Gondrek

Padhangmbulan 13 Maret 2017. Foto: Adin (Dok. Progress)

Maiyah merupakan pilihan jalan yang menarik untuk terus digali dan ditemukan keunikannya. Di Maiyah, saya sendiri menemukan banyak hal yang membuat saya lebih bersyukur kepada Allah, karena dipertemukan dengan jalan Islam melalui Maiyah. Maiyah semacam gang menuju jalan lurus Islam yang dimaksudkan Tuhan untuk terus kita jalani dan perjuangkan sampai akhir hayat.

Salah satu nilai Islam yang dicuacakan oleh Maiyah adalah mensyukuri segala nikmat dari Tuhan. Ketika kita tak dianggap, cuaca Maiyah mengajarkan untuk tulus dan bersabar memperjuangkan nilai hidup untuk tetap tegak. Nilai hidup untuk menjaga keselamatan dan keamanan kepada semua makhluk dan manusia. Bentuk kepenjagaan itu menurut Maiyah tidak harus secara teknis melindungi makhluk dan manusia di luar batas kemampuan kita. Menjaga keselamatan dan keamanan oleh Maiyah diajarkan untuk minimal tidak ikut menyumbang kerusakan dan kehancuran sesaat dan berkepanjangan terhadap lingkungan dan berlangsungnya kehidupan manusia secara sadar.

Maka di Maiyah wirid, shalawat, dan Sinau Bareng dalam berbagai tema dan khasanah pembahasan Islam dan kehidupan berjalan berdampingan. Tidak saling mengungguli dan menjatuhkan kadar spiritual: wirid dan shalawat, dengan intelektual: Sinau Bareng, begitu juga sebaliknya.

Nilai Islam yang berlangsung dalam cuaca Maiyah itu yang membuat banyak pejalan kehidupan dari tua hingga muda, dari juru parkir sampai pengusaha real estate tertarik, masuk, betah dan nyaman berada dalam cuaca Maiyah itu.

Cuaca Maiyah yang penuh rasa syukur yang membuat juru parkir tenteram menikmati pekerjaannya sehingga tidak banyak menuntut apa-apa dari orang lain terutama pemerintah. Cuaca Maiyah yang mengajari kita ngalah itu juga yang membuat dirinya legowo dan ngalah dari dunia persaingan dan perebutan terhadap apa yang disebut kesuksesan dunia.

Cuaca Maiyah yang mengajak kita selalu ingat dan merajut cinta kepada Kanjeng Nabi itu yang membuat salah satu teman spesial saya tertarik, betah, mendalami dan bahagia terhadap Islam terutama kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Teman spesial saya ini akrab dipanggil Gondrek. Saya bertemu pertama kali pada momen “Menyorong Rembulan”, memperingati 65 tahun usia Mbah Nun dan esoknya 67 tahun usia Mbah Mif, kakak Mbah Nun, yang berlangsung di Menturo, Sumobito, Jombang.

Saya bertemu dengan Gondrek ketika acara hari pertama selesai. Pada waktu itu Gondrek ikut menjadi petugas yang membersihkan bungkus makanan dan minuman yang berserakan di halaman tempat berlangsungnya acara. Pada acara itu, Gondrek hadir bersama Dio teman kecilnya dari Kali Kepiting, Surabaya. Dio ini teman kami yang sering ngopi bersama di Surabaya.

Gondrek, pada waktu saya pertama bertemu, orangnya sregep, cakcek, tak banyak omong tapi kerjanya dalam tugas membersihkan sampah bekas bungkus makanan dan minuman itu dia kerjakan dengan cekatan bersama teman lain sampai tak tersisa.

Pertemuan kami berlanjut ketika kami sudah sama-sama capek dan memilih beristirahat di salah satu teras sekolahan TK keluarga Ndalem yang berada di dekat lapangan sepakbola belakang SMK Global.

Kami tidur dengan pulas dan mulai terbangun ketika sinar matahari terasa menyengat punggung kami. Dan terpaksa bangun ketika Mbah Mif bersama beberapa guru mau masuk ke ruangan kantor, tapi kesulitan karena di depan pintu ruangan kantor itu berjajar orang yang sedang tidur pulas, sebab kelelahan setelah beraktivitas semalam.

Ingatan pertemuan dengan Gondrek itu yang membuat saya tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang sosok Gondrek. Perlahan saya mengetahui dari Dio bahwa Gondrek merupakan pemuda yang masih awam tentang khasanah Islam. Maka dari itu Gondrek mencoba belajar dan mendalami khasanah Islam melalui Maiyah.

Gondrek unggul dalam ilmu titen. Pernah salah satu teman pada momen ngopi bersama membuktikan ilmu titen Gondrek dengan menanyakan posisi kereta yang Dio naiki dalam perjalanan ke Yogja pada jam sekian sudah sampek mana? Gondrek menjawabnya dengan mantap. Dan ketika dikonfirmasikan ke Dio, apa yang Gondrek jawab tepat. Padahal ketika menjawab itu Gondrek tak membuka gadget sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, ketika bertemu Gondrek di acara Sinau Bareng maupun di Bangbang Wetan, saya mendapati dia amat khusyu’ pada momen bershalawat dan ketika momen diskusi berlangsung dia tampak menyimak temenan. Ketika tahu fakta itu, saya mbatin, “saya saja yang hidup dalam budaya Islam sejak kecil tidak sekhusyu’ Gondrek yang masih awam terhadap budaya Islam ketika bershalawat”.

Saya merasa tertampar dan tidak merasa apa-apa dalam kualitas batin dan kesungguhan kepada Allah dan kehidupan ketika melihat Gondrek. Allah betapa Maha Adil, membukakan jalan kepada siapa saja yang bersungguh-sungguh mencari dan menjalaninya.

Momen terakhir pertemuan saya pada 2019, ketika bertemu di salah satu rutinan Bangbang Wetan. Dia dulu berpenampilan sederhana, dengan rambut gondrong dan layar gadget yang pecah-pecah, terus rusak, dan dia tampak mensyukurinya, tampak tenang saja meskipun tak punya gadget.

Gondrek hadir lagi mengobati rasa kangen saya kepadanya ketika Bangbang Wetan mengadakan Majelis Shalawat dan Wirid Rolasan, beberapa waktu lalu. Dia tampak lebih segar, dengan potongan rambutnya lebih rapi, kumisnya dicukur, dan ketika bertegur sapa selalu disertai senyuman yang dirasakan tak basa-basi.

Pada berakhirnya acara shalawat itu, Gondrek tak pulang dulu. Dia ikut nyangkruk, ngobrol, guyonan bersama teman-teman Bangbang Wetan yang lain. Gondrek menawarkan jasa untuk memijat, ketika salah dua dari teman-teman Bangbang Wetan sambat badannya sakit semua. Gondrek memijat pusat rasa sakitnya dengan menyebutkan permasalahan atau sebab dari rasa sakit yang diderita teman itu. Sepertinya ilmu titen-nya juga Gondrek gunakan ketika memijat. Bahwa kalau sakit pada posisi tertentu disebabkan karena banyak pikiran, dan kalau sakit di sebelah yang lain karena banyak terkelabui malima: dilarang mateni (membunuh), dilarang maling (mencuri), dilarang madon (berzina), dilarang mabok/madat (kecanduan minum-minuman keras), dilarang main (berjudi). Titik-titik tubuh yang sakit beserta penyebabnya Gondrek yang tahu. Saya hanya menyaksikan dan berusaha mengingatnya.

Sambil memijat, ada teman lain yang sedang menunggu antrean pijat, menanyakan ke Gondrek, bagaimana cara dan obatnya ketika kita menghadapi masalah yang bertubi-tubi? Sambil memijat, Gondrek menjawab dengan mengutip khasanah kehidupan Nabi Ayyub As. Ternyata Gondrek sekarang sudah mendalami dan belajar banyak khasanah Islam, terutama sejarah para Nabi. Gondrek menyampaikan bahwa lantaran kesabarannya ketika diberi penyakit, maka Nabi Ayyub mendapat kemuliaan menjadi Nabi, yang dapat menjadi teladan kita untuk menentukan sikap hidup. Bahwa seberat apapun ‘penyakit’ atau permasalahan yang kita hadapi, menurut Gondrek, itu adalah bagian dari cara Tuhan mensyahadatkan kita. Mengangkat kita menjadi manusia pilihan dan menaikkan derajat kemuliaan kita di hadapan-Nya.

Meminjam bahasa Gondrek, bahwa ketika kita mau bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah, itu karena kita sedang ‘disyahadatkan’ langsung oleh Tuhan, bukan oleh orang lain. Artinya kita bersyahadat karena menyaksikan langsung dalam kehidupan bahwa Allah yang utama patut kita mintai tolong dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang menjadi penolong kita melalui syafaat dan jalan Islam.

Enak to, awakdewe ‘disyahadatkan’ langsung oleh Tuhan.” Gondrek memantapkan keyakinan kami sambil memijat kami secara bergiliran.

Sampang, 29 November 2021