Pauwan

Tetes ini merespons dan mengejar hikmah Tetes Mas Iman Budhi Santosa “Lubang Sampah”. Mas Iman adalah Guru kita semua untuk memahami “kampung halaman” kehidupan kita, di tengah perjalanan zaman di mana kita menempuh peradaban yang silang sengkarut masa silam dan masa depannya.

Bedanya Lubang Sampah di rumah-rumah desa kita dulu dengan tempat-tempat sampah di kota, di Mal, Toko atau rumah kota kita sendiri — adalah Lubang Sampah di desa kita dulu langsung mempersatukan sampah dengan tanah. Jadi secara kesadaran ekosistem, tradisi itu otentik dan langsung, tanpa berputar-putar melalui sistem besar.

Senior Maiyah yang lain Eko Winardi bahkan pernah secara sangat ilmiah dan ideologis menyatakan tidak setuju dengan idiom “membuang sampah”. Tidak ada sesuatu yang layak dibuang dalam kehidupan ciptaan Tuhan. Bahkan kata “sampah” juga tidak disetujui oleh Eko Winardi. “Allah menuntun kita untuk menyatakan Rabbana ma khalaqta hadza bathila…”. Wahai Tuhan, semua ciptaan-Mu ini tak ada yang sia-sia.

Mas Iman agak lebih moderat dengan memaparkan: “Meskipun sampah, jangan dibuang sembarangan karena manfaatnya besar bagi kesuburan tanah dan jasad renik yang hidup di dalamnya”.

Di desa dulu kami menyebut tempat sampah yang berupa tanah dilubangi empat persegi panjang itu dengan “Pauwan”. Berasal dari kata dasar “uwuh”, menjadi Pauwuhan, dioralkan menjadi Pauwan. Dalam pentas Ludruk kosakata itu sering dipakai untuk bergurau: “Wong rai pauwan ae kathik nggayaaa…”

Ketika bersekolah di SD Gontor tahun 1964 saya punya kakak kelas bernama Pauwan. Bapaknya Pak Gudel. Ketika kelak saya menjadi santri Gontor, pos mandi saya adalah “Bani Gudel”. Sekelompok “geng” Santri pagi dan sore ada di rumah Pak Gudel untuk mandi dan jajan kecil-kecilan. Ada “Bani Miran”, “Bani Ugu”, “Bani Soleh” dll. Saya warga “Bani Gudel”.

Sekian tahun kemudian si Pauwan disekolahkan oleh Pak Kiai Gontor lanjut sampai ke Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, kemudian balik ke Gontor menjadi Ustadz senior kebanggaan Desa Gontor.

Sebagaimana Mas Iman menulis buku tentang mayoritas nama desa-desa di Jawa yang dikasih nama berdasarkan nama tumbuh-tumbuhan, Mas Iman juga yang mestinya bisa menjelaskan kenapa di desa pelosok Gontor itu ada penduduk yang namanya “Gudel”, dan punya anak dikasih nama “Pauwan”. Mungkin itu impresi dari sikap rendah hati khas wong cilik Jawa. Atau “kawicaksanan” bahwa Pauwan adalah kerelaan sosial untuk ikhlas menampung yang kotor-kotor sehingga berfungsi menjadi alat menjaga kebersihan. Sekali lagi, Mas Iman Budhi Santosa yang lebih memiliki khazanah pengetahuan untuk memahami dan memahamkan kita “dunung”nya.

Buku dan Merchandise