(Sinau Puasa, bag. 2)

Kepungan Iming-Iming

Image by Karolina Grabowska from Pexels

Setelah ‘puasa’ dikondisikan sebagai bahan jualan oleh industri kapitalistik dengan segala macam atributnya, kini giliran puasa dihubungkan dengan kesehatan.

‘Kesehatan’ sendiri bisa merupakan produk kapitalistik, lepas dari esensi kesehatan itu sendiri yaitu ‘sehat’. Sehat adalah kata sifat yang dijadikan kata benda menjadi ‘kesehatan’. Segala macam yang berbau dan berlabel kesehatan akan sangat laris dijual.

Sebagai contoh: air, yang kalau kita menimba dari sumur, tidak mempunyai nilai ekonomis, alias tidak laku kalau dijual. Sedangkan kalau air dikemas dengan botol cantik diberi nama ‘x-qua’ dengan iklan-iklan yang mengedepankan ‘kesehatan’ dengan label pH sekian, lengkap dengan bumbu-bumbunya, maka si air itu akan mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi, bahkan harganya per liter pun akan melebihi harga per liter bensin.

Kehidupan kita sehari-hari sangat dipenuhi oleh racun-racun kapitalistik. Kita tiap hari tiap jam tiap menit dicekoki dengan ‘iming-iming’ (baca: iklan) barang-barang konsumtif. Itu adalah sifat dasar manusia dan sekaligus kelemahannya, yaitu cinta akan barang-barang dunia.

Di manapun, kita mendapatkan iming-iming itu, mulai dari bangun tidur, buka hape, lihat berita di medsos apapun pasti ada iklan atau iming-iming itu. Apakah itu di Twitter, Youtube, Instagram, koran dan majalah online dan masih banyak medsos lainnya. Kemudian kita keluar rumah, sepanjang jalan diperlihatkan baliho dan berbagai papan iklan yang berisi berbagai macam produk yang diiming-imingkan kepada kita.

Sebenarnya kehidupan kita sehari-hari yang kita jalani adalah ladang untuk puasa kita. Dengan ‘racun’ atau ‘iming-iming’ yang kita peroleh mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi membuat kita ‘sakit’ atau setidaknya membuat kita tidak sehat.

Dari iming-iming yang ada akan berpotensi menjadi suatu keinginan yang mengarah kepada kondisi ‘sakit’ bila kita tidak mampu mewujudkan keinginan kita. Di sinilah dibutuhkan ‘puasa’. Maka fungsi puasa akan mengendalikan batin kita dari keinginan kebutuhan yang bukan primer. Puasa ini akan lebih berat pada kita yang mampu membeli — mendapatkan sebuah barang, tetapi kita tidak melakukannya.

Di sini kita menjadi mafhum salah satu esensi puasa yang dikatakan Cak Nun: Puasa adalah melakukan sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak melakukan sesuatu yang kita sukai. Apapun itu, simpel kan!

(bersambung)

Lainnya