Sampai Bodoh Sampai Lumpuh

Ada lagu berbahasa Manado yang saya diajari orang Maluku bunyinya: “Gepe gepe dia, gepe dia sampai bodo. Gepe gepe dia, gepe dia sampai lombo…”. Kemudian refreinnya tentang kegembiraan menyanyi dan berdansa bersama.

Gepe artinya jepit. Bisa dikasuskan menjadi tindih, atau injak, yang substansinya dijepit juga. Tindih dia, tindih dia sampai jadi bodoh. Injak dia, injak dia, sampai jadi lumpuh.

Saya membayangkan di tengah diskusi perkumpulan virus-virus, Covid-19 diantarkan oleh teman-temannya untuk merayakannya barangkat menindih ummat manusia di seluruh muka bumi, sampai mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sampai lumpuh dan bodoh.

Sejak pertengahan Maret, ketika Pemerintah Indonesia mulai “engeh” pada bahaya Corona, sampai minggu yang lalu, sudah menulis tiga (3) Buku. Dua buku Esei, satu Kumpulan Puisi. Tetapi yang saya pergunakan untuk menulis paling banyak hanya sepertiga dari waktu saya. Yang dua pertiga sama saja: bodoh dan lumpuh.

Itu semua adalah kesempitan. Di luar kesempitan, kalau kau buka tabir hidupmu, terdapat keluasan, yang di dalamnya terdapat cahaya, kelahiran baru, ijtihad, dan hidayah. JM lebih pandai bersyukur dibanding mengeluh. Mengeluh adalah kesempitan, bersyukur adalah keluasan. Dari situlah keberangkatan pandangan ilmu, sikap, dan lelaku hidupnya.

Buku Lockdown 309 Tahun