Dar-Der-Dor Bandar Undang-Undang

Photo by Skitterphoto from Pexels.

Universitas Chicago berduka. Baru dua minggu menginjak 2021, terjadi penembakan acak. Salah satu korbannya: Yiran Fan, mahasiswi S3 Fakultas Bisnis dan Ekonomi. Pelakunya: Jason Nightengale.

Begitu tahu korbannya Yiran Fan, istri saya bilang kalau nama itu tidak asing. Setelah tahu kalau lokasi kejadiannya di Apartemen Regents Park, lamat-lamat saya jadi ingat.

Musim panas lalu, saya mengambil meja dan rak kecil yang dijualnya. Yang kini berdiri manis mengisi sudut apartemen kami.

Tapi saya tidak sempat bertatap muka dengannya. Hanya lewat Venmo — aplikasi kirim uang instan milik PayPal. Yiran meletakkan barangnya di luar kamarnya, saya tinggal angkut usai transaksi lunas.

Sore itu, Sabtu 9 Januari, langit Chicago sendu. Matahari jarang nongol di musim dingin di Midwest. Salju pun ikut pelit turun.

Yiran sedang berdiam di mobil, di parkiran apartemennya. Di bilangan Hyde Park — sebuah “kecamatan” di selatan kota, tempat Universitas Chicago berada. Ia menghangatkan diri.

Entah dari mana, Jason lewat menenteng pistol dan melihat ada seseorang di balik kemudi dalam salah satu mobil. Dia mendekat, dan Dor! Yiran tewas seketika. Jason dan Yiran tidak saling kenal.

Dari parkiran, Jason berjalan 50 meter ke barat, melintasi gedung apartemen lain. Ia menoleh ke sana, dan masuk.

Umumnya apartemen di sini, untuk menuju lobi harus lewat dua pintu. Di antara dua pintu itu ada ruang kotak surat. Saat masuk ruang itu, Jason berpapasan dengan seorang nenek 77 tahun yang sedang ambil surat, dan ditembaknya.

Lalu ke lobi, ada sekuriti perempuan, dia tembak juga, dan meninggal kemudian di rumah sakit.

Keluar dari sana, Jason masuk ke gedung apartemen sebelahnya. Dilihatnya ada seorang laki-laki, ia tawan dan geret ke apartemennya.

Kali ini laki-laki itu tidak ditembak. Hanya kunci mobilnya direbut. Mobilnya dibawa kabur. Jason melesat ke selatan. 

14 kilometer ditempuh dengan mobil curian. Sampailah di sebuah toko di jalan Halsted — jalan ikonik, lurus membelah kota Chicago dari selatan ke utara sepanjang 50 kilometer.

Jason masuk toko itu, berlagak merampok. Ia menembak mati seorang pemuda 20 tahun. Seorang nenek 81 tahun pun ditembaknya — kondisinya kritis.

Kabur dari sana, ia lebih ke selatan lagi. Dilihatnya seorang gadis 15 tahun bersepeda. Tanpa pikir panjang ia tembak perempuan itu yang menyebabkan kondisi kritis.

Ia putar balik, melewati toko yang ia “rampok” tadi. Sambil melintas, ia menembaki mobil polisi yang sedang menginvestigasi TKP. Lalu melaju 50 kilometer jauh ke utara.

45 menit, ia tiba di “kecamatan” Evanston. Dengan acak masuk sebuah toko di sana, berlagak merampok lagi, dan beberapa kali melepaskan tembakan. Lalu kabur ke restoran pancake di seberangnya dan menembak seorang perempuan di sana.

Keluar dari restoran, ia berpapasan dengan polisi, dan tembak-menembak terjadi. Jason akhirnya tersungkur tewas sore itu, setelah beberapa jam beraksi.

Belakangan disinyalir kalau penembak berdarah dingin ini tampaknya memiliki ketidakstabilan mental. Ia sering mengunggah lusinan video di Facebook.

Secara eksplisit beberapa kali ia pernah merekam calon korbannya. Seseorang yang sendirian di mobil, atau berjalan ke mobil. Dalam video lain ia mengoceh kesal sambil mengemudi. Di jalan ia melihat seorang perempuan dan ia bilang mungkin akan menembaknya. Dan video-video lain yang menunjukkan gangguan mentalnya.

Benar-benar tidak ada motif saat pemuda yang tinggal di pinggiran utara kota Chicago beraksi di hari Sabtu itu. Polisi juga menegaskan ini tidak berkaitan dengan situasi politik akhir-akhir ini.

Saya kira dia berasal dari selatan kota, tempat bersarangnya para gangster, yang setiap musim panas saling serang. Tentunya saling bedil. Tapi Jason ini tinggal di utara, yang atmosfer kehidupannya tidak sekeras selatan.

Pertanyaan yang selalu muncul kemudian adalah, bagaimana orang dengan ketidakstabilan mental seperti Jason ini bisa punya senjata api.

Tapi hanya pertanyaan demi pertanyaan yang akan ada setiap penembakan massal terjadi di Amerika. Meskipun berulang kali juga banyak sekali korban anak-anak yang tewas ditembak di sekolah.

Mengapa begitu sulit aturan kepemilikan beceng untuk warga umum di sini diperketat — alih-alih dilarang.

Ini hanya salah satu wajah demokrasi Amerika. Sebuah negara swasta, yang sejatinya berperilaku mirip perusahaan. Berkebalikan dari Selandia Baru, yang akibat satu kejadian penyerangan Masjid di sana, undang-undang kepemilikan senjata api langsung direvisi, diperketat.

***

Ongkos demokrasi di Amerika sangat mahal. Mungkin juga Indonesia. Sama-sama mahal, sesuai ukuran masing-masing.

Seperti dua teman dekat saya. Keduanya pernah mencoba maju menjadi anggota DPR pusat. Yang pertama di Jawa, habis 2 miliar rupiah. Yang satunya di Sumatera, perlu ongkos 3 miliar. Dan dua-duanya gagal.

Demokrasi Amerika adalah cara mengelola negara bareng-bareng antara Presiden, Kongres, Mahkamah Agung. Berperan sebagai Eksekutif, Legislatif, Yudikatif.

Mereka-mereka ini bekerja mewakili rakyat, untuk mengurus rakyat. Mereka hidupnya sejahtera karena digaji rakyat. Rakyat adalah semua komponen yang menjadi warga Amerika. Termasuk perusahaan.

Orang-orang yang menjabat dalam masing-masing posisi itu, untuk bisa ke sana butuh modal. Setidaknya untuk mengenalkan diri mereka kepada rakyat. Biaya kampanye ini tinggi sekali.

Anggaplah Anda seorang perempuan menjelang usia 30 tahun. Bekerja di restoran dengan gaji pas-pasan yang habis untuk biaya hidup. Lalu mendapat ilham ingin berjuang memperbaiki nasib diri dan banyak orang.

Anda berpikir ada yang salah dari sistem sosial yang dibangun dengan arsitektur kapitalis ini. Dan kesalahan itu bisa diperbaiki dengan membuat undang-undang yang adil. Niat mulia itu Anda wujudkan dengan menjadi anggota DPR.

Anda mengetuk pintu satu per satu rumah puluhan ribu warga, untuk minta tanda tangan dukungan — sebagai syarat nama Anda tercantum di surat suara. Anda rajin bertemu mereka, berjam-jam ngobrol dengan mereka.

Sementara lawan di daerah pemilihan Anda seorang pengusaha kaya. Anggota DPR, sedang menjabat tiga periode. Yang ternyata tidak tinggal di dapil itu.

Rasanya kok mirip banyak anggota DPR RI yang sepanjang kariernya sehari-hari di Jakarta, tiba-tiba mewakili rakyat dapil Wakanda.

Tapi Anda berjuang sekuat tenaga. Minimal 50 persen plus satu dari warga dapil mendukung Anda. Dan ternyata menang. Perjuangan berhasil.

Ternyata Anda adalah Alexandria Ocasio Cortez. Anggota Kongres dari kota New York. Dana kampanyenya murni sumbangan rakyat dapilnya. Kecil-kecil nilainya tapi buanyak.

Sayangnya dia hanya segelintir orang dari 535 anggota Kongres Amerika. Yang lain, harus ada bandar besarnya. Butuh pemodal.

Perlu diingat, bandar juga rakyat. Sama-sama rakyat, sama-sama punya kepentingan atas sebuah aturan. Permainan demokrasi harus fair. Bandar pun harus resmi. Bandar itu dimasukkan ke dalam Lobi.

Lobi pada dasarnya adalah wadah yang secara resmi diakui UUD Amerika untuk menampung aspirasi rakyat dalam mensponsori sebuah undang-undang agar diproses anggota Kongres. Para pelobi bisa mewakili asosiasi atau serikat profesi atau rakyat umum dalam isu-isu spesifik.

Ingat lagi, korporasi juga rakyat. Perusahaan-perusahaan dalam bidang yang sama bersatu dan bikin asosiasi yang mereka danai. Mereka punya hak yang sama di dalam Lobi.

Maka tak heran, Lobi menjadi sebuah industri sendiri bernilai 3,5 miliar dollar, sekitar 50 triliun rupiah.

Untuk memuluskan atau mengganjal sebuah undang-undang, para pelobi harus melobi Kongres, baik anggota DPR maupun Senat/DPD. Dan simbiosis mutualisme ini sangat mesra sejak masa kampanye. Tinggal adu kuat antara para pelobi dalam mempengaruhi anggota Kongres.

Perusahaan senjata api punya asosiasi. Namanya NRA (National Rifle Association). Uang lobinya kencang sekali. Besar pula. Mereka rajin melobi Kongres.

Maka tatkala Partai Demokrat mengusung undang-undang pengetatan kepemilikan bedil, NRA melobi Partai Republik untuk menjegalnya. Mereka bahkan ada yang berlogika, untuk mencegah penembakan massal, bukan dengan membatasi pemiliknya, justru harus mempermudah kepemilikan untuk mempertahankan diri.

Kelompok yang menahbiskan diri liberal, biasanya berpandangan senjata api itu harus dikontrol kepemilikannya. Sedangkan yang konservatif, kukuh berpendirian senjata itu hak setiap rakyat, maka bebas untuk memilikinya.

Faktanya, 20 tahun terakhir ini terus dicoba dikendalikan, toh tidak berhasil juga. Bandar senjata api selalu menang.

***

Handai taulan generasi baru Jamaah Maiyah, al-mutahabbiina fillah yang kelak akan mengurus negara di Nusantara mungkin bisa menimbang, pakai demokrasi yang bagaimana.

Atau mungkin bukan pakai demokrasi. Teman-teman ijtihad bersama menemukan metode baru yang pas, yang sesuai watak, jati diri, dan senyawa Indonesia.

Kalau masih saja sama seperti politik Amerika dan Indonesia hari ini, berarti masih kena dar-der-dor para bandar.

Chicago, 19 Januari 2021

Lainnya