Tabrakan, Malah Menanyakan Identitas

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Kemarin malam, ketika asyik membaca buku “Kiai Sudrun Gugat” tiba-tiba saya tersentak setelah mendengar bunyi keras antara sepeda motor yang bertabrakan di jalan depan rumah. Sontak perhatian saya dari yang semula fokus membaca buku beralih ke suara keras sepeda yang bertabrakan itu. Beberapa orang yang berada tak jauh dari tempat kejadian itu segera menolong dan meminggirkan sepeda dan orang yang bertabrakan itu — supaya arus jalan kembali lancar. Sukarelawan yang lain ada yang berinisiatif mengambilkan air minum — untuk menenangkan kembali psikologi orang yang bertabrakan itu.

Ternyata kejadian tabrakan itu bermula dari orang yang di depannya karena arus macet memutuskan menyalip dengan mengambil arus jalan kendaraan dari arah yang lain. Ketika menyalip, ia terlambat sepersekian detik, kendaraan dari arah yang berlawanan melaju semakin dekat, maka si pengendara sepeda motor ini memilih nge-rem untuk menyelamatkan dirinya dari tabrakan dengan kendaraan di depannya — dari arus yang berlawanan. Eh ladalah ketika nge-rem mendadak itu malah mengakibatkan kendaraan dari belakang menabraknya dan jatuh bersama.

Detik-detik awal tabrakan masing-masing pengendara ketenggengen (termangu-mangu) seperti tak percaya sedang mengalami tabrakan. Detik dan menit berikutnya ketika mulai menyadari dan menerima kondisi bahwa dia tabrakan — malah saling menyalahkan dan berebut pembenaran. Masing-masing merasa yang paling benar dan menyalahkan satu sama lain.

Nah menurut saya melalui situasi ketegangan seperti itu kita bisa membaca realitas hidup seseorang, apakah jujur, bijaksana atau mau menangnya sendiri. Relawan yang menolongnya mencoba menenangkan situasi dengan kalimat; ”wes pak gakpopo, podo salahe, podo ajure sepeda motore”.

Teman ojol yang merasa se-ibu pekerjaan dengan pengendara yang tabrakan itu datang tidak dengan rasa partisipasi dan peduli tapi malah mempertanyakan status pengendara itu, apakah resmi anggota salah satu penyedia layanan ojol atau hanya numpang nama saja. Sebab mungkin jaket yang dikenakan tak menunjukkan keresmian sebagai anggota.

Mendengar kejadian itu saya langsung ingat salah satu penggalan pertanyaan mendasar Mbah Nun tentang rasa manusia kita terhadap sesama manusia dan makhluk hidup. Ketika di salah satu momen Sinau Bareng kalau gak salah di Gresik 2019 yang lalu, Mbah Nun mensimulasikan bahwa kalau ada orang jatuh tertabrak, atau tabrakan, apakah untuk menolong orang yang tertabrak itu kita tanya dulu apa identitasnya? Apakah segolongan dengan identitas kita? Kalau memang segolongan bisa saja kita tolong, tapi kalau berseberangan apakah kita membiarkannya mati terkapar karena tak ada manusia yang punya rasa peduli menolongnya. Dan pertanyaan dari Mbah Nun itu saya dengar berulang-ulang hampir di setiap Sinau Bareng yang kebetulan saya hadiri.

Waktu itu sebenarnya saya kurang percaya terhadap pertanyaan Mbah Nun. masak iya zaman sekarang masih ada orang yang memandang golongan untuk menolong dan peduli? Mungkin saya terlalu membaik-baikkan keadaan yang realitasnya tak saya ketahui betul.

Tapi kalau memang tak ada, tak mungkin Mbah Nun sampai mengulangi kalimat itu di setiap Sinau Bareng yang jarak waktunya berdekatan. Saya baru ingat bahwa ingatan akan menancap jika terus diulangi.

Dan menurut Mas Sabrang insight itu baru jadi ilmu jika kita bisa menemukan konteksnya. Nah pertanyaan Mbah Nun yang tersimpan beberapa lama ternyata menyublim menjadi ilmu baru bagi saya. Ternyata masih ada segelintir orang (untuk tak menyebut banyak) orang yang baru peduli dan care terhadap orang yang segolongan dengan dirinya.

Jadi benar dari apa yang selalu ditekankan Mbah Nun kepada kita bahwa umat Islam jangankan jadi Hamba atau Khalifah, jadi manusia saja belum. Maka langkah taktis untuk menjalani hidup adalah menjadi manusia dulu. Belajar dan menggali kosmos nilai manusia. Mengerti dan memahami akal dan hati. Supaya mengerti karep Tuhan dalam menciptakan diri kita, karena kita sudah mengenal diri kita.

Dari kejadian tabrakan itu saya diberikan gambaran bahwa tak mudahnya menjadi manusia. Untuk menjadi bijaksana, masih selalu kalah dengan sikap merasa menang sendiri. Dibutuhkan sikap merasa bodoh untuk terus belajar dan bijaksana, dan sikap rendah hati untuk menciptakan harmoni rasa manusia yang saling memanusiakan dan mengerti ketepatan posisi kita kapan menjadi manusia, hamba, makhluk dan segala dimensi peran dan tugas yang lain.

Kejadiaan tabrakan, menanyakan identitas untuk mau menolong, dan adu pembenaran itu tampaknya ada benang merahnya dengan wilayah Indonesia sekarang ini?

Sekarang ini yang dapat saya lakukan adalah berpegang teguh pada paweling Mbah Nun pada Bangbang Wetan September lalu. Mbah Nun menganjurkan supaya kita terus meningkatkan intensitas bersujud kepada Allah, semoga Allah berkenan menurunkan hidayah untuk kita. Supaya tidak saling bertabrakan identitas dan berebut pembenaran sehingga mau berendah hati mengakui kesalahan, kelemahan, dan kekurangan.

Dan lahir langkah kecil: kesadaran bekerja sama melahirkan paruh (daya juang) dan kuku cakar (kreativitas) baru Sang Garuda untuk meraih makna besar bagi kehidupan kita ke depan.

Surabaya, 3 Oktober 2020

Buku dan Merchandise