Dewa Kipas, Nabi Khidlir, dan Suguhan Hiperealitas

Image by PIRO4D from Pixabay

Kehebohan dunia catur ini diawali oleh kisah kesuksesan akun Dewa Kipas di aplikasi catur online yang mengalahkan seorang pecatur dengan akun GothamChess yang bergelar Internasional Master. Sedikit pengantar, kisah perterungan catur online ini viral lantaran Dewa Kipas dari Indonesia ini “dimainkan” oleh Pak Dadang Subur yang tidak memiliki gelar resmi di dunia catur nyata. Sebagai analogi, bayangkan saja tiba-tiba tim bola antarkampung mendapat kesempatan tanding persahabatan dan kebetulan bisa menang lawan Everton.

Setelah mengalahkan GothamChess, akun Dewa Kipas lalu di-banned oleh pengelola aplikasi dengan tuduhan melakukan kecurangan. Pengurus aplikasi catur online menelanjangi secara statistik bahwa susah bagi seorang yang tanpa gelar untuk menang dengan catatan menakjubkan. Sebelum mengangkangi GothamChess, tingkat akurasi Dewa Kipas ini sering di atas 90%. Bayangkan lagi, seorang striker Tarkam yang melawan Everton tadi selalu berhasil membawa bola dan menggiring melewati para pemain-pemain yang kerap berlaga di Liga Inggris. Si striker kampung dicurigai bermain dengan skill dalam game playstation.

Setelah ramai di media sosial, banyak pihak yang turut “mengendarai gelombang pasang”. Salah satunya youtuber mantan pesulap yang mengolah dan mempertemukan argumen sana sini, hingga Percasi serta salah satu pecatur terbaik Indonesia Grand Master Wanita Irene Kharisma turun tangan. Dan terjadilah laga akbar tersebut, Pak Dadang Subur sebagai “orang di balik” Dewa Kipas melawan Irene Iskandar.

Pertandingan itu disiarkan langsung di akun eks-pesulap dengan 1 juta lebih penonton, termasuk saya dan rekan sekantor yang rela menunda pekerjaan dari atasan, lalu atasan menyela, dan bukannya marah, malah juga ikutan melihat, meski sebentar. Laga itu juga dikomentari oleh pecatur terbaik Indonesia saat ini GM Susanto Megaranto serta Chelsie Monica Sihite, pecatur wanita yang sempat membawa tim Indonesia bersama Irene, Dita, dan Medina menjadi runner-up Piala catur tim Asia. Laga Irene vs Dewa Kipas juga di-mention langsung oleh FIDE (Fédération Internationale des Échecs) di akun twitter resmi federasi catur dunia itu. Semuanya tumplek-blek dalam satu tontonan tunggal.

Kembali ke dunia analogi kita tadi, setelah mengalahkan Everton, tim Tarkam lalu berkesempatan melawan Manchester United dan menjadi tontonan seluruh dunia. Dan akhirnya di dunia “nyata”, dari laga yang direncanakan empat babak, Pak Dadang kalah oleh Irene dengan tiga kali menyerah, lalu satu laga diputuskan untuk tidak dilanjutkan.

***

Sebuah laga spektakular lain dalam catur terjadi pada kurun 1996 – 1997. Saat di mana Garry Kasparov, pecatur terbaik saat itu, melawan sebuah mesin dari perusahaan komputer raksasa waktu itu, IBM, yang dinamai Deep Blue. Cerita yang kemudian ditulis Kasparov salah satunya melalui otobiografi berjudul Deep Thinking: where machine intelligence ends and human creativity begins. Pada pembuka chapter 3, Kasparov menulis bahwa kompetisi manusia melawan mesin sudah seperti dialog yang ada sejak ‘alat’ pertama ditemukan.

Kisah Kasparov senada namun sedikit saja berkebalikan dengan cerita pak Dadang. Jika Dewa Kipas dicurigai curang melalui bantuan komputer di pertarungan dalam aplikasi, Kasparov mencurigai Deep Blue memiliki Grand Master sungguhan yang mengendalikan mesin komputer tersebut di baliknya. (Disklaimer: tentang Pak Dadang dan Dewa Kipas adalah narasi berbeda yang harus dipisah dan akan saya tulis di bagian akhir. Para pemuja catur gardu dan penanti suara-suara dari akar rumput mohon bersabar…).

Dalam pertandingan keenam antara Deep Blue melawan Kasparov pada Mei 1997, komputer tersebut mengakhiri kedudukan seri 2,5 vs 2,5 dengan kemenangan oleh menyerahnya Kasparov. Perdebatan yang susah dihentikan dalam laga Kasparov vs Deep Blue adalah tudingan Kasparov dan pendukungnya bahwa Deep Blue terlalu manusiawi untuk sebuah mesin – chip komputer. Deep Blue dinilai bisa men-delay permainan atau mempercepat langkah dadakan, memiliki rencana jangka pandang laiknya Grand Master, serta sanggup membaca taktik muslihat kemanusiaan “langkah sembarangan” Kasparov.

Ketika manusia bertanding melawan komputer mesin dinilai melibatkan manusia di baliknya, sedangkan ketika sesama manusia bertanding mesin dinilai melatar-belakangi salah satunya. Cukup tipis kebalikannya bukan?

***

Kemungkinan bahwa akun Dewa Kipas mungkin melakukan kecurangan, susah dibantah. Kemenangan beruntun dengan akurasi setara komputer bahkan susah dilakukan Grand Master terbaik sekalipun. Mengikuti arah logika searah ini hanya menjebak pada elitisme dalam catur online itu. Yang mengikuti kasusnya tanyakan pula beberapa akun lawan Dewa Kipas yang akurasinya juga sama-sama di atas 90%. Kalau memang Dewa Kipas urik-an, kita sedang memperdebatkan kehampaan karena di beberapa kasus sedang terjadi kisah sama-sama curang alias “komputer melawan komputer”.

Narasi yang seratus persen berbeda bagi penulis dengan cerita akun catur online Dewa Kipas adalah kisah Pak Dadang itu sendiri. Keduanya harus dipisahkan. Kalau memang Dewa Kipas curang, dia hanyalah sebuah akun yang memungkinkan siapa saja bisa berada di baliknya termasuk pengelola aplikasi. Tapi Pak Dadang yang kita nilai ada di belakangnya, sedang curang atau tidak, sudah mengakselerasi realita olahraga catur menjadi satu hal yang diomongkan oleh banyak orang, dibaca kisahnya jutaan kali, pertandingannya mencetak rekor penonton siaran live terbanyak, juga atasan saya yang tidak marah justru ikut nonton bareng Pak Dadang melawan Irene, serta catat satu poin ini: kemungkinan bahwa setelah ini banyak calon pecatur tangkas muncul dan masa depan dunia catur Indonesia menjadi lebih baik.

Eling lan Waspodo dalam Batas Tipis Realitas-Fantasi

Saya ingin sedikit meminjam pesan Cak Nun dalam Metodologi Khidlir, “Kapal dirusak dan dibikin bocor-bocor oleh Khidlir demi menyelamatkannya dari kapal perampok. Itu dimensi kekinian. Terjadi sekarang. Khidlir mencekik anak kecil, karena anak ini sangat kuat kepribadiannya tapi kafir kepada Allah dan itu bisa mempengaruhi orang tua dan lingkungannya. Ini dimensi masa depan yang Khidlir bisa membacanya. Khidlir menegakkan pagar hampir roboh, karena di bawahnya tersimpan harta karun. Ini dimensi masa silam dan hanya Khidlir yang punya metodologi untuk meneliti, mengetahui, dan menyimpulkannya. Itu terminologi dalam metodologi Khidlir. Waktu tidak linier dalam kesadaran manusia. Ia berputar dalam siklus.”

Nabi Khidlir ini, juga kemudian diikuti Einstein, adalah jenis-jenis orang yang mampu melipat dimensi waktu di bayangannya sehingga membolak-balikkan logika masa kira-kira semudah memajumundurkan halaman e-book di layar Tab. Tercermin ketika Nabi Musa terengah-tergopoh saat mengikuti logika Khidlir saat merguru “topo ora takon” kepadanya.

Sebelum laga saya berharap Pak Dadang meskipun kalah tapi mampu memaksakan pertandingan hingga ke end-game seperti laga-laga catur di youtube yang cetak-cetek jam catur di satu-dua menit terakhir. Namun apa daya, tim bola Tarkam kuwalahan, lini tengah selalu dikuasai Manchester City. Pak Dadang luluh lantak oleh Irene Kharisma dalam tiga ronde. Tapi adakah yang mempertimbangkan posisi GMW Irene kebanggaan kita ini sedang bersiap untuk melakukan pertandingan di SEA-Games dan turnamen-turnamen lainnya? Apa jadinya jika Pak Dadang menang dan lawan-lawan Indonesia di future sedang mempelajari satu pemain kunci kita ini?

Ketika Kasparov kalah oleh Deep Blue, IBM dinilai menang dua kali karena kemudian profil perusahaan IBM juga naik dan merajai kebutuhan komputer di dunia salah satunya seluruh sistem pada Olimpiade Atalanta 1996, sementara program Deep Blue yang sudah didukung Kasparov tidak dilanjutkan. Dalam kronik Dewa Kipas, mungkin saja beberapa pihak terlibat dan menjadi sponsor. Apa saja detailnya sebaiknya tidak dibahas dalam tulisan ini. Dimensi present turut menghadirkan konsekuensi logis dan imbasnya bisa jadi juga langsung hadir. Satu prasangka yang mungkin berdampak positif: kampanye terselubung popularisasi percaturan Indonesia!

Pada dimensi lampau/past, kehebohan sejenak Dewa Kipas ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Tapi setidaknya sudah mengingatkan kita kembali pada fakta bahwa catur adalah olahraga rakyat yang tidak pernah absen dari warung-warung kopi dan jutaan gardu ronda di Indonesia setiap hari. Dengan satu kejutan saja kita sudah terbangunkan untuk membuka diri sembari mencoba optimis pada semua kemungkinan dalam dunia catur kita. Pak Dadang yang tidak memiliki catatan elo-rating resmi sudah melakukan lompatan yang komikal dan seolah hampir mustahil namun terjadi: berada satu meja catur dengan salah satu pecatur terbaik Indonesia.

Suguhan yang ada di media kita belakangan, tidak hanya Dewa Kipas, adalah contoh terbaik dari gambaran atas konsep Hiperalitas atau, simplifikasinya, proses pengaburan antara mana kenyataan riil dan mana yang hasil karangan fantasi. Media sosial, lewat penggunanya yang tidak bertanggung jawab memperkeruh karena melipatgandakan kekaburan antara keduanya. Cak Nun kerap berpesan untuk tidak gumunan. Tetap eling lan waspodo dan selalu berpikir holistik, bahwa daun juga terikat ranting, ranting menempel batang, batang tidak bisa tumbuh tanpa akar, akar menancap pada lahan, lahan bagian dari bumi, bumi bagian dari sistem tata surya, dan seterusnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Lainnya