Meng-Allah Menghadapi Wabah

Wabah di balik gemerlapnya modernitas zaman yang harus diwaspadai pada konteks kekinian agaknya bukan hanya penyakit menular, melainkan juga yang bernama “ketakutan”. Contohnya, banyak orang takut masuk angin jika jalan kaki tak memakai sandal atau sepatu. Banyak orang takut lelah berjalan kaki karena terbiasa naik kendaraan. Banyak orang takut tak punya HP karena tak bisa melakukan komunikasi dan memperoleh informasi. Banyak orang takut hidup sederhana karena sudah berkecukupan. Banyak orang takut tak punya ijazah karena nantinya tak mungkin diterima melamar pekerjaan.

Ketika “ketakutan” sudah mewabah atau menjadi refleks hidup, kemudian saat itu datang penyakit menular, risikonya akan terjadi wabah ganda. Wabah penyakit fisik menular dan wabah penyakit psikis atau kejiwaan. Maka tidak mengherankan jika wabah penyakit fisik menular yang, misalnya disebabkan oleh virus, dapat menstimulir ketakutan berlebihan. Apalagi setelah dikabarkan gara-gara penyakit menular itu banyak memakan korban tewas.

Di sini tampak bahwa ketakutan yang mewabah itu bisa diterjemahkan dengan “takut mati”. Namun, ketika ketakutan terhadap kematian jadi berlebihan, mungkin dapat dikategorikan pula sebagai sikap musyrik. Terlampau mengagungkan, memberhalakan penyakit fisik menular itu sehingga tampak demikian menakutkan karena bisa menyebabkan kematian. Padahal, kematian jelas menjadi hak prerogatif Allah Swt. Kapan waktunya dan apa penyebab kematian, kita tak dapat meramalkannya.

Maka, usaha mencegah jangan sampai terkena wabah penyakit menular tertentu, selain usaha nyata secara keduniawian, tentu harus segera meng-Allah. Makin mendekatkan diri dan mohon perlindungan kepada-Nya agar wabah ketakutan juga tidak tambah merajalela. Lantaran mata batin dan mata wadag kita benar-benar terbuka sehingga dapat membaca dengan jelas, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata.

Iman Budhi Santosa
25/03/2020

Lainnya

Penyakit-Penyakit Baru

Tidak Ada Doa Tolak Rahmat

Tersinggung

Buku dan Merchandise