Tarian Tolak Bala Topeng Losari

Mbah Nun pernah menulis tajuk Mbah Nun berjudul Khomsun Wa Khomsun Maiyah Atas CoronaVirus. Pada poin kelima dari lima manthiq di dalamnya, Mbah Nun menuturkan bahwa Allah Swt melimpahkan Coronavirus ini bisa jadi merupakan adzab, hukuman dan balasan, atau bisa juga merupakan rahmat, ujian atau peringatan—bergantung pada pilihan, sikap, positioning yang diambil oleh manusianya sendiri.

Sabtu 24 Oktober 2020 adalah hari yang benar-benar sangat saya syukuri selama mengarungi masa pandemi yang masih berlangsung hingga sampai hari ini. Pada hari itu, saya merasakan rahmat Allah Swt yang sangat begitu mendalam, karena Dia telah mengantarkan saya untuk bisa menyaksikan dan berpartisipasi secara langsung dalam sebuah ritual tolak bala pageblug yang dilaksanakan oleh Sanggar Tari Topeng Purwakencana Losari, yang bertempat di Desa Astanalanggar, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.

Sebuah ritual penyucian diri yang khusyu, dalam rangka pencegahan dan penyembuhan atas wabah yang sangat dirasakan kerisauannya oleh masyarakat setempat. Wabah tersebut bukan hanya perihal musibah yang bersifat dan berdampak pada jasadiyah saja seperti Coronavirus sekarang ini, melainkan juga wabah atau bencana yang bersifat ruhaniyah, yaitu atas kotoran-kotoran hati yang mengandung dan menyimpan musibah yang sangat besar di hari akhirat nanti.

Acara ritual tolak bala pageblug ini terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1982 ketika keadaan sedang musim kemarau berkepanjangan. Ritual ini hanya dilaksanakan ketika keadaan sudah memberikan desakan khusus kepada manusia, agar bersungguh-sungguh berintrospeksi diri, merendahkan hati dan tulus berdoa kepada sang Maha Kuasa atas keadaan yang sedang dialaminya. Dari gentingnya keadaan yang menyebabkan acara ritual ini harus dilaksanan, bisa jadi Coronavirus yang sekarang kita hadapi ini adalah ujian, peringatan, hukuman, balasan atau bisa juga adzab yang mengharuskan kita merengek-rengek bersama untuk meminta ampunan dan kasih sayang Allah Swt. Dan salah satu bentuk rengekan-rengekan leluhur kita pada sang Maha Kuasa pada waktu itu adalah dengan ritual tolak bala pageblug secara bersama-sama.

Dalam ritual tolak bala pageblug di Losari ini, doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah Swt tidak hanya menggunakan lafal-lafal atau mantra-mantra saja, melainkan juga dengan tarian tari topeng losari. Ada tiga tarian yang dipanjatkan dalam doa tolak bala pageblug ini, yaitu: Tari Panji Sutrawinangun, Tari Rampak Klana dan Tari Klana Bandopati.

Saya jadi teringat akan tadabbur saya pada buku Markesot Bertutur karya Mbah Nun dalam bagian sub judul doa tanpa kata-kata. Saya memperoleh pengetahuan atas persepsi saya sendiri yang bisa jadi benar dan bisa juga salah, bahwa untuk berkomunikasi dengan Allah tidak harus dengan kata-kata. Bahkan banyak orang berdoa dengan lafadz-lafadz yang panjang tetapi tidak tahu maknanya. Sehingga doa bisa dipimpin oleh satu orang dan yang lainya tinggal mengucapkan aamiin saja.

Sebetulnya kita sendiri secara tidak sadar sering melakukan doa tanpa kata-kata, seperti seorang petani yang sedang mencangkul di sawah, sesungguhnya secara tidak sadar dalam proses kerja keras mencangkulnya adalah sebuah gerakan doa agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Seorang wanita memakai jilbab adalah doa tersendiri agar kehormatan dan keselamatan dirinya terlindungi. Dan alunan gamelan serta tarian Topeng Losari ini juga adalah bagian salah satu komunikasi kepada Allah Swt dalam memanjatkan doa-doa yang bisa diwakili oleh para nayaga dan penarinya.

Dalam ritual tolak bala pageblug ini, yang lebih saya kagumi adalah doa-doa tidak berhenti dengan hanya bacaan dan tarian Topeng Losari saja, melainkan juga melibatkan unsur-unsur alam yang ada sekitarnya, seperti tumbuhan dan binatang. Kita jamaah Maiyah pasti sudah tidak asing lagi, kalau binatang dan tumbuhan adalah kakak-kakak kita dalam rentetan mahluk ciptaan Allah Swt. Maka apa salahnya jika kita meminta kepada Allah Swt dengan bergandeng mesra melibatkan unsur-unsur alam yang jelas pasti tidak ada dosanya dan lebih istiqamah ketimbang kita manusia dalam memenuhi perintah-Nya.

Ada satu lagi yang sangat saya kagumi dan perlu saya tadabburi dalam proses ritual tolak bala pageblug di tanah Losari ini. Di mana dalam proses tersebut identik dengan angka tujuh. Diawali dengan puasa tujuh hari sebelum hari ritual dilaksanakan, yang pada waktu itu diwakili oleh Mba Nani Sang Maestro Tari Topeng Losari, yang pada acara ritual tersebut menarikan Tarian Topeng Klana Bandopati. Kemudian acara tersebut dimulai dengan adzan dilakukan oleh tujuh orang secara bersama-sama, dilanjutkan dengan ritual pembacaan doa atau mantra yang berjumlah tujuh, jumlah hidangan makanan yang berjumlah tujuh , dan jumlah penari juga harus berjumlah tujuh.

Dalam Khazanah Maiyah kita para jamaah Maiyah juga sudah tidak asing lagi dengan keidentikan angka tujuh. Angka tujuh tersebut selalu identik dengan salah satu Marja Maiyah, beliau adalah Cak Fuad. Sehingga secara khusus Mbah Nun membuat esai untuk beliau yang berjudul Fuadus-Sab’ah. Dalam esai tersebut kata-kata yang sangat penting saya tadabburi kembali adalah: cukup dengan angka tujuh. “tujuh saja sudah tak cukup seluruh hidup ini untuk bersyukur”. Kalau tujuh adalah simbol kecukupan, maka dalam ritual tolak bala pageblug ini adalah: cukuplah Allah harapan kami, cukuplah Allah penolong kami, cukuplah Allah pelindung kami, cukuplah Allah penjaga kami, cukuplah Allah petunjuk kami, cukuplah Allah Maha Pengampun kami, cukuplah Allah tujuan sejati kami.

Lainnya