Kecerdasan Seketika

Photo by M. B. M. on Unsplash

“Apa orang yang cari untung, mereka untung terus?”

“Tidak!”, audiens menjawab serempak.

“Lalu, kalau saya cari rugi, apa akan rugi terus?”

Saya mengisi waktu senggang dengan menonton tayangan video lawas. Lalu mendapati pertanyaan di atas, sebuah pertanyaan yang hampir selalu dilontarkan di setiap talkshow dan seminar oleh Begawan Entrepeneur Indonesia, Mendiang Om Bob Sadino.

Pertanyaan semacam di atas amat penting bagi orang-orang yang kerap terjebak pada over-analyzing everything seperti saya ini. Bahwa untung dan rugi itu probabilitas biasa saja, adanya perasaan takut rugi tidak sama sekali menambah kemungkinan untuk mendapatkan untung jadi lebih besar.

Justru, ketika rasa takut itu membuat kita mengerjakan upaya dengan jumlah yang lebih sedikit malahan sama saja itu memperkecil kadar peluang mendapatkan untung. Makin sedikit mencoba, makin sedikit pula kesempatan untuk berhasilnya, bukan?

Sibuk Memilih Jurus

Over-analyzing everything, saya mendefinisikannya sederhana saja. Kita mempelajari begitu banyak jurus, begitu mendapati musuh medadak di depan kita, malah sibuk mengenali dan memilah jurus mana yang paling akurat digunakan. Ya sudah deh, pilihan jurus belum ketemu, tetapi sepersekian detik habis kita dilumat oleh musuh.

Padahal, sikap yang paling baik menurut saya adalah bagaimana kita merasa merdeka untuk menggunakan jurus yang mana saja, atau bahkan menciptakan jurus baru seketika itu juga, asalkan itu merupakan bentuk refleks murni terhadap tantangan serta momentum yang hadir di hadapan kita.

Hal refleks semacam ini amat sulit diterapkan apabila, pertama: kita meyakini bahwa sebaik-baik solusi adalah mengeluarkan jurus yang kita miliki yang paling kompatibel. Padahal, sebanyak apapun jurus yang sudah kita miliki, ragam tantangan yang mungkin datang jauh lebih banyak lagi kemungkinannya.

Kedua: Komentar orang adalah penilaian yang amat penting.

Ketiga: Kita terobsesi untuk selalu untung, selalu berhasil. Padahal, orang cari untung tidak ada yang selalu untung terus. Apapun hal yang belum dicoba selalu mengandung dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Rumus ini sudah berlaku bahkan sejak Negara Indonesia belum lahir, oleh karenanya slogan para pejuang adalah: Merdeka atau Mati! Bukan: Pokoknya harus merdeka!

Setiap kita adalah researcher bagi perjalanan hidup kita sendiri. Amat boleh saja mengeluarkan hipotesis langkah-langkah yang bahkan sama sekali tidak ada korelasinya dengan penguasaan keilmuan dan jurus-jurus mental sukses yang sudah kita koleksi.

Kecerdasan seketika adalah kemampuan merespons keadaan yang sama sekali baru bahkan mengagetkan. Di mana dari refleks respons tersebut kita berpeluang mendapatkan sebuah perolehan baru. Kalau pas nasibnya baik, probabilitas sedang berpihak, maka keberhasilan yang kita peroleh. Kalaulah tidak, ia menjadi pijakan untuk sebuah peningkatan di tahapan upaya berikutnya. Cag-ceg sat-set, enggan sebuah momentum terlewat.

Lolos dari Obstacle

Seorang kawan bercerita kepada saya, di awal pandemi usahanya mandeg. Hari demi hari hanya dilaluinya dengan terbengong-bengong. Lalu, pada suatu waktu ia berjumpa dengan sahabat lamanya yang concern di bidang pemberdayaan masyarakat.

Apa yang menjadi kecerdasan seketika yang muncul adalah, “Oke, saya masih punya sepetak lahan di hutan, kita manfaatkan itu untuk membantu masyarakat”. Mau dengan metode analisis apapun, respons ini jelaslah tidak masuk akal. Mana bisnis sedang mandeg, malah membuat kegiatan pemberdayaan sosial.

Singkat cerita, jadilah tempat itu menjadi pusat kegiatan masyarakat yang sampai hari ini masih terus dikembangkan. Bahu-membahu sejumlah pihak tergerak untuk ikut urun membantu. Di luar bayangan di awal, bukan hanya warga lokal yang terlibat tetapi komunitas lintas nasional juga ikut nimbrung juga bersinergi.

Kita coba simulasikan nih, kalau kawan saya ini mental-modelnya mandeg oleh tiga hal yang saya sebutkan di atas, apakah ide yang amat bagus ini akan terjadi seperti hari ini? Jawabannya: Tidak.

Obstacle pertama: Wah, ini dasar teorinya apa ini kita mewujudkan gagasan seperti ini, tampaknya saya tidak mempunyai dasar pemahaman yang relevan, sebaiknya kita jog kopi dan ganti topik ngobrol yang lain saja. Kira-kira begitu mungkin kejadiannya saat rembug ide di awal dahulu kejadiannya.

Obstacle kedua: Haduh, nanti apa kata orang, hari gini pemberdayaan-pemberdayaan kan sudah terkenal cuma buat proyekan LSM saja. Kata orang jadi penghambat.

Lalu obstacle ketiga: Iya, kalau berhasil. Nanti kalau gagal gimana?

Kisah kawan saya di atas hanyalah sebuah refleksi bagi kita, kalau di antara kita hari ini kita terlampau lambat berkembang atau kalau di antara kita hari ini terlalu lama berkubang dalam kebangkrutan, jangan-jangan sebabnya adalah karena over-analyzing everything dan masih enggan mengasah kualitas ‘kecerdasan seketika’ kita.

Kawan saya ini ketika bercerita ke saya sudah tidak ada masalah dia. Bisnisnya sudah jalan lagi, social project-nya jadi magnet orang-orang yang ingin datang ikut membantu. Padahal kawan saya ini bahkan belum tahu teori swarm intelligence alias kecerdasan kolektif, tetapi ia sudah menjalankannya.

Seperti kita tahu, unsur terbentuknya sebuah kecerdasan kolektif ada dua, yakni pertama: Kesediaan masing-masing mengambil peran, kedua: terjadi silaturahmi.

Lainnya