Makhluk Keluarga

Sekarang manusia mengalami transformasi atau deformasi dari makhluk sosial menjadi makhluk keluarga. Keluarga memang adalah satuan sosial terkecil, tetapi perhubungan sosial antar manusia sekarang harus direformasikan. Social and cultural operating system kita harus baru sama sekali. Apakah ini stuck, hang, macet, atau apa, tapi kalau bisa tidak sampai damage.

Mau apa manusia. Coba sekarang dia keluar dari kelumpuhan dan kebodohannya kalau bisa. Mau gimana. Semua aktivitas sosial di bidang apapun yang kemarin bisa, sekarang tak lagi bisa. Bertetangga saja bahaya. Naik mobil sekeluarga saja seperti biasanya, dimarahin oleh petugas. Jual beli di warung harus jaga jarak. Berjabat tangan saja bahaya. Kumpul-kumpul untuk keperluan apapun tidak bisa. Jumatan. Riyoyoan Idulfithri. Diskusi. Seminar. Simposium. Apapun saja. Alih-alih Maiyahan nggerombol 30 orang di satu area. Online bisa, tapi hanya sejumlah kecil orang.

Padahal pembelajaran utama manusia hidup adalah sosialisasi. Srawung, bebrayan, kata orang Jawa. Interaction and mingling, kata orang Inggris. Filsafat sosial dan Ilmu Agama bilang manusia adalah makhluk sosial. Yang terburuk dari manusia adalah egoisme, individualisme, eksklusivisme. Sekarang semua yang buruk-buruk bagi manusia itu wajib dilaksanakan oleh manusia. Dulu disombong-sombongkan keutamaan interaksi sosial, sekarang dilarang. Dulu difadhilah-fadhilahkan shalat berjamaah, bahkan ada jenis shalat yang tidak bisa tidak berjamaah, misalnya Shalat Jum’at atau Shalat Ied. Sekarang diharamkan oleh manusia sendiri, dengan mencari alasan dari hukum dan kebijaksanaan Tuhan.

Untung di Maiyahan kita sudah lama belajar bahwa tidak ada makhluk hidup yang bukan keluarga. Anak-anak Maiyah menyebut tetumbuhan dan hewan adalah kakaknya. Negara adalah sebuah keluarga. Tinggal sekarang total switching menggunakan yang Sabrang ajarkan hal sudut, sisi, jarak, resolusi, mudarat manfaat. Setiap JM pasti berontak, meskipun di dalam diri kehidupannya sendiri.

Buku dan Merchandise