Membaca Surat dari Tuhan (10)

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Membaca surat dari Tuhan yang tertulis dalam surat Al-Muddatstsir yang terbayang adalah adanya perintah untuk melakukan renaisans, pencerahan kembali kehidupan. Saat kehidupan mengalami kemandekan atau dimandekkan, saat kehidupan macet atau dimacetkan oleh sistem bersama ekosistemnya, lengkap dengan atmosfer kehidupan yang mirip dengan zona nyaman dan aman maka yang diperlukan adalah perubahan yang mampu menerobos kemandekan dan kemacetan itu.

Perangkap kemacetan dan kemandekan ini anehnya justru sering dinikmati sebagai kemapanan. Objek atau korban kemacetan dan kemandekan merasa mapan dengan kemacetan dan kemandekannya. Bahkan pada titik ekstrem yang menyedihkan, korban penindasan dan penghisapan sampai bisa menikmati orgasme penderitaannya kemudian ‘bahagia’ dan merasa aman serta nyaman meneruskan periode episode ketertindasan dan keterhisapannya. Mirip dengan sapi perah yang menikmati keterhisapannya ketika susunya disedot oleh tangan penindasnya.

Kemapanan korban atau objek kemandekan, kemacetan, keterhisapan dan objek penindasan ini jelas melanggengkan dan memapankan kerja-kerja para penindas, penghisap, pemacet, dan pemandek kehidupan. Mereka mapan dan berusaha terus untuk menjaga bahkan menciptakan perangkap-perangkap penghisapan, penindasan, pemacetan serta pemandekan kehidupan berupa sistem, ekosistem, dan atmosfer pseudo perubahan, kemajuan, kebebasan.

Sistem, ekosistem, dan atmosfer perubahan, kemajuan, dan kebebasan semu membuat kemapanan mereka yang pelaku dan korban penindasan, penghisapan, pemandegan dan pemacetan. Seolah-olah ada peluang mobilitas sosial ekonomi budaya politik dan mobilitas sosial bagi siapapun. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah mobilitas yang difasilitasi oleh sistem, ekosistem, dan atmosfer mobilitas yang telah diseleksi ketat hanya diperuntukkan bagi pendukung, pemuja, penyembah para penindas, penghisap, pemacet dan pemandek kehidupan mereka.

Mereka yang sadar, kritis, dan anti penindasan, anti penghisapan, anti pemacetan dan anti pemandekan kehidupan ini karena terlalu letih berjuang atau karena dipenjarakan serta masuk dalam lorong kesadaran palsu bahwa tidak berpihak atau netral adalah pilihan terbaik, maka pada hakikatnya mereka telah sampai pada posisi yang mapan untuk ditindas, dihisap, dumacetkan, dan dimandekkan secara permanen.

Kemapanan-kemapanan yang absurd yang sama-sama dinikmati oleh pelaku bersama korban penindasan penghisapan pemandekan pemacetan kehidupan ini yang dalam awal surat Al-Muddatstsir disebut selimut atau kemul hangat kehidupan manusia.

Maka dalam surat Al Muddatstsir, Tuhan memerintahkan, “Wahai orang orang yang berselimut kemapanan, bangkit (campakkan selimutmu) dan berilah mereka peringatan.” (Bahwa selimutmu itu palsu, bahwa kemapananmu yang kadang kau lindungi dengan undang-undang palsu dan perjanjian palsu itu tidak akan membuatmu menang di dunia dan akhirat).

Selanjutnya Tuhan memerintahkan, “Dan Tuhanmu maka agungkanlah” (dengan cara tidak mengagungkan yang bukan Tuhan. Dengan cara melakukan takbir perbuatan bukan sekadar takbir perkataan. Sesungguhnya takbir perbuatan ini efektif, siginifikan, dan kompatibel sebagai instrumen sejati untuk melakukan perubahan, yaitu mencampakkan dan meluluhlantakkan kemapananmu itu).

Pada ayat selanjutnya Tuhan menjelaskan adanya syarat bagi keberhasilan untuk melawan kemapanan yang menindas itu. “Dan pakaianmu (instrumen kehidupanmu) maka bersihkan”. Bersihkan dari noda korupsi pikiran, korupsi perasaan, korupsi cita-cita, korupsi amal, korupsi ekonomi, korupsi politik, korupsi hukum, korupsi nilai, korupsi sosial, korupsi ajaran agama, korupsi seni, korupsi pendidikan, korupsi struktural, sistemik dan korupsi massif berjamaah maupun individual.

Juga bersihkan pakaian kehidupanmu dari kebencian, iri hati, dendam yang membuatmu bertindak tidak adil kepada sesama manusia. Juga bersihkan pakaian kehidupanmu dari cinta yang berlebihan kepada dunia kepada keluarga dan golonganmu sendiri sampai melebihi cintamu kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan Allah.

Segala perbuatan dosa (musyrik dan juga maksiat) maka jauhilah”. “Dan jangan kau memberi dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh imbalan yang lebih banyak”. Ikhlaslah dalam memberi sesuatu, cari ridla Allah ketika memberi dan kalau kau berharap pahala berharaplah kepada Allah semata.

Untuk memenuhi perintah Allah (perintah melakukan perubahan, pencerahan, renaisans, mencampakkan kemapanan yang meninabobokan kamu dalam penindasan dan penghisapan) maka bersabarlah (karena kamu pasti mendapat tentangan dari kaum mapan yang menciptakan perangkap sistem ekosistem dan atmosfer penindasan dan penghisapan itu. Dan lagi untuk mencapai sukses perubahan yang menguntungkan masa depanmu diperlukan proses yang panjang dan perjuangan yang sungguh-sungguh dan benar (ijtihad intelektual, jihad mental dan mujahadah spiritual).

Dari ayat-ayat awal surat Al-Muddatstsir ini semuanya jelas bahwa manusia termasuk umat Islam yang diperangkap serta menikmati selimut kemapanan untuk segera bangkit mencampakkan kemapanan dan memberi peringatan atau berbagi kesadaran bahwa perubahan wajib dilakukan. Agar sukses dalam mencampakkan kemapanan dan sukses berbagi kesadaran akan wajibnya perubahan maka ada syaratnya.

Syarat-syarat itu adalah mengagungkan Allah yang memang wajib diagungkan dengan takbir perbuatan yang diiringi dengan perbuatan tidak mengagungkan apalagi memuja dan menyembah yang bukan Tuhan. Syarat berikutnya adalah membersihkan pakaian kehidupan dari noda aneka macam korupsi dan menjauhi segala bentuk perbuatan dosa individual dan dosa sosial.

Syarat berikutnya lagi agar sukses mencampakkan kemapanan yang cenderung negatif, dan agar sukses berbagi kesadaran bahwa perubahan itu wajib dilakukan adalah dengan selalu menyertakan kesabaran ketika berjuang atau ketika memproses perubahan ini.

Sesungguhnya Allah Swt telah berjanji untuk menyertai dan mencintai orang orang yang sabar. Bahkan dalam surat Al ‘Ashr disebut bahwa untuk berjuang memenangkan waktu (agar tidak rugi waktu) dianjurkan untuk berbagi nasihat dan kesadaran tentang kebenaran yang dilengkapi kesabaran. Bukankah dalam surat Al-Kahfi, Nabi Khidlir berkata bahwa Nabi Musa cenderung tidak sabar untuk sampai pada maksud Tuhan di balik perintah Tuhan kepada Nabi Khidlir berbuat di luar atau di atas nalar biasa manusia yang sudah mapan. Nabi Musa ‘gagal’ berguru kepada Nabi Khidlir karena tidak sabar, tetapi kemudian Nabi Musa berhasil mendapat hikmah dari pengalaman mengembara di alam empiris yang bermakna spiritual bersama Nabi Khidlir ini.

Sepertinya hari-hari ini ada sejumlah selimut kemapanan yang membuat kita tertidur lelap. Kalau Imam Al-Ghazali pernah mencampakkan kemapanan berpikir dan beragama sampai ilmu-ilmu agama mati suri saking mapannya dengan menulis berjilid-jilid kitab Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) dan Mohammad Iqbal pernah mencampakkan kebekuan dan kemapanan cara berpikir umat dengan menulis buku The Reconstruction of Islamic Thought (Membangun kembali atau merekonstruksi Pemikiran Islam) yang keduanya inspiratif, maka apa yang perlu kita teruskan agar selimut kemapanan berpikir dan beragama yang cenderung negatif bisa kita ubah menjadi perubahan berpikir dan perubahan dalam memahami dan mengamalkan agama?

Kalau KHA Ahmad Dahlan bersama KH Hasyim Asy’ari bersama para guru dan sahabatnya pada zamannya bisa melaksanakan perintah qum faandzir, maka tentu menjadi tugas kita adalah meneruskan gerakan qum faandzir dengan melengkapi syarat-syarat suksesnya itu: mengagungkan Allah dan tidak mengagungkan yang bukan Tuhan, membersihkan pakaian kehidupan kita dari noda aneka macam korupsi, menjauhi dosa sosial dan dosa individual serta terus-menerus menjaga kesabaran dan terus terjaga dalam kesadaran bersabar ketika berjuang. Juga diperlukan syarat ikhlas dalam berjuang. Semoga demikianlah adanya. Aamiin.

Yogyakarta, 18 Juni 2021.

Lainnya