Thoriqot Mentog

(Korèk Gambar Kucing)

Allah membuka pintu dan berjanji kepada hamba-Nya: “Ud’uni astajib lakum”. Berdoalah kepada-Ku, maka Aku astajib. Astajib itu menjawab, memperhatikan, merespons, dengan gradasi sampai tingkat mengabulkan.

Ada hamba minta rezeki. Minta jodoh. Minta tidak mempan disantet. Minta solusi atas masalahnya. Minta kelancaran penghidupan dan keselamatan kehidupan. Minta masyarakat sejahtera. Minta Pemerintah adil. Minta Negara dan Bangsa ”baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Macam-macam. Ada jutaan jenis dan tema doa hamba kepada Tuhannya.

Untuk hajat yang berbeda, Nabi dan para Ulama mengajarkan kalimat dan bunyi doa yang berbeda. Ada doa-doa spesifik, dengan akurasi tematik tertentu. Ada doa global-universal misalnya Doa Sapu Jagat. Ada banyak dzikir dengan teks wirid yang bermacam ragam banyaknya.

Ketika hamba memperhatikan bahwa “astajib lakum” tak kunjung tiba: ada yang menyalahkan Allah, ada yang putus asa, ada yang berdoa lebih banyak dan lebih khusyu’. Ada yang berpikir dan merenungi dialektika logis dari hulu-hilir doa. Allah mengabulkan atau tidak pasti ada sebab dan alasannya. Kalau tidak terkabul, mungkin Allah menganggap si hamba tidak memenuhi syarat untuk dikabulkan. Bisa kekhusyukan ibadahnya, bisa disiplin hidupnya, bisa istiqamah perilakunya atau macam-macam lagi.

Atau bisa juga karena Allah yang Maha Mengerti sebaiknya dikabulkan atau tidak. Allah Yang Maha Memahami muatan doa hambanya tepat atau tidak untuk konteks pengalaman hidupnya. Bisa jadi hamba berdoa karena ambisi, nafsu, atau keinginan yang tidak terkontrol oleh komprehensi nilai-nilai di sekitarnya.

Maka ada hamba yang menempuh Thoriqot Mentog. Ia pasrah bongkokan kepada Allah. Tidak punya paket doa tertentu. Tidak punya tema spesifik dalam permintaannya. Ia berpikir apapun saja yang ia perlukan, ia mintakan, ia dambakan — semua itu belum tentu “saleh” (pantas, pas) untuk dirinya. Maka ia hanya menghadap Tuhan, bersujud kepada Allah, rebah dan telentang di hadapan Rabb-nya, tanpa opsi apa-apa. Pokoknya terserah Allah sepenuh-penuhnya, setotal-totalnya. Dikasih atau tidak dikasih, asal Subjeknya adalah Allah, maka itulah yang terbaik untuknya. Dikabulkan atau dikasih sesuatu yang berbeda, Allah yang maha mengetahui rahasia kenikmatan dan berkah-Nya.

Si hamba tidak merasa pantas minta apa-apa dan tidak mengklaim dengan perhitungan akalnya apa yang pantas untuk dia. Pokoknya mentog. Terserah-serah Allah. Apapun saja yang Allah kasih atau tidak kasih. Apapun saja yang Allah suruh atau membiarkan. Ia hanya punya sisa dua sikap: bersyukur dan ikhlas. Apa saja. Bagaimanapun saja. Tidak ada urusan senang atau sedih, suka atau duka, bahagia atau derita. Pokoknya biar Allah 100% yang menggerakkan dan menentukannya.

Si hamba ini setiap rakaat shalat selalu membaca Surah Al-Ikhlas sesudah Al-Fatihah. Ia wiridan “Monggo, monggo, monggo”, “Nyumanggaaken, nyumanggaaken, nyumanggaaken”. ”Korèk gambar kucing, kawula ndèrèk ten wingking”.

Buku dan Merchandise