Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4142

Nandur Kabecikan Dengan Prinsip Waltandhur

Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Lapangan Krida Utama Limbangan Kutasari Purbalingga, Senin, 27 Januari 2020

Terminologi Nandur yang merupakan bahasa Jawa membuat Mbah Nun segera teringat kata waltandhur yang adalah bahasa Arab dan termaktun di dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18. Kedua kata itu memiliki kemiripan bunyi dan langsung tampak di mata Beliau sesuatu yang dapat dikorelasikan di antara keduanya. “Aksi” tadabbur ini lantas membawa Mbah Nun menyampaikan bahwa di dalam nandur (menanam, menginvestasikan) segala sesuatu hendaknya disertai dengan kesadaran waktu. Waltandhur punya arti ‘dan lihatlah’. Selengkapnya, kalimat di alam al-Qur’an itu berbunyi: waltandhur nafsun ma qaddamat lighad, yang artinya “hendaknya setiap diri melihat ke belakang untuk proyeksi ke masa depan.”

Setiap diri perlu mengerti apa yang sudah ditanam di masa kemarin-kemarin, dan kemudian tatkala hendak menanam ke masa depan, perlu pula dipahami kira-kira pada jangka berapa tahun akan dicapai hasilnya.

Apakah berjangka lima tahun seperti pembangunan pemerintahan, ataukah seratus tahun, atau bahkan lebih dari itu. Sinau Bareng tadi malam di Lapangan Krida Utama Limbangan Kutasari Purbalingga yang diprakarsai oleh Karangtaruna Limas Putra Limbangan ini memiliki tajuk “Limbangan Manunggal Nandur Kabecikan.”

Paparan Mbah Nun mengenai nandur dan waltandhur merespons tema tersebut. Selanjutnya, untuk mengetahui apa saja yang ditandur dan becik menurut siapa, Mbah Nun meminta jamaah untuk melakukan workshop tiga kelompok yang masing-masing mendapatkan tiga pertanyaan. Pertama, kowe dewe-dewe iki sopo wae? (Kalian ini terdiri atas “siapa” saja?) Kedua, sopo-sopomu kuwi gawe becik apa wae? (“Siapa-siapanya kalian ini membuat kalian melakukan kebaikan apa saja?). Ketiga, sing tok tandur kuwi becik miturut sopo? (Yang kalian tanam sebagai kebaikan itu baik menurut siapa?).

Beragam jenis siapa dan tingkat penangkapan dan nyambung-nya terhadap pertanyaan yang diajukan muncul dari masing-masing kelompok, dan semua jamaah diajak menyaksikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya tak lain adalah metode untuk melatih meluaskan kesadaran. Umpamanya, dan ini belum muncul dalam jawaban-jawaban tersebut, Mbah Nun mengingatkan bahwa pada akhirnya becik atau apik itu adalah menurut Allah dan itulah sebaik-baik acuan yang dipegang dalam melakukan sesuatu.

Sinau Bareng Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Di atas panggung Sinau Bareng, Mbah Nun didampingi Kepala Desa Limbangan, Ketua Karangtaruna Limbangan, Camat Kutasari, Kapolres Purbalingga, Kapolsek Kutasari, Ketua DPRD Purbalingga yang sekaligus Ketua Karangtaruna Kabupaten, dan Bupati Purbalingga, serta tokoh masyarakat lain. Selain itu Mbah Nun juga ditemani Kyai Ahmad Muzammil. Keseluruhan Beliau-beliau ini duduk berjejer membentuk formasi khas panggung Sinau Bareng.

Dalam kesempatan berbicara, Bupati Purbalingga Bu Dyah Hayuning Pratiwi menyampaikan bahwa Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng ini bisa meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah banyak fenomena yang berdampak mengoyak kebhinekaan bangsa Indonesia. Bu Dyah juga meminta segenap masyarakat untuk merajut terus tali ukhuwah di antara sesama manusia, warga bangsa, dan sesama umat Islam.

Sementara itu, Ketua DPRD dan sekaligus ketua Karangtaruna Kabupaten Purbalingga, Bambang Irawan, mengajak semua hadirin untuk benar-benar memanfaatkan Sinau Bareng ini untuk menimba ilmu kepada Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Sinau Bareng di Purbalingga ini terakhir adalah tahun 2017 silam bertempat di Alun-Alun Purbalingga. Baik Bu Bupati maupun ketua DPRD juga menggarisbawahi pentingnya seluruh elemen untuk hidup rukun semua dan bersama-sama.

***

Masyarakat yang datang tadi malam sangat banyak. Lapangan yang bagus dan asri ini menjelma wadah yang menampung ribuan orang dari berbagai daerah untuk bersinau bareng. Tak sedikit yang datang dengan naik truk atau colt terbuka. Baik ketika datang maupun pulang, semuanya tertib sebagaimana di banyak Sinau Bareng sebelumnya di berbagai tempat. Selain warga masyarakat Limbangan dan Purbalingga pada umumnya, banyak pula yang datang dari luar Purbalingga, termasuk para mahasiswa Banyumas atau Purwokerto. Terlihat pula para santri dari beberapa pesantren di sekitar.

Saat mengikuti workshop bermetode musikal KiaiKanjeng, jamaah dibagi dalam empat kelompok dan kemudian tiga kelompok memberikan impresi kuat pada Mbah Nun bahwa wong Purbalingga nyawiji dengan sangat bagus tergambar kekompakan dan presisi mereka dalam workshop tersebut. Di samping tentunya ingin menimba ilmu dari Sinau Bareng ini, para jamaah juga bermaksud mendapatkan barokah doa dari kebersamaan dengan Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Karenanya, pada bagian awal sesudah nomor Pambuko, para jamaah diajak melantunkan shalawat Nariyah dengan masing-masing berdoa di dalam hatinya mengungkapkan hajat hidupnya kepada Allah, dan lewat shalawat ini, harapannya doa itu dikabulkan Allah secepat terbentuknya nyala api pada kayu bakar. Sebagaimana diterangkan Kyai Muzammil, Nariyah artinya bersifat seperti api.

Dapur Di Belakang Panggung

Para remaja Karangtaruna Desa Limbangan yang menggelar Sinau Bareng ini layak mendapat apresiasi. Mereka mempersiapkan acara dengan sebaik-baiknya. Di antaranya, untuk melayani KiaiKanjeng dan para tamu, mereka mendirikan dapur di belakang panggung. Di situ mereka menyiapkan hidangan seperti ketela, jagung, dan kacang rebus, serta jajanan atau makanan lain seperti tempe mendoan dan cimplung. Juga minuman kopi dan teh panas.

Saat workshop, mereka antusias maju sebagai kelompok yang mewakili desa Limbangan. Menjawab pertanyaan siapa kalian dan apa yang dilakukan sebagai kabecikan oleh siapanya mereka, mereka menjawab mereka adalah Karangtaruna dan menyelenggarakan kegiatan Sinau Bareng ini sebagai salah satu bentuk kabecikan yang mereka kerjakan.

Aplaus dari jamaah pun teralamatkan kepada mereka. Apalagi salah satu juru bicaranya memaparkan jawaban dalam bahasa Jawa Ngapak Limbangan sehingga membuat hadirin yang tidak berasal dari daerah Banyumasan bisa mendengarkan secara langsung gaya dan dialek bahasa setempat.

Satu hal yang barangkali perlu diingat dari Sinau Bareng tadi malam adalah pesan Mbah Nun mengenai iman, yaitu janganlah kita mengira telah beriman sebelum kita diuji. Workshop yang dilakukan bersama adalah satu upaya untuk berlatih mengingat bahwa di dalam hidup ini terdapat ujian-ujian yang harus dijawab. Para anak-cucu diingatkan oleh Mbah Nun tentang hal ini.

Memuncaki perjumpaan Sinau Bareng ini, pada sekitar pukul 00.00 WIB, Mbah Nun ajak semua hadirin dan jamaah berdiri dan khusyuk memasuki nomor Takbir Akbar KiaiKanjeng yang dilanjut doa yang dipimpin Kyai Muzammil.

Buku Lockdown 309 Tahun