Demistifikasi Fitnah Dajjal; Dekodisasi Mitos untuk Menyingkap Supra-Realita (Palsu) di Ujung Zaman

Bagian 1 dari 3 Tulisan
Image by Good Free Photos on Unsplash

Dajjal dalam folklore dan revelasi Wahyu; Fase Prediktif

Maha Guru Sejarah Al-Maghfurlah Mbah Yai Agus Sunyoto Allah Yarham, menjelang tutup usia di akhir pengabdiannya kepada umat pernah berpesan: “jangan pernah meremehkan mitos dan folklore dalam upaya pengungkapan fakta sejarah”.

Wasiat beliau ini menjadi semakin relevan bagi siapapun yang ingin mengungkap eksistensi Fitnah Dajjal dalam lintasan sejarah umat manusia.

Tak kurang dari Gusti Kanjeng Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sang Nabi Pamungkas, beliau sendiri pun menyampaikan dalam berbagai matan dan jalur sanad, yang pada intinya fitnah Dajjal merupakan salah satu pesan universal yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Adam Alaihissalaam sampai dengan beliau, kepada umat mereka masing-masing.

Tentunya, pesan universal kenabian ini disampaikan kepada seluruh umat manusia, di berbagai zaman dan lokasi, serta tatanan budaya, yang berbeda-beda.

Hal ini barangkali menjelaskan mengapa secara antropologis, terdapat kesamaan folklorical yang nyaris universal di hampir semua peradaban manusia, berupa:

Pertama, adanya masa lalu yang gemilang dan sakral.

Kedua, derita “masa kini” yang sarat dengan nestapa dan diisi dengan jatuh-bangun pergulatan kebaikan dan keburukan.

Ketiga, masa huru-hara apokaliptik yang menjadi puncak penderitaan di mana keburukan dan kejahatan seolah-olah menang dan jumawa.

Keempat, munculnya sosok jahat pemimpin suatu lingkar konspiratif yang akhirnya terungkap sebagai sutradara dari semua huru-hara tersebut.

Kelima, munculnya sosok kesatria milenarian yang menumpas seluruh kejahatan itu, dan memenangkan kebenaran sekaligus memenuhi nubuat eskatologis secara paripurna.

Folklore dan Nubuwwah; Kontradiksi atau Penggenapan?

Jika disimak dengan saksama, seluruh narasi tersebut meskipun dikemas dalam encoding bahasa dan locus serta narasi budaya yang berbeda-beda, nyaris semuanya memiliki narasi inti yang terlalu universal untuk diabaikan begitu saja. Apalagi dipaksakan untuk hanya bisa (atau hanya boleh) dipahami sebagai narasi lokal yang primitif.

Bahkan, sejatinya, narasi-narasi tersebut justru jauh dari primitif, karena kebanyakan dari narasi folklorical tersebut justru bersifat prediktif dan bahkan antisipatif. Artinya, berorientasi masa depan.

Sebut saja mulai mitologi nordik Ragnarok, atau epos klasik Asia Selatan mengenai sosok Avatar dalam era Kalki Yuga (keduanya sudah disadur dalam karya sinematografi/animasi entertainment “modern”), hingga Jangka Jayabaya, dan tentu saja Serat Kalatidha gubahan Raden Ngabehi Ronggowarsito, antar-narasi tersebut meskipun berbeda zaman dan budaya, namun memiliki berbagai titik sentuh atau bahkan daerah irisan yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Kesemua narasi budaya tersebut bahkan seolah mewakili upaya paralel dan kolektif umat Manusia, dari berbagai zaman dan tempat, untuk mencoba membaca arus zaman di masa depan, yang boleh jadi bersumber dari satu sumber wisdom yang sama di masa lalu, yakni hikmah nubuwwah.

Fungsi narasi Nubuwwah dalam hal ini adalah bukan untuk menafikan folkloric narratives “lokal” mengenai zaman Fitnah, namun justru untuk meningkatkan presisi dan akurasi dari narasi-narasi tersebut, bagi kebaikan umat manusia agar selamat dari potensi bencana tersebut.

Sebut saja presisi dan akurasi teologis, teleologis, biografis, dan geografis, dalam Surah Al-Kahfi sebagai perisai menghadapi Fitnah Dajjal tersebut, berikut ayat per-amtsalan dengan rujukan Hidro-Oseanografis untuk menegaskan transendentalitas kedalaman ad infinitum Kalam Ilahi (sebagai lawan superior dari kedangkalan ad nauseam temporal “kalam dajjali”), dan lain sebagainya.

Sinergi Serat, Syarah, dan Nubuwwah; Urusan Presisi

Timing adalah segalanya. Mulai dari menentukan kapan saat yang paling tepat untuk menyeruput secangkir kopi, sampai membaca tanda-tanda akhir zaman.

Untuk urusan kopi, terlalu cepat lidah melocot melepuh, terlalu lambat, akan hambar, anyep dan tak berkesan. Itu untuk urusan kopi. Precise timing mutlak perlu. Apalagi untuk urusan zaman? Karena toh zaman itu sendiri adalah waktu bukan?

Perlu waspada, agar kita tidak hanya melongo saat golden momentum itu berlalu menghilang begitu saja, yakni saat ketika kita harus beralih dari mode prediktif, ke fase berikutnya, yakni mode konfirmatif dan pro-aktif, ketika yang diprediksi sudah tiba. Di sinilah fungsi serat berhenti, dan pusaka nubuat masuk berperan.

Ini penting karena timing failure alias gagal timing akan melahirkan gagal paham yang dampaknya sangat fatal.

Sebut saja fitnah yang menimpa sebagian besar umat Yahudi. Berabad lamanya mereka memohon agar diturunkan kepada mereka Al-Masih, Sang Juru Selamat, sebagai Raja Pamungkas bagi Bani Israel, terlebih setelah kepahitan panjang di periode Kanisah Kedua (Second Temple Period) pasca Babylonian Exile.

Berlembar-lembar ketuvim ditulis sebagai bagian dari narasi Tanakh sebagai commentaries alias Syarah (dalam Bahasa Arab huruf ta’ dibaca marbutoh), atau Serat (dalam Bahasa Jawa huruf ta’ dibaca “t” Latin). Scrolls demi scrolls.

Namun apa hendak dikata, tatkala beliau yang dimohon-mohon akhirnya tiba sebagai sebuah Mukjizat yang agung dari-Nya, sejumlah besar dari kaum yang sama malah mendustakan dan menganiaya serta melancarkan persekongkolan jahat kepada beliau.

Nasib yang sama sebelumnya juga menimpa Kanjeng Nabi Yahya bin Zakariya. Beliau gugur sebagai martir di atas jalan kebenaran. Suatu nasib yang kemudian juga menimpa Sayyidina Imam Ali ibn Abi Thalib Sholatan wa Salaman ‘Alaih. Kedua muqarrabiin ini memiliki kesamaan, yakni gugur di zaman-nya masing-masing sebagai korban mahar dari suatu perkawinan yang dimurkai-Nya.

Seusai peristiwa-peristiwa ini, Yang Maha Kuasa segera menurunkan murka-Nya kepada kaum prophecide ini, dengan membiarkan kekuatan Romawi pagan meng-invasi dan memporak-porandakan Yerusalem.

Invasi ini mencerai-beraikan unsur-unsur yang ingkar dari kaum ini, kembali menjadi diaspora setelah sebelumnya sempat dimuliakan-Nya dengan Exodus di bawah Kanjeng Nabi Musa, dan diberi Tabut Perjanjian serta Kerajaan Daud dan Sulaiman. Namun kaum ini tak kenal bersyukur.

Kesilapan yang sama diulangi lagi oleh keturunan mereka dari diaspora Bani Israel 5 abad berikutnya. Singkat cerita, sebagian kabilah Israel yang terusir dari Yerusalem tadi akhirnya menetap di Yatsrib, Semenanjung Arabia, menanti-nanti datangnya Rahmat bagi Semesta, Nabi Pamungkas bagi Ummat Manusia, penutup seluruh sejarah Wahyu.

Syahdan, sebelum ketibaan Nabi Pamungkas itu, kabilah-kabilah Yahudi yang menetap di Semenanjung Arabia senantiasa sesumbar kepada sepupu Arab mereka (yang saat itu masih pagan), bahwa ketika Nabi Pamungkas itu hadir, maka Bangsa Israel akan menjadi pembelanya dan menjadi Bangsa Pilihan kembali, mengalahkan seluruh Bangsa di dunia, termasuk Bangsa Arab.

Namun apa hendak dikata, ketika Sang Nabi yang dinanti-nanti itu muncul, alih-alih dibela dan ditaati, justru kembali mereka dustakan dengan berbagai kilah dan alasan. Sampai-sampai akhirnya unsur yang ingkar kepada-Nya dari kaum ini diabadikan sebagai Al-Maghdhub (yang dimurkai) dalam Surah Al-Fatihah, dan siapapun yang mengikuti jalan mereka, disebut dengan gelaran Ad-Dhaalliin (yang dibiarkan tersesat) di ayat yang sama.

Melorot dari status umat Pilihan, menjadi Mantan. Maqam yang paling dibenci generasi muda lintas sekat suku, agama, ras, dan antar golongan.

Fatal bukan? Tentu saja. Bahkan, kegagalan timing untuk move on dari prediksi menjadi realita (ketika yang diprediksi itu tiba), bisa sampai pada taraf membalik si dia yang semula innocent, menjadi pemeran antagonis dalam narasi tersebut. Tentu ini bukan suatu risiko yang ringan.

Belum lagi kegagalan paham ini akan membuat si penanti beralih, dari yang semula ajeg di ranah kegembiraan dan optimisme menjemput kebahagiaan (karena akhirnya akan berjumpa dengan yang dinanti), menjadi penantian hampa tanpa akhir. Ini mengingatkan kita pada sosok Vladimir dan Estragon dalam lakon Menunggu Godot (Waiting for Godot) gubahan Samuel Beckett.

Dalam lakon itu, kedua sosok ini saling bertanya kepada satu sama lain, “kapan ia tiba?”. Jawabannya, “Mungkin besok…”. Kemudian kesunyian yang hampa. Demikian seterusnya berulang lagi dan lagi. Lalu sunyi dan hampa.

Bahkan, bagi mereka-mereka yang gagal bertransformasi dari prediktif menuju konfirmatif saat yang dinanti itu telah tiba, ada konsekuensi yang lebih fatal dari sekadar penantian Godot yang fiktif. Yakni berjumpa dengan Dajjal.

Ingar-Bingar “Modernitas” (dan “Post-Modernitas”) serta Urgensi untuk Mengenalinya Sebelum ia Muncul

Tanpa perlu berlama-lama dalam membahas aspek linguistik dari nama sosok ini, makna kata Dajjal dalam rumpun bahasa Semitik berasal dari dajlatun (Arab) yang bermakna deception/penyesatan, atau daggala (Syriac) yang bermakna sama, yakni deception/penyesatan.

Memang, sosok ini membawa Supra-Realita, tapi Palsu. Yang rapalan sirep-nya mampu menyulap siapapun yang ridha kepadanya menjadi ibarat mayat, hanya jasad saja, tanpa ruh, dan akhirnya hanya bisa melihat materi saja, dan buta akan hakikat. Alias, materialisme.

Secara skriptural, dan Anda boleh pilih skriptur suci dan tradisi profetik Abrahamik mana saja yang akan Anda kutip, karena niscaya Anda akan temukan nubuat mengenai Sang Dajjal ini, dimana ia dilukiskan sebagai sosok yang akan memalsukan dan me-materi-kan semua hal yang ia sentuh.

Pertama-tama, tentu ia akan memfitnah Al-Masih Alaihissalaam dengan penisbatan-penisbatan yang tidak mustahak karena ia akan jumeneng sebagai Anti Al-Masih atau (Bukan) Masih, alias Versi Yang Palsu.

Kedua, sosok ini akan menciptakan banyak pertentangan-pertentangan dengan menggubah sulapan-sulapan yang menyesatkan dalam ranah kognitif manusia. Singkatnya, ia akan menumbuh-suburkan menjamurnya Mafahim (paham-paham) yang saling bertentangan dan saling laknat satu sama lain.

Ketiga, setelah sukses melahirkan Mafahim, sosok ini akan menciptakan Malahim.

Sosok ini ahli menciptakan kondisi yang menggiring setiap aliran Mafahim menjelma menjadi entitas-entitas berbasis kuasa material-industrial yang siap untuk memberlakukan mobilisasi umum di wilayah masing-masing, guna menyulap manusia untuk menjadi kombatan guna digiring menuju tahapan berikutnya, yakni Malahim atau peperangan-peperangan.

Ingat Kalabendhu dan Kalatidha? Bagaimana dengan “Perang Dunia” I dan II, dan seterusnya di era yang berlabel formal “Perdamaian”?

Keempat, sosok ini akan memproyeksikan kuasa istidraj-nya ke semua dimensi kehidupan manusia, baik di darat, di laut, di udara, antariksa, dan tentu saja, dunia maya (yang terakhir ini bahkan ia sutradarai sendiri penciptaannya).

Singkatnya, sosok ini menyurup ke dalam, dan menjadi sinonim dengan, “modernitas”.

Tiada satu-pun yang bisa lari dari “modernitas” ini, dan sebagaimana Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi wa Sallam telah bersabda, bahkan tak ada satu-rumah pun yang tidak dimasuki oleh (pengaruh) Dajjal.

Penyurupan sosok ini begitu sempurna, sampai-sampai inflitrasi-nya tidak berhenti di “Modernitas, karena “Post-Modernitas” pun tak luput dari kooptasinya.

Sosok ini mampu menguasai diskursus, karena ia hadir menyurup di semua perspektif, baik thesis maupun anti-thesis, bergerak dengan lincah bagaikan angin, karena apapun yang ia katakan (atau ciptakan) saat ia berdiri di suatu sudut pandang, akan ia iringi dengan penciptaan yang sama dari sudut pandang yang berlawanan.

Tujuannya adalah sintesa dari dialektika Mafahim, yang kemudian ia sulap menjadi lapisan Realita Palsu berikutnya yang berisi Malahim. Demikian seterusnya, lagi dan lagi.

Urgensi Dekodisasi Supra-Realita (Palsu) bagi Kemanusiaan

Dapat dibayangkan, bahaya yang mengancam apabila kita terus menempatkan encoding ini sebagai narasi prediktif, ketika ia sebenarnya telah hadir sebagai Realita, dan menciptakan lapis demi lapis Realita Palsu.

Dalam prosesnya, ia melapisi dirinya dengan mantel simulakra sehingga tidak satu pun dari kerusakan yang ditimbulkannya di muka bumi, ternisbatkan kepadanya.

Barisan demi barisan dari penopang Fitnah ini, stumbling upon one another, generasi demi generasi, berebutan dengan penuh ambisi untuk memerankan peran menjadi Al-Maghdhub, atau Ad-Dhalliin, untuk kemudian digantikan generasi berikutnya, dan seterusnya. The higher you are in this predatory pyramid, the better the salary.

Sementara 99 persen umat manusia sisanya dikorbankan oleh sistem yang anthropophagis ini.

Mereka yang 99 persen umat manusia inilah yang memadati kota-kota besar, miliaran berdesakan sesak napas tercekik pekatnya karbon monoksida dan uap logam berat industrial, terpapar beragam radiasi dari UV hingga emisi elektromagnetik miliaran sel mini bernama ponsel, dengan upah yang terus menyusut karena inflasi, berbanding terbalik dengan utang yang terus membesar, dengan kemiskinan ekstrem (dan kebodohan) yang diwariskan.

Sebagian mengambil jalan pintas menghamba sebagai budak Al Maghdub atau Ad Dhalliin dalam suatu tatanan dimana modal kapital dan kekuatan produksi menjadi berhala sesembahan, dan sebagian lagi dibius dengan candu pseudo-ilmiah yang dibumbui dendam-kesumat, yang ujung-ujungnya hanya mereduksi sejarah menjadi pertarungan antar kelas. Keduanya adalah materialisme yang melupakan-Nya.

Sebagian lainnya, tertatih-tatih mencoba merambah dimensi kerohanian tanpa sanad ilmu, sehingga terjerumus ke dalam ekstremisme atas nama “Tuhan”, dalam suatu “materialisme beragama” yang kejamnya bukan kepalang, dan seolah menjadi aktor yang mengkonfirmasi tuduhan seolah Wahyu identik dengan keterbelakangan, kebodohan, arogansi, dan kerusakan.

Jika ini belum dirasa genting, entah apakah definisi genting itu. Jika ini belum dirasa urgent, entah apakah makna kata itu.

Penutup

Tulisan ini sengaja disusun untuk memberikan kontribusi bagi umat dan Kemanusiaan. Khususnya untuk memutus vicious circle terhalangnya kita sebagai sentient beings dari proses rasional yang seharusnya kita lakukan untuk menerjemahkan peringatan ini (baik dalam konteks Wahyu maupun folklore) menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi Kemanusiaan. Untuk membebaskan Kemanusiaan dari belenggu Kepalsuan ini.

Namun karena narasi ini mencakup flashback (and forth) dalam periode sekurang-kurangnya lima sampai sepuluh milennium, maka tulisan ini sengaja dibuat berseri, agar memberikan waktu kepada para audiens, millennial or otherwise, untuk mengendapkan, mengolah, dan meng-ekstrak intisari dari ilmu tua ini.

Hari telah sore, sang surya sebentar lagi tergelincir turun di cakrawala, dan bayangan-bayangan telah semakin lebih panjang dari wujud aslinya.

Mari kita lanjutkan di percakapan berikutnya Insya Allah.

Lainnya