Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4142

Tanam Kebaikan Berbuah Masa Depan

Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Lapangan Krida Utama Limbangan Kutasari Purbalingga, Senin, 27 Januari 2020

Langgam pertanyaan Sinau Bareng selalu beraneka rupa. Hal ini menjadi keniscayaan karena masyarakat Maiyah itu beragam, bukan monolitik — demikian Mas Helmi menyebut pada tulisan sebelumnya. Kekhasan topik pembahasan juga tak melulu mengacu tema acara, tapi acap berangkat dari kegelisahaan individu. Di sini pertanyaan dan jawaban di Maiyah diperdialogkan secara dialektis dan kontekstual.

Sinau Bareng di Lapangan Krida Utama, Dusun Kutasari, Purbalingga, malam (27/02) itu mengambil tema Limbangan Manunggal Nandur Kabecikan. Cak Nun, sebelum merespons tema, menegaskan, “Belajar itu tak sekadar berkaitan dengan materi atau tema tertentu. Belajar juga berarti menitikberatkan pada cara seseorang dalam belajar (thariqatut ta’lim).”

Bagaimana cara seseorang dalam belajar, Maiyah kemudian menawarkan format Sinau Bareng. Upaya bersama menyodorkan pertanyaan, serelevan mungkin dengan perjalanan diri, dengan mengambil pijakan bukan mencari siapa yang benar, melainkan apa yang benar.

Kekhasan format Sinau Bareng ini terasa betul selama ini, tak terkecuali kegembiraan yang tercurahkan dari ragam pertanyaan masyarakat Purbalingga. Prasyarat belajar, sebagaimana dituturkan Cak Nun, adalah mengupayakan kegembiraan sejak dalam diri seseorang.

Tentu saja gembira itu relatif, terbatas pada pengalaman personal jamaah. “Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi masalah. Urip itu wang-sinawang,” jelas Cak Nun.

Sejak awal jamaah telah diberi oase tiga lapis kebenaran menurut Maiyah. Pertama, kebenaran menurut diri sendiri. Kedua, kebenaran menurut orang banyak atau mayoritas. Ketiga, kebenaran yang sejati. “Poin terakhir ini berasal dari nabi, wacana agama, dan kejujuran hati masing-masing,” lanjut Cak Nun.

Ketiga lapis kebenaran ini menjadi bekal paling bernas dalam Sinau Bareng. Seseorang mampu merumuskan pertanyaan sesuai keterkaitan dengan perjalanan hidup, namun kerap terjebak pada pencarian jawaban hanya karena demi pembenaran diri. Di Sinau Bareng, kecenderungan demikian disadarkan, sehingga seseorang akan lapang hatinya untuk menerima beragam kemungkinan.

Menggadang Masa Depan

Titik pijak Sinau Bareng malam itu diambilkan dari Al-Hasyr Ayat 18: “Yaa ayyuhalladziena amanuttaqullaah wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad”—hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan nalarlah apa yang sudah diperbuat pada masa lalu untuk kebaikan hari esokmu.

Penggalan ayat ini memayungi tema yang ditawarkan panitia. Kalau disederhanakan dalam peribahasa Indonesia “siapa menanam maka menuai.” Sedangkan di Jawa konsep itu dikenal dengan “ngunduh wohing pakarti.” Keduanya sekilas mirip meski berbeda cara penguraian literalnya.

“Tuhan tak tersakiti oleh pengingkaranmu,” tandas Cak Nun, “ia tersakiti jika kau berpura-pura menyembahnya.” Poin kesungguhan dalam menjalani kehidupan kini, terlebih kepada Allah Swt., sedemikian penting dan berdampak sistemik terhadap masa depan. Konsep menanam untuk menuai tercitra jelas di sini.

Bagaimana kesungguhan itu agar terus terjaga, Cak Nun mengajak jamaah untuk berjamaah. Mengikatkan diri pada solidaritas bersama akan menguatkan barisan. Ia menggunakan analogi kebersamaan itu lewat shalat.

“Mengapa shalat diutamakan berjamaah? Hal tersebut supaya dapat menutupi kekurangan teman-temannya. Yang bajunya sobek sebelah kanan, berdiri di sebelah kiri. Yang sobek di belakang, berdiri di depan. Begitu pula sebaliknya. Jadi, dari luar, umat Islam akan terlihat utuh,” ucapnya.

Lebih luas Cak Nun menarik persoalan kebersamaan itu ke skala lebih luas. Sekuat apa pun jamaah itu, menurut Cak Nun, sudah barang tentu membutuhkan pengelolaan yang terorganisir. Antarelemen di dalamnya harus saling menyokong, beroperasi sesuai ranah masing-masing. Kedua hal itu digerakkan oleh kepemimpinan yang mumpuni.

“Kita bisa melihat manajemen pemerintahan di sini dengan melihat sifat kepemimpinan berdasarkan An-Naas. Pertama, Rububiyah (pengayoman). Kedua, Mulkiyah (kekuasaan). Ketiga, Ilahiyah (kekuatan),” pungkasnya.

Cak Nun mengajak jamaah untuk berefleksi apakah model kepemimpinan selama ini yang mereka amati menggunakan salah satu pendekatan tersebut. Di sanalah proyeksi atas masa depan bisa diangankan bila melihat model kepemimpinan hari ini.

Sinau Bareng tadi malam menjalin-kelindankan banyak hal. Meski menginduk tema tertentu, rumusan pertanyaan sekaligus jawaban dapat beraneka rupa. Ini bukti masyarakat Maiyah melampaui monolitik. Sebuah modal sosial yang paling kuat di Maiyah.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun