Bertindak Lokal, Berdampak Global

Inisiatif akar rumput kerap luput dari sorotan lembaga-lembaga dunia, meskipun para pelaku di kalangan akar rumput sebetulnya sangat dapat diandalkan dalam menghadapi perubahan iklim. Pandangan ini disampaikan oleh Romo Francis Wahono dalam agenda Sinau Bareng Mafaza yang diadakan secara daring pada Sabtu, 25 September 2021 pukul 15:00 WIB. Sinau bareng bertajuk “Klimatisasi Pangan” yang berlangsung selama sekitar 2,5 jam ini menghadirkan beberapa narasumber senior seperti Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, serta Pak Siswo Santoso.

Bahasan utama sinau bareng kali ini berkutat pada persoalan ketangguhan masyarakat nusantara dalam bidang pangan di tengah ancaman perubahan iklim global. Pak Roem Topatimasang mengawali diskusi dengan menyampaikan bahwa efek perubahan iklim global tidak bisa digeneralisasi. Aspek-aspek seperti lokasi, siklus musim maupun sistem penghidupan sangat menentukan sejauh apa sebuah masyarakat terdampak perubahan iklim global. Sebagai contoh Pak Roem mengungkapkan bahwa pertanian pangan yang sangat bergantung pada asupan dari sumber eksternal akan mengalami dampak yang lebih hebat, daripada pertanian pangan dengan sistem Wanatani atau Agroforestri. Atau misalnya efek dari badai El Nino yang sangat mempengaruhi sumber penghidupan para petani di NTB dan NTT, dibandingkan dengan para nelayan di Maluku dan Papua.

Jika dikaitkan dengan persoalan ketahanan pangan, menurut Pak Roem, paradigma yang saat ini jamak dipahami sulit untuk mampu menumbuhkan masyarakat yang tangguh terhadap ancaman krisis iklim karena ketahanan pangan didefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan dengan segala cara, termasuk membeli. Sehingga para petani didorong untuk menanam tanaman komoditas yang laku dijual, untuk mendapatkan uang guna membeli bahan pangan. Akibatnya mekanisme pasar akan sangat mempengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu Pak Roem lebih menyukai konsep kedaulatan pangan di mana masyarakat betul-betul berdaulat dalam banyak hal, mulai dari produksi hingga distribusi bahan pangan.

Romo Wahono mengelaborasi lebih lanjut perihal konsep ketahanan pangan semu tadi yang juga berdampak pada cara pandang lahan pangan. Reformasi Agraria bagi Romo Wahono kerap dipandang terlalu sempit, karena hanya berkutat pada istilah soil atau tanah, meskipun yang disebut sebagai lahan pangan juga mencakup wilayah perairan dan perhutanan. Sehingga, laut kini masih belum menjadi halaman depan sistem pangan di Indonesia.

Permasalahan menjadi lebih kompleks ketika perlakuan terhadap lahan pangan yang ada cenderung pro terhadap kapitalisme semata. Romo Wahono mengalami sendiri di tahun 70-an, bagaimana lahan-lahan pangan di daerah Karawang yang begitu luas didiamkan begitu saja hingga terjadi kelaparan di wilayah tersebut. Praktik yang terjadi adalah, para konglomerat pemilik lahan menjadikan lahan-lahan tadi sebagai modal untuk mendulang keuntungan ekonomi lainnya. Hal serupa beliau alami di Papua, di mana tanah-tanah adat diambil alih untuk alasan politik dan ekonomi, kemudian sengaja “setengah” ditelantarkan, hingga pemerintah membangun infrastruktur. Pada akhirnya, masyarakat kehilangan lahan yang menjadi sumber penghidupan mereka sejak lama, dipaksa untuk mengikuti mekanisme pasar.

Lebih lanjut, persoalan lahan tadi menurut Romo Wahono turut berperan dalam menurunnya jumlah produsen pangan di Indonesia, di samping fenomena generasi muda yang lebih tertarik untuk bekerja di sektor perdagangan dan jasa ataupun adanya mekanisme pasar yang kerap menekan para petani. Bahkan konsep “Food Estate” yang difungsikan untuk mengatasi turunnya produksi pangan pun bagi Romo Wahono tidak jauh berbeda dengan konsep penguasaan lahan oleh para kolonial di zaman dulu, di mana peran krusial dari para produsen pangan kecil-kecil yang beragam dan jumlahnya banyak dikesampingkan.

Berkaca pada kompleksitas yang sebelumnya dijabarkan, Pak Siswo Santoso mengusulkan adanya komune-komune kecil yang berani untuk berdaulat, mendobrak tatanan atau sistem pasar yang ada saat ini, mendefinisikan ulang secara mandiri permasalahan riil yang mereka hadapi. Pak Sis juga mengharapkan adanya peran aktif generasi muda yang memiliki keunggulan pengetahuan yang bisa bermanfaat secara konkret bagi masyarakat.

Sejalan dengan ide Pak Sis, menurut Romo Wahono lembaga-lembaga besar dengan bermacam modal kuat nyatanya hingga kini tidak berdaya menghadapi krisis iklim. Bahkan tidak jarang mereka merusak tatanan baik yang sudah ada di masyarakat. Sehingga jika ada yang bertanya mengapa berbagai program dan suntikan dana dari lembaga-lembaga donor dalam rangka menghadapi krisis iklim tidak memiliki dampak nyata hingga sekarang, perlu diajak untuk melihat sejauh apa kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat didukung dan diberikan ruang untuk berperan.

Pak Roem menambahkan bahwa salah satu hal yang bisa dilakukan oleh kalangan muda dalam skala kecil adalah bagaimana mendekatkan lagi masyarakatnya dengan alam. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengetahuan alam petani Indonesia zaman sekarang sangat tereduksi akibat intrusi budaya instan atau budaya serba beli yang membuat petani sangat bergantung pada industri pupuk, benih, pestisida, dan sebagainya. Anak-anak muda yang memiliki kelebihan di bidang ilmu dan wawasan dapat mendampingi masyarakat untuk secara serius memperbaiki fundamental pranata sosialnya.

Generasi muda jangan hanya berfokus pada agrobisnis, namun juga perlu mendalami aspek agrikultur yang sejatinya bisa membantu petani menghadapi krisis iklim. Pak Roem juga mendambakan adanya kolaborasi antara institusi pendidikan dengan masyarakat yang secara konkret memberi bantuan tepat guna bagi petani, misalnya pengumpulan dan analisis data micro climate lahan pangan yang dapat secara mudah dilakukan dengan bantuan teknologi dan ilmu yang dimiliki oleh para akademisi.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat zaman dulu menurut Pak Roem tidak perlu lagi didikotomikan dalam istilah lokal atau tidak lokal. Sedangkan bagi Romo Wahono sendiri, ilmu timbul dari realitas. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa yang muncul dari barat lebih unggul daripada yang muncul dari timur. Secara nyata warisan dari para leluhur sudah teruji sejak ratusan tahun dan perlu untuk terus digali dan dikembangkan. Tidak ada salahnya juga mengawinkan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab kerumitan persoalan di masa sekarang.

Bisa jadi berbagai ironi dan keruwetan yang terjadi dalam dunia pangan di Indonesia saat ini tidak semata-mata karena pengaruh kapitalisme, namun juga karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang alam yang ada di sekitarnya. Jika tanaman langsung dilihat sebagai keuntungan ekonomi, maka masyarakat akan terus terjebak dalam lingkaran setan kapitalisme. Maka menurut Pak Roem salah satu tantangan besar di tengah gempuran arus modal saat ini adalah mengubah cara pandang terhadap alam, yang tidak lagi dilihat hanya sebagai sumber pendapatan melainkan sebagai sumber penghidupan.

Yogyakarta, September 2021.

Lainnya