Membaca Surat dari Tuhan (16)

Langkah Taktis Kecil-Kecilan

“Kenapa virus jeruk nipis itu datang menyerbu Kang?”

“Saya tidak tahu. Tetapi bulan-bulan menjelang datangnya bencana hama ini, kita tentu pasti ingat, itu ada orang tua misterius yang keliling kampung ingin membeli jeruk nipis dengan cara menempil atau membeli sedikit dan ternyata tidak dilayani oleh orang kampung pemilik kebun jeruk nipis. Bahkan ketika dia ingin membeli jeruk nipis tua yang jatuh tidak diperbolehkan.”

“Saya ingat Kang. Itu orang yang mengaku-aku utusan Ngarsa Dalem dari Kraton itu?”

“Betul. Dia memang utusan dari Kraton, mencari jeruk nipis untuk membersihkan pusaka dalam upacara jamasan. Dia menangis menemui saya karena mau membeli jeruk sedikit tidak boleh, padahal jeruknya melimpah bergelantungan di pohon. Dia malah diusir dari halaman rumah seseorang ketika memungut jeruk jatuh yang ingin dia beli. Di tempat lain dia dimaki-maki oleh pemilik kebun jeruk sebagai orang yang tidak pantas membeli jeruk nipis kelas satu kota ini. Kemudian dia bilang bahwa ini semua tanda kalau tanaman jeruk akan tumpes di kota ini.

Saya mohon kepada orang itu agar kutukan atas kelakuan orang kota ini yang kejam kepada dia bisa dibatalkan atau dicabut. Tetapi dia menolak karena memang sudah nasib warga kota ini kehilangan mata pencaharian sebagai penanam jeruk nipis. Wahyu kemakmuran memang sudah titi mangsanya dicabut dari kota ini, dipindah ke tempat lain. Dan itulah yang terjadi. Kita jadi sulit cari uang.”

Orang-orang di gardu ronda terpekur.

Mereka menyesal telah mendzalimi orang tua yang datang dari jauh dengan berjalan kaki hanya untuk membeli jeruk nipis yang jumlahnya sangat sedikit sehingga disepelekan orang. Hampir semua yang hadir di gardu ronda adalah pelaku atau tukang bully terhadap orang tua yang penampilannya seperti orang miskin papa tak berpunya itu.

Kemudian Ayah menceritakan datangnya tanda-tanda akan munculnya zaman sulit. Bahkan lebih sulit dari sekadar ganasnya virus yang menyerang pohon jeruk nipis. Yaitu zaman penuh bebendu yang menimpa rakyat karena pemimpin kurang memelihara rasa empati dan simpati. Ketika rakyat mulai kelaparan yang dilakukan oleh pihak yang mendukung pemerintah justru membuat lagu dusta untuk menutupi fakta laparnya rakyat itu.

Lagunya terdengar lucu kalau didengarkan sekarang. Bait terakhir dari lirik lagu ini berbunyi: “Siapa bilang rakyat kita lapar, Indonesia banyak makanan.” Saya kira jutaan tikus sawah berjingkrak sambil tertawa mendengar lagu itu. Orang gunung yang kelaparan memaki-maki lagu yang dibuat buzzer dan dinyanyikan para buzzer dan influencer zaman Orde Lama itu.

Ketika peronda yang kenyang perut karena makan beberapa potong singkong rebus gurih dikombinasi dengan kunyahan gula merah mulai mengantuk, Ayah berkata, “Suatu hari pas waktu Ashar, waktu adzan Ashar dilantunkan dari pengeras suara serak-serak basah dari Masjid Gede, datang ke rumah saya seorang lelaki misterius.”

“Misterius?”

“Untuk apa Kang?”

“Memberi isyarat buruk?”

Seluruh isi gardu bangun, memasang telinga.

“Lelaki itu berjalan cepat, masuk halaman rumah dan menerobos masuk ke kamar mandi.”

“Untuk apa Kang?”

“Ya jelas mandi. Masuk kamar mandi jelas untuk mandi, bukan nggodog tela,” jawab Ayah disambut suara tertawa berbarengan.

“Dia mandi, tapi bukan mandi biasa,” kata Ayah memotong ceritanya agar yang mendengar penasaran dan tegang.

“Mandinya seperti apa, Kang?”

“Dia mandi menghabiskan seluruh isi kulah. Dia keringkan isi tempat air untuk mandi itu.”

“Hah?”

“Wong edan dia, Kang?”

“Bukan. Dia dikirim entah oleh siapa atau mengirim dirinya sendiri untuk memberi pesan atau isyarat penting untukku.”

“Sunan Kalijaga? Wali ngejawantah?”

“Bukan. Sebab ketika dia sudah pergi jauh saya cepat-cepat isi kembali kulah dengan menimba air sumur. Ee, setelah kulah penuh tiba-tiba orang aneh muncul lagi. Masuk kamar mandi. Mandi menghabiskan air di bak mandi itu.”

“Kurang ajar dia. Kalau dia berbuat seperti itu sudah kupukuli babak belur dia.”

“Saya awalnya emosi. Tapi saya ingat nasihat Mbah Syekh Maulana Maghribi yang saya terima ketika ziarah di sana tentang akan datangnya zaman sulit cari makan sebelum meletusnya kejadian yang mengguncang negara. Saya kemudian mengingat-ingat tentang gaya tokoh spiritual Yogya yang kalau memberi pesan atau isyarat penting suka dengan cara aneh-aneh. Saya menduga orang misterius ini Ndoro Purba atau paling tidak muridnya.

Maka pada adegan ketiga, ketika untuk ketiga kalinya dia menguras air bak mandi, orang itu saya cegat dan saya tanya tentang sebaiknya saya harus berbuat apa? Orang itu memberi isyarat agar saya mengubah pekarangan rumah yang nganggur karena semua pohon jeruk nipis mati untuk dijadikan lumbung pangan keluarga.”

Benar, langkah taktis Ayah mengubah pekarangan rumah atau halaman rumah menjadi lumbung pangan berhasil. Sebagai mantan santri Wonokromo, Ayah dulu ketika nyantri gratis tinggal di rumah Kiai. Untuk makan Ayah membantu Bu Nyai mengusung beras dagangan dari rumah Kiai ke Pasar Jejeran. Halaman rumah Kiai yang lumayan luas ditanami singkong, kimpul, garut, pisang, pepaya.

Di pinggirnya, di pagar halaman hidup ditanami uwi, gembili, gadung, ganyong, canthel, mlandingan, murbai, kelor, kacang panjang. Untuk bisa mandiri dalam mencuci pakaian, Ayah menanam pohon lerak. Tanaman labu putih dan labu kuning atau waluh juga ditanam. Pohon buah, selain pepaya, juga ditanam pohon jambu, sirsak, rambutan dan kedondong.

Pepaya, daun pisang, dan kedondong bisa dijual sebagai pengganti jeruk nipis. Yang lain dimakan sendiri. Ayah dan ibu menciptakan menu yang aneh-aneh. Ketika uang pensiun Ayah sebagai tentara berpangkat Kopral kepala tidak cukup untuk membeli beras, maka ayah membeli jagung dan bekatul. Jagung ditumbuk sendiri dalam lumpang batu. Hasilnya untuk dimasak jadi nasi jagung atau jenang jagung.

Bekatul dibuat adonan lalu di panggang di atas tungku dengan alas panggang dari genting atau gendheng. Anak-anak menyebutnya roti gendheng. Mlandingan dimasak botok atau disayur. Ketika panen singkong, kadang dibuat lemet atau balok goreng atau direbus. Untuk makan siang kadang bukan nasi beras tapi nasi jagung, bekatul, pisang rebus, kimpul rebus atau ubi rebus. Kadang Ibu memperlakukan kami anak-anak seperti ulat sutera, diberi lauk daun murbei yang disayur bening.

Para tetangga kemudian mengikuti Ayah, mengambil langkah taktis menjadikan halaman rumah sebagai lumbung pangan, termasuk lumbung pangan milik tetangga yang beberapa kali kecurian singkong. Ketika pencuri tertangkap justru dibebaskan, disuruh membawa pulang dan ditambah uang.

“Itu langkah taktis orang kampung yang membuat pencuri itu malu masuk kampung kami. Jadi kampung aman,” kata Ayah suatu hari.

Ketika pemberontakan komunis meletus di Jakarta dan Yogyakarta, setelah terdengar RRI menyiarkan siaran berisi langkah taktis mereka berupa pembentukan Dewan Revolusi yang dipimpin Letkol Untung, maka masyarakat yang berpikir kritis pun bertindak kontra taktis untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Ayah dan teman-teman seangkatan yang berpengalaman sebagai tentara TNI melakukan operasi militer menertibkan dan melumpuhkan orang komunis waktu pemberontakan Madiun dengan daerah operasi Bantul, Gunungkidul, dan Wonogiri cepat tanggap. Berkumpul untuk membuat langkah taktis di tingkat kampung. Langkah taktisnya ada dua. Melakukan kerja bakti membuat pagar bambu di sekeliling kampung dengan gembok di setiap pintu gerbang. Setelah pagar bambu jadi diterapkan jam malam dan ronda yang lebih intensif.

Orang komunis yang berada di dalam kampung yang ikut kerja bakti membuat pagar bambu tidak bisa melarikan diri ketika musim cidukan tiba. Pencidukan yang berlangsung damai, sopan tapi menegangkan dilakukan oleh aparat keamanan dibantu milisi rakyat sipil. Terjadi adegan yang mengharukan. Orang yang diciduk menitipkan anak istrinya kepada anggota milisi sipil yang ternyata adalah saudara sendiri. Yang dititipi amanah ini menjalankan tugas sosial dengan sebaik-baiknya. Ada anggota milisi sipil ini yang kemudian melakukan langkah taktis dengan menikahi anak gadis yang dititipkan oleh orang tuanya.

“Daripada kalau saya berbulan-bulan datang ke rumah Bude mengirim makanan dicurigai tetangga, lebih baik anaknya saya nikahi secara sah,” katanya berdalih. Dalih ini yang juga dia sampekan ketika Pakdenya pulang dari pulau Buru sudah mendapat menantu dan cucu dari orang yang dulu membantu aparat keamanan menciduk dirinya. Dia malah bersyukur karena anak muda menantu itu telah melakukan rekonsiliasi sosial walau di level keluarga.

Langkah-langkah taktis kecil-kecilan sebagai perwujudan tafsir fungsional atas ayat Al-Qur’an yang berbunyi: wama arsalnaaka illa rahmatan lil’alamin, terus dilakukan Ayah sebagai Kiai kecil kampung. Saya yang terbiasa punya imajinasi langkah taktis sebagai langkah cadangan dan solusi menghadapi persoalan yang mendadak. Apalagi Majelis Ilmu Nahdlatul Muhamadiyyin menggunakan ayat ini sebagai sumber inspirasi, aspirasi, dan aplikasi gerakan.

Ketika bergerak di lapangan bersama Pak Marzuki melakukan berbagai advokasi sosial, langkah taktis menjadi pilihan solusi tepat dan perlu.

Yogyakarta, 7-9 Juli 2021.

Lainnya