Menemukan Peran Diri dan Menjalani Perintah Tuhan

Kehidupan adalah rangkuman perjalanan manusia dalam menemukan jawaban. Sehingga, hidup ini sendiri adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus berjawaban. Mulai dari usia dini seorang anak sudah bertanya segala sesuatu kepada orang tuanya. Sampai anak itu tumbuh dan dewasa, dalam pikirannya masih terdapat hal yang selalu tidak berjawaban.

Pertanyaan yang paling mendasar biasanya tentang keberadaan Tuhan dan tujuan hidup. Berdasarkan pertanyaan tersebut kemudian tercipta lukisan kehidupan yang beraneka ragam, yang disebabkan karena setiap manusia mendapatkan jawaban yang berbeda-beda.

Pertanyaan seseorang tentang tujuan hidup sering dijawab dengan pendekatan agama dan filsafat. Bahwa banyak sekali teori tentang tujuan hidup yang lahir dari agamawan maupun filsuf besar. Meskipun demikian, hidup tidak akan pernah mendapat jawaban yang sempurna. Kewajiban manusia memang hanya menjalani kehidupan secara sederhana. Tetapi meski demikian, hidup juga tidak pernah sederhana. Kehidupan selalu rumit dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapat titik terang.

Maiyah menurut saya sedikit banyak telah membantu membuka jalan akan jawaban tujuan hidup. Hal tersebut didasarkan pada “teori-teori” agama dan alternatif cara berpikir. Apabila menggunakan pendekatan agama, maka tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan. Sebagian orang berpendapat bahwa yang dimaksud beribadah adalah melaksanakan ritual-ritual keagamaan. Sementara sebagian yang lain berargumen bahwa beribadah adalah mengabdikan diri kepada Tuhan. Kedua pendapat tersebut benar ketika saling diintegrasikan serta dilandasi dengan cinta dan kesetiaan kepada Tuhan.

Pengabdian kepada Tuhan kemudian termanifestasi dalam tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah. Khalifah dapat diartikan sebagai penangung jawab, pengelola, manager atau apapun saja yang kaitannya dengan manajemen terhadap suatu bidang garapan.

Jika bidang garapnya tanah dan tanaman maka sub-kekhalifahannya adalah petani. Jika bidang yang dikelola berkaitan dengan bunyi, nada dan irama, maka ia menjalani peran khalifah sebagai musisi. Sehingga khalifah tidak saja dimaknai sebagai pemimpin, yang kemudian ditafsirkan sebagai keharusan untuk menjadi seorang presiden, gubernur atau petinggi-petinggi lainnya. Meskipun jabatan-jabatan tersebut juga merupakan sub-kekhalifahan.

Tugas kekhalifahan juga berarti tanggung jawab manusia untuk memainkan peran. Setiap manusia adalah khalifah, maka setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Peran seseorang kaitannya dengan khalifah di muka bumi berkenaan dengan keahlian seseorang tersebut. Maka Mbah Nun sering meminta jamaah untuk menjadi ahli. Dengan mengamati diri kemudian menyelaraskan hal yang disukai dengan hal yang dibisai secara konsisten, maka akan mengantarkan seseorang pada keahliannya.

Namun demikian, masih banyak dari sebagaian orang yang dilanda kebingungan akan kedua hal tersebut. Sebagian dari mereka masih kesulitan untuk menentukan apa yang sebenarnya mereka minati.

Adapun alternatif lain dalam mengisi hidup ini adalah dengan mengikuti perintah Tuhan. Mbah Nun pernah mengatakan, apabila Tuhan memerintahkan sesuatu kepada manusia, maka Ia juga akan memfasilitasi manusia tersebut sepenuhnya. Begitu juga apabila Tuhan telah memberi fasilitas kepada manusia, maka dibalik fasilitas tersebut Tuhan juga memberikan perintah.

Sehingga, cara manusia menjawab pertanyaan kehidupan ini dapat dilakukan dengan mengamati ulang kira-kira Tuhan memerintahkan apa atau fasilitas apa yang telah Tuhan titipkan. Caranya dengan menajamkan pandangan terhadap lingkungan sekitar kira-kira masyarakat membutuhkan apa atau keadaan mengharuskan apa. Atau menghitung kembali fasilitas yang telah diperoleh barangkali perlu disalurkan kepada masyarakat atau kepada situasi tertentu.

Pertanyaan akan kehidupan minimal dapat dijawab dengan dua cara dia atas: menemukan peran dan menjalani perintah Tuhan. Akan tetapi apabila belum kunjung menemukan jawaban atau terlalu sulit untuk melakukan dua hal tersebut, maka pertanyaan kehidupan ini cukup dijawab dengan ‘menjalani kewajaran hidup’. Cukup dengan bersekolah, bekerja, menikah, berketurunan dan bermasyarakat secara wajar.

Meskipun demikian, menjalani kewajaran hidup tidak berarti mengisi kehidupan seperti pola mainstream yang ada. Akan tetapi di setiap tahap kehidupan selalu berusaha memegang prinsip dan membangun nilai. Menjalani kewajaran hidup adalah menjadi manusia normal yang baik, yang tidak merugikan orang lain, serta memiliki kesadaran untuk mencari peran dan menunggu perintah Tuhan.

Kulon Progo, 16 Januari 2020

Buku Cak Nun Majalah Sabana