Kisah Para Pemuda “Jamaah Unta” Maiyah

Setiap pertemuan selalu meninggalkan jejak kenangan. Jejak kenangan ketika diingat akan melahirkan kerinduan untuk mengulangi pertemuan kembali. Begitu juga maiyahan selalu meninggalkan berbagai jejak kisah kenangan. Dan kenangan itu jika diingat akan melahirkan kerinduan untuk maiyahan kembali.

Sambil menunggu dalam doa harapan menuju keyakinan agar kita bisa maiyahan kembali, saya akan menceritakan secuil kisah biasa-biasa saja para pemuda Maiyah Jawa Timur. Semoga secuil kisah ini menambah ghirrah kita untuk bersabar menunggu datangnya “hari raya” maiyahan. Selain itu semoga menjadi pemantik lahirnya ingatan atau kenangan maiyahan sampeyan semua selama ini, sambil ngopi atau nge-teh menikmati hari.

Para pemuda yang saya kisahkan adalah bagian kecil dari pemuda Jawa Timur yang sering datang maiyahan, bahkan saking seringnya mereka punya kapling tempat maiyahan sendiri di baris depan panggung. Dari kapling tempat baris depan panggung ini lahirlah komunitas persaudaraan kecil yang di mana ada maiyahan, akan kita temui kumpulan pemuda sedang tertawa terbahak di baris depan sambil menunggu dimulainya acara Sinau Bareng. Terkadang ada salah satu anggota yang merasa datang telat, pesan tempat duduk baris depan kepada yang sudah datang terlebih dahulu.

Kami menamakan “Jamaah Unta” untuk komunitas baris depan panggung ketika maiyahan. Dasar penamaan itu dari jamaah shalat Jum’at yang datang awal dan menempati baris depan ‘kan menurut riwayat mendapat ganjaran pahala sekualitas unta, bagi yang datang kedua sapi, ketiga kambing, dan seterusnya sampai telur ayamnya. Pahala itu yang nanti kita tumpangi dalam perjalanan ke surga. Nah bagi jamaah yang ingin menempati baris depan panggung harus datang terlebih dahulu dari jamaah yang lain.  Selain itu untuk mengapling tempat duduk bagi pemuda lain yang datang telat, tetapi sudah pesan tempat duduk sejak sore hari. Maka tak salah jika yang menempati baris depan panggung itu menyandang nama Jamaah Unta.

Pada wilayah maiyahan Jawa Timur komunitas baris depan ini sempat di-leaderi oleh Diky dengan anggota Qobus, Toni, Slamet, Somad, Dio, Qohar, Iswah, Wawan, Bibit, Edis Kadal, Adit, Karis, Jayak, dan anggota yang lain silih berganti bergabung. Terkadang turut bergabung juga pemudi yang setiap maiyahan juga ingin duduk di baris depan panggung. Mau gak mau ya harus berkenalan dan bergabung di komunitas para pemuda baris depan panggung. Kalau pas ada Tama, Dewi, dan teman pemudi yang lain, enak, soalnya selalu bawa makanan untuk dimakan bersama ketika maiyahan. Jatah isi perut para pemuda terjamin selama para pemudi itu datang. Kami mulai mengalami paceklik makanan jika para pemudi itu jarang datang maiyahan lagi, karena dilamar orang atau segera menikah dalam waktu dekat. Sebab jika maiyahan bersama pemudi akeh wareg’e.

Semangat para pemuda dan pemudi untuk duduk di baris depan panggung adalah supaya bisa mendengarkan dan menatap wajah Mbah Nun memandu Sinau Bareng dan juga agar jelas mendengarkan jokes Mbah Nun selama maiyahan — yang jika didengarkan selalu renyah dan mudah membuat kami tertawa. Lumayan selain dapat ilmu peluasan dan pendalaman dari Mbah Nun, juga mendapat kesegaran karena bisa tertawa lepas bersama teman-teman yang lain. Bersamaan dengan tertawa itu, terlepas juga penat dan beban hidup kita setelah menjalani hari.

Mungkin hal itu yang membuat kami betah dan kangen maiyahan, sebab Mbah Nun mahir membungkus peluasan dan pendalaman ilmu hidup dengan jokes renyah yang tak terasa kita merasakan plong pikiran dan “puas” batin dari sebelumnya merasa berat dan letih.

Banyak jokes Mbah Nun yang kita ulangi lagi dan menjadi bahan guyonan kita ketika mampir ngopi bersama sesudah maiyahan. Misalnya ketika maiyahan ada salah satu pemuda yang berwajah kumus-kumus naik panggung dan mengajukan pertanyaan ke Mbah Nun. Sebelum mendengarkan pertanyaan salah satu pemuda tersebut, Mbah Nun memperhatikan wajah dan pakaian pemuda tersebut. Setelah Mbah Nun merespons pemuda itu dengan konteks guyon, “Masio maiyahan, yo adus rek. Klambine salin. Masio awakmu gakpopo, tapi deloken jamaah sebelahmu, semaput ngambu awakmu”. Sontak respons Mbah Nun itu meng-ggggeeerrrr-kan suasana maiyahan.

Pemuda itu mungkin karena saking antusiasnya datang maiyahan sampai lupa mandi, yang membuat Mbah Nun mengingatkan tapi dibungkus dengan guyonan. Seakan Mbah Nun berpesan, meskipun kita hidup berdaulat, kita harus tetap memiliki pertimbangan sosial.

Sehingga kehadiran kita minimal tidak menambah masalah atau mudlarat bagi sekitar. Guyonan itu yang menjadi pusaka guyonan kami ketika melihat di antara kami kumus-kumus atau pakaiannya bau keringat. Sekadar saling mengingatkan dalam guyonan. Baik bukan?

Komunitas para pemuda baris depan ini lama kelamaan tak betah juga berada di baris depan panggung. Banyak yang merasa sudah tak sepantasnya guyon di depan panggung, apalagi jika pas guyonan kita kenemenen, sehingga mengundang perhatian Mbah Nun. “Mosok teko maiyahan mek guyon thok ae,” menurut salah satu pemuda dan yang lain juga menyetujui pendapat itu.

Mungkin karena proses pendewasaan itu, berdampak pada sekitarnya — yang pada akhirnya para pemuda itu memutuskan untuk mundur atau minggir, duduk dan berkumpul di pojokan panggung ketika maiyahan. Pilihan itu supaya ketika guyon tidak menjadi perhatian Mbah Nun. Pertimbangan lain supaya kita tidak kena “semprot” Mbah Nun, yang tiba-tiba seakan tahu kesalahan yang telah kita perbuat, sehingga Mbah Nun langsung mengkritik atau marah-marah — yang kita rasakan marah dan mengkritik kita langsung. Padahal dalam maiyahan apa yang disampaikan Mbah Nun untuk semua jamaah, tapi kita yang merasa bersalah. Kritik dan marah itu tertuju untuk kita.

Para pemuda itu ternyata tidak hanya mencari guyonannya Mbah Nun ketika maiyahan, tetapi juga perlahan mengendap kesadaran bahwa kami harus mencari peran. Terkadang para pemuda itu ikut membantu membukakan jalan Mbah Nun ketika dalam perjalanan dari transit ke panggung. Terkadang membantu menjadi pagar betis pada sesi salaman jamaah ke Mbah Nun usai acara, supaya alurnya tertata rapi. Terkadang lebih banyak kita mengambil peran menjadi petugas mengumpul sampah sisa maiyahan.

Kesadaran peran menjadi petugas pengumpul sampah sisa maiyahan lahir di Padhangmbulan. Ketika salah satu dari para pemuda melihat sampah bekas makanan berserakan sesudah acara. Lantas lahirlah kesadaran “nyaur utang” ke Mbah Nun karena tak pernah capek menemani kita dan nggrojoki peluasan dan pendalaman ilmu hidup. Kita “nyaur utangndèk-ndèkan dengan mengumpulkan bekas alas jamaah, bekas botol air mineral dan bekas bungkus makanan yang berserakan. Kami kumpulkan di satu tempat. Gerakan mengumpulkan sampah itu tanpa komando teknis, hanya satu orang yang bergerak cepat mengawali, yang lain mengikuti geraknya. Gerakan itu pertama di awali oleh para pemuda baris depan yang sukanya guyon, lantas meluas seluas kesadaran masing-masing jamaah untuk saling menjaga kebersihan tempat kita Sinau Bareng.

Gerakan kesadaran itu “mewabah” ke masing-masing simpul dari kami. Selepas acara selalu ada yang bergerak mengawali mengumpulkan sampah di area rutinan itu, untuk diikuti oleh yang lain. Bahkan mungkin karena terbiasa berperan menjadi pengumpul sampah, terkadang tangan para pemuda itu dengan entengnya mengambil sisa sampah ketika usai acara maiyahan Sinau Bareng di suatu tempat yang luas. Tak terasa, terkadang rasa capek yang mengingatkan para pemuda itu untuk istirahat. Duduk di bibir panggung sambil menikmati roti, kacang atau makanan lain yang disuguhkan tamu di atas panggung dan menemani bapak-bapak kru KiaiKanjeng ngringkesi alat musik.

Setelah itu kita bergegas ke parkiran motor dan melanjutkan sesi pertemuan di warung kopi terdekat. Kita ngobrol, guyon, dan tertawa sampai adzan Shubuh mengingatkan kita untuk pulang ke tempat masing-masing.

Peran para pemuda itu biasa-biasa saja, tapi saya bergembira bisa berada di tengah-tengahnya.

Surabaya, 6 juli 2021.

Lainnya