Setelah “Sinau Bareng”

Di markas Maiyah Kadipiro sedang intensif dan khusyu’ dirembug lanjutan ijtihad dari “Sinau Bareng”, yang sebelumnya pernah ada era “Pengajian Tombo Ati” dll. Pengembangan bentuk dan formula Maiyahan itu diperlukan karena tiga hal.

Pertama, proses pembelajaran internal Maiyah sudah melangkah dari “tadris”, “ta’lim” dan “ta’rif”, sehingga kini harus mengelaborasi dan mengaplikasikannya dengan atau sampai ke taraf yang lebih nyata.

Kedua, tantangan problematika masyarakat di mana Maiyah bermatabolisme juga mengalami perkembangan dan komplikasi yang lebih canggih dan kompleks, sehingga memerlukan pengembangan, pendewasaan dan pematangan respons Maiyah atasnya.

Dan ketiga, khusus yang menyangkut penyadaran dan kesadaran keIslaman, Maiyah sudah tiba pada urgensi untuk menemukan dan merumuskan proses pengIslaman Ummat Maiyah secara lebih wungkul, bulat atau utuh. “Udkhulu fis-silmi kaaffah”, demikian Allah menuntun kita semua.

Tafsir dan tadabbur tentang kenapa kosakata yang dipilih Allah adalah “silmi”, dan bukan “Islam”, sudah berulangkali diMaiyahkan di banyak tempat. Juga apakah mengislamkan diri itu tekanan primernya pada “pengetahuan dan ilmu Islam” ataukah “seni” dan “cinta” Allah. Keduanya pasti sangat penting dan punya letak perannya masing-masing. Tetapi di Maiyah kita sudah membiasakan diri untuk mengetahui, merasakan dan mengalami bahwa betapa tinggi dan mulianya hamba Allah yang berilmu, tetapi pengetahuan dan ilmu bukan “tangga” utama untuk menyentuh hakikat Allah. Tentulah ini bisa diuraikan panjang lebar.

Yang “diteteskan” di sini bukan itu, melainkan buka forum untuk semua Ummat Maiyah untuk turut merenung, kalau perlu beristikharah memohon bimbingan Allah. Sesudah bertahun-tahun kita menyelenggarakan “Sinau Bareng” atau dengan variasi “Ngaji Bareng” selama ini, bahkan sudah banyak muttabi’inal Maiyah, artinya banyak forum-forum di luar Maiyah yang juga memakai formula “Sinau Bareng” – ada beberapa kemungkinan yang bisa ditempuh sesudah Covid-19 reda nanti.

Sejalan dengan idiom “Negara Desa” yang juga dicetuskan oleh Maiyah, ada gagasan berikutnya yang kita lakukan misalnya adalah “Sinau Merdesa” sebagai framing ijtihad berpikir kita bersama di negeri yang kita hidup di tengahnya. Ada juga ide misalnya “Sinau Baldatun Thayyibatun” (atau sebagaimana kebiasaan ucapan “Mauidlah Hasanah”, kita pakai langsung “Baldah Thayibah”, lama-lama orang banyak akan terbiasa. Kemungkinan lain “Majlis Ta`dib”, sebagai pewungkulan dari tahap “tadris”, “ta’lim” dan “ta’rif” yang selama ini sudah kita upayakan maksimal di Maiyah: upaya dan kesadaran agar semua ilmu dari “Sinau Bareng” selama ini kita tanam dalam kehidupan kita sebagai benih peradaban.

Atau barangkali ada ide lain dari Ummat Maiyah.

Buku dan Merchandise