Setelah 9 Menit yang Mematikan

Refleksi Jamaluddin Jufri dari Chicago (1)

Akan ada pesan khusus dari para pemain Liga Inggris kepada dunia ketika liga akan dilanjutkan hari ini, 17 Juni 2020. CNN memberitakan logo BLM akan dipasang dan nama tiap pemain diganti Black Lives Matter di setiap jersey mereka sebagai dukungan kepada gerakan tersebut.

Dua minggu gerakan protes BLM masih terus berlangsung sejak tewasnya George Floyd akhir Mei lalu, yang sekarang meluas hingga ke berbagai negara. Di Amerika sendiri, protes damai tetap dilakukan di berbagai kota meski pemberitaannya tidak mendominasi media seperti dua minggu lalu.

Ketika demonstrasi yang diikuti kerusuhan terjadi di Amerika, seorang Jamaah Maiyah di Yogya bertanya kepada saya kok bisa kejadian kebrutalan oknum polisi di Minneapolis itu memicu protes dalam skala sangat luas ke seluruh Amerika. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Kita perlu melihat dengan lensa pandang zoom out dan memahami koneksi berbagai hal yang terjadi. Juga perlu dilihat dari waktu yang mundur jauh ke belakang, setidaknya sejak 1776. Tulisan ini hanya akan mencoba memberikan tambahan konteks mengapa protes besar itu meledak.

Dua Kejadian Absurd

Dua peristiwa besar terjadi yang menyedot perhatian warga Amerika pada akhir Mei lalu. Pertama, NASA bersama SpaceX-nya Elon Musk berhasil mengangkasakan astronotnya lagi dari tanah Florida dengan roket made in America. Kedua, demonstrasi besar-besaran yang disertai kerusuhan dan penjarahan di berbagai kota di seluruh penjuru Amerika. Saya menonton dua siaran langsung kedua peristiwa ini di hari yang sama, Sabtu 30 Mei 2020.

Setelah peluncuran ditunda hari Rabu sebelumnya karena faktor cuaca, Sabtu itu dua astronot kawakan NASA berhasil diluncurkan dari tempat yang dulu ketika saya SD sering keluar dalam soal ulangan pelajaran IPS: Pusat Luar Angkasa Kennedy di Tanjung Canaveral, Florida. Tujuan peluncuran adalah uji coba kapsul berawak yang diberi nama Dragon ini untuk bergabung dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional dan kemudian kembali ke bumi dengan selamat.

Pesawat ulang alik ini masih baru. Interiornya minimalis dengan teknologi layar sentuh khas mobil listrik Tesla. Roket peluncurnya bisa kembali sendiri otomatis mendarat di sebuah kapal landasan “Of Course I Still Love You” di tengah Samudera Atlantik. Begitu membanggakannya peluncuran ini bagi warga Amerika karena mereka sudah tidak perlu nebeng roket Soyuz milik Rusia lagi kalau mau ke luar angkasa. Momen yang mengakhiri sembilan tahun nebeng ini dipandang sebagai sebuah peristiwa bersejarah.

Presiden Donald Trump dan Wapres Mike Pence datang menyaksikan langsung peluncuran yang dijuduli “Launch America” itu. Mereka berdua rela menunggu tiga hari di sana sejak Rabu. Kecanggihan roket Falcon 9 dan kapsul Dragon ini tidak diragukan lagi. Kemampuan teknologinya jauh melampaui Rusia, India, Eropa, apalagi China! SpaceX bisa meluncurkannya dengan biaya hingga 70 persen lebih murah dibanding kompetitor lain. Apalagi Elon Musk berambisi tahun 2024 sudah meluncurkan roket berawak yang bisa pergi ke Mars. Sebuah pencapaian yang akan dilihat sebagai kecanggihan manusia Amerika yang mengungguli bangsa lain di dunia. Sang nasionalis Trump tentu gembira, karena itu menunjukkan bahwa America Great Again.

Sementara siaran live peluncuran yang disaksikan lima juta penonton kanal SpaceX di YouTube itu berlangsung, pada saluran lain ditayangkan demonstrasi protes. Seminggu sebelumnya, sebuah panggilan darurat 911 dari sebuah kios di kota Minneapolis membuat polisi meringkus seseorang yang dicurigai membeli rokok dengan uang palsu pecahan $20.

Penangkapan itu direkam kamera ponsel warga yang memperlihatkan laki-laki kulit hitam telungkup di atas aspal dan tengkuk lehernya ditindih lutut seorang polisi kulit putih. Selama hampir sembilan menit ia merintih dan mengiba, “Saya tidak bisa bernafas,” hingga 16 kali. Tapi polisi itu bergeming hingga akhirnya George Floyd, nama warga kulit hitam itu, tewas. Entah apa yang ada di pikiran Derek Chauvin, polisi itu, saat melakukannya. Di kemudian hari beberapa media mengabarkan bahwa kedua orang ini saling kenal dan pernah bekerja bersama sebagai satpam sebuah diskotik. Mungkin memang pernah ada masalah antara keduanya.

Entah kekesalan apa yang membuat Floyd harus diperlakukan begitu. Apakah menyangkut masa lalu jejak kriminal ketika ia dipenjara akibat perampokan bersenjata di Texas? Atau Derek memang punya kebencian rasisme kepada selain kulit putih? Tapi bukankah istrinya beretnis Hmong, yang berasal dari Asia Tenggara yang populasinya banyak di Minneapolis dan mereka sudah berumah tangga 10 tahun?

Apapun latar belakang kejadian itu, tindakan semena-mena Derek seribu persen keterlaluan dan sangat tidak bisa diterima. Rangkaian detik demi detik rekaman berbagai kamera tentang tindakan tidak manusiawi terhadap Floyd itu bisa disaksikan di channel The New York Times.

Video itu kemudian tersebar dan sontak memicu kemarahan warga. Tidak hanya di Minneapolis, tapi di hampir seluruh kota-kota besar Amerika, termasuk kota tempat saya tinggal, Chicago. Tidak hanya warga keturunan Afrika yang marah, tapi semua etnis, semua usia, terutama anak-anak muda.

Dua kejadian besar hari Sabtu itu bagi saya memperlihatkan dua peristiwa yang absurd. Mungkin seperti produk-produk buatan Cina dulu kala dibanding buatan Jepang, tampak eksklusif dan mentereng casing-nya, tapi kualitasnya remuk di dalam. Pencapaian teknologi yang memang memukau dunia, tapi sistem kehidupan di dalam negara Amerika banyak sekali kerapuhannya.

Lockdown 309 Tahun