik, sebab khatir al-syaithan berada di pihaknya (kebutuhan biologis). Lantas menjadi sebuah pemakluman jika “orang-orang sekarang” menjadi pandai bukan dalam hal keteguhan iman dan kesungguhan dalam taqwa, melainkan hanya pandai untuk mencari alasan-alasan pembenaran untuk melegitimasi segala asumsi ataupun tindakannya.

Oleh karena itu, saran dari Alm. Syaikh Nursamad Kamba untuk mengantisipasi keadaan takwil ini salah satunya adalah dengan banyak-banyak melakukan mujahadah dalam segala bentuk pemikiran. Sebab, butuh perjuangan besar dan butuh kesungguhan dalam upaya untuk membersihkan pikiran dari kecenderungan-kecenderungan yang tidak baik. ”Niat yang menentukan implementasi ajaran agama harus dan mutlak didahului pembersihan pikiran dari kecenderungan yang tidak baik,” tulis Syaikh Kamba.

Bahkan menurut Al-Junaid di dalam buku tersebut, mujahadah pembersihan ini tidak hanya terkait niat semata, lebih penting lagi jujur dan tulus dalam melaksanakannya, semata-mata demi Allah. Sebab jika tidak didasarkan pada kejujuran dan ketulusan, ia akan menjadi munafik dan riya’ alias syirik khafi — mempersekutukan Allah secara sembunyi. Padahal, ketika kepatuhan tersebut jujur dan tulus, mengapa terbesit rasa bangga, sombong, dan merasa berhak mendapat imbalan/pahala?

Mungkin saja, kita memang telah benar-benar mengalami kehilangan utama akan sbujek tunggal dalam segala perubahan yang terjadi dalam perjalanan hidup ini. Yang secara sengaja atau tidak sengaja justru terhijabi oleh lapisan-lapisan ilmu ataupun pengetahuan yang kita cari. Yang dikira mencerdaskan, justru melalaikan. Yang dikira meninggikan, justru menenggelamkan. MasyaAllah, la quwwata illa billah.

Lainnya