Limbung Corona

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mblawurnya silang sengkarut informasi.

Jika ditanyain malaikat atau siapapun, sebagai manusia bebas, aku lebih condong sebagai rakyat Indonesia dengan pemerintahan NKRI-nya atau sebagai jamaah Maiyah, 100% aku akan menjawab yang kedua.

Bukan sebab apa, kedua posisi itu toh juga tidak menjamin tiket surgaku. Cuma kalau dijalani, ratusan ribu persen hidup enak dan nyamleng nurut sebagai jamaah Maiyah daripada nurut sebagai rakyat republik yang akal sehatnya sudah banyak dikorupsi.

Seandainya di saat pandemik Corona ini pemerintah bisa lebih tegas dan tepat dalam urusan penentuan skala prioritas penanganan, sehingga tidak terkesan menggampangkan nasib hidup dan periuk nasi rakyat mayoritasnya, barangkali ini akan lebih menggembirakan rakyat.

Mau diputuskan lockdown, karantina wilayah, darurat sipil maupun istilah apapun yang bisa ‘dikarang’ semacam yang terbaru: Pembatasan Sosial Skala Besar, segera ayo putuskan dan kita laksanakan bersama. Demi kebaikan bersama. Jelaskan yang tartil bagaimana aplikasi teknisnya di tingkat bawah. Bukan cuma bikin istilah rumit tanpa penjelasan, sehingga tidak jelas juntrungannya.

Dan semoga tidak ada lagi PHP untuk rakyat. Jangan mempermainkan hati rakyat. Ini hati bukan zona permainan. Beda yang diucapkan dengan pengaplikasiannya, misalnya. Ada yang bilang kredit akan dilonggarkan. Eh, ngglethek, ternyata yang dilonggarkan itu yang disetujui oleh pemberi kredit. Semacam pemerintah tidak membantu urusan negomu dengan pemodal kapitalis yang memberikan pinjaman utang. Hadapi sendiiri. Apes, kan?

Dari satu contoh itu saja sudah kebayang enaknya pilihanku, yaitu sementara menghindari perasaan jadi rakyat yang merasa punya hak diayomi oleh buruh yang ia bayar. Tetap memilih hidup sebagai bagian jamaah Maiyah adalah nikmat yang tak bisa aku bantah.

Di lingkungan masyarakat Maiyah, aku bebas menentukan informasi mana yang akan kupakai sebagai fondasi langkahku. Meski tak cukup sanad ilmu pengetahuanku, aku bisa memakai sanad pengalaman sebagai referensi. Bukan hanya pengalamanku pribadi, tapi terutama pengalaman hidup guru-guru Maiyah yang banyak dikisahkan sabagai modal hidupku.

Aku gembira dengan tanggung jawabku yang langsung ke Allah. Karena ukurannya adalah ketepatan langkah, apa yang kira-kira Allah senang dan kehendaki. Aku terbebas dengan penilaian atas dasar ukuran popularitas dan prestasi jasaku ke sekitar yang sudah aku upload ke medsos.

Bukan pula karena sebab pamrih pencapaian prestasi dunia, semacam yang aku rasakan, semakin meningkat paska terjadi bencana. Image building, investasi populer, dan juga pengamanan mati-matian lobi-lobi labanya supaya jangan tergerus. Kalau orang lain yang tambah “jongor” nasibnya, itu nggak urusan. Coba kalau sebagai jamaah Maiyah melakukan itu, haqqul yakin semua akan merasa -minimal yang dirasakan- kegelisahan semacam nantang kualat. Kualat yang takutnya lebih pada menimpa anak cucu daripada kita yang kena.

Itulah, tak henti-henti aku bersyukur atas hidayah yang kudapat melalui Maiyah. Jaminan Allah jelas, kalau mau bersyukur akan ditambah nikmatnya. Supaya Allah nambahinya langsung jreng, atau bonus berbonus, adalah baik bagaimana bila kita obah menjemputnya. Bukan berarti nggak percaya kalau bakalan ditambahi, tapi masak sudah yakin mau ditambahi kita turon klesetan tak bergerak menjemput. Kan kurang sopan sama Allah.

Upaya yang aku bayangkan bisa menjadi langkah menjemput tambahan nikmat itu antara lain sudah terbersit di anganku. Semoga, sebagai guru, Mbah Nun ridla, sehingga Gusti Allah ikutan ridla.

Bayangkan jika masyarakat Maiyah mempunyai protap standar di saat pandemik ini. Berlaku untuk jamaah atau yang merasa bagian masyarakat Maiyah. Satu contoh misalnya, protap setiap jamaah wajib meningkatkan daya tahan tubuhnya dan orang-orang di lingkup tanggung jawabnya. Juga misalnya, protap menjaga jarak interaksi sosial. Jangan berinteraksi terlalu dekat dengan orang lanjut usia atau pun orang yang mempunyai riwayat penyakit berat, yang imunitasnya sedang berjuang mengatasi penyakit lamanya itu.

Dasar ide protapnya jelas, jangan ketularan apalagi menulari. Urip pisan jauhi bikin sengsara makhluk lain. Corona si makhluk ghaib ini belum cetho pencolotannya.

Turunan teknisnya semisal begini, ayo jamaah Maiyah mulai saling lirik kanan kiri. Siapa saudaranya, tetangganya yang kira-kira tidak bisa membeli vitamin C dan E untuk suplemen daya tahan tubuh, dikirimi lauk dan sayur-sayuran yang banyak mengandung vitamin tersebut. Kalau bisa ditambah mentahannya, malah bagus. Kondisi saat ini mencari uang susah, rata-rata mengeluh karena menurun penghasilannya.

Ayo srawung berjemur pagi atau sore, baik yang sedang di kantor ataupun di rumah. Ngobrol sama teman dan tetangga di luar ruangan, akrabnya dapat, senangnya datang, antibodi meningkat, Corona minggat insyaAllah, aamiiiin.

Untuk yang masih harus berinteraksi dengan manusia lainnya dalam jarak dekat, kalau sebagai rakyat, ya jelas sudah jangan ke luar rumah. Tapi pemerintah nggak njamin dapurmu ngepul lho. Ah, tapi masyarakat jamaah Maiyah bayanganku tidak kaku-kaku gitu lah protapnya.

Pengalamanku sebagai jamaah Maiyah tribun timur, kalau masih harus ketemuan, maka sebelum ketemuan kita saling mengingatkan. Prinsip dasarnya, nggak apa-apa kamu datang di majelis wirid dan shalawat Minggu besok, asal pas tidak sakit, umurmu di bawah 60 tahun, dan merasa yakin kondisi pas fit. Ingat, ngumpul wiridan dalam kondisi begini itu menjadi sangat buruk, kalau nafsu ngumpulmu membutakan kondisimu yang rentan tertular atau nulari. Maka jika jadi ngumpul, semua yakin bahwa tidak ada yang sedang tidak fit badannya, tidak sedang sakit atau masa penyembuhan, dan umurnya secara biologis masih tergolong mampu memproduksi antibodi yang optimal. Pas selesai wiridan, makanlah kita ambengan bareng-bareng dalam satu nampan. Looosss nggak rewel. Kalau yang ini hanyalah bagian dari ijtihad kami, bisa diluruskan jika ada yang kurang tepat dari upaya kami.

Untuk masa mencekam gelap penerangan seperti saat ini, banyak lagi bayanganku seperti adanya kepMbah (keputusan Simbah), Maklumat Marja`, Direction for Healthy Life dari para dokter jamah Maiyah, atau bahkan driving gerakan strategis dari Yai Tohar untuk menjalankan jaring pengaman sosial supaya jauh dari ketakutan efek rusuh sosial, misalnya.

Maiyah selain menuntun secara nilai hidup kami, pastilah punya kapabilitas keilmuan dari para guru yang tersebar luas bidang keilmuannya. Untuk memberi suluh teknikal, bagaimana menyikapi kondisi segelap ini. Bukan nglunjak atau minta suguhan apel sekaligus dikupaskan, namun makhluk misterius ini jangan kami sendiri yang mengkalkulasi penanganannya. Di mana ‘buruh’ kami yang namanya pejabat tak bisa kami harapkan direction-nya. Sangat banyak versi informasi cara mencegah, menangani, dan sebagainya yang bersliweran. Tak hendak kami mantab memilih sebagai dasar pijakan bertindak, kecuali masyarakat Maiyah sudah punya guideline sendiri.

Umat manja bin jamaah karepe dewe seperti kami ini, sesungguhnyalah termasuk golongan yang kurang tahu diri. Sudah dikasih panduan nilai, masih saja butuh taktis teknikalnya.

Untuk hal ini, sebelum dimaafkan, aku mesti mohon maaf sebesar-besarnya. Corona begitu membuat limbung.

Jangan biarkan kami terseret arus penguasa yang “inga-ingi” Mbah….

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun