Hidup Selamanya

Image by Kristopher Roller on Unsplash

Jangan disangka hanya malaikat dan iblis yang makhluk abadi. Kita manusia juga makhluk abadi, yang berawal dari alam azali dan bertranformasi melalui alam kandungan, alam dunia, dan kemudian menjalani keabadian di akhirat.

Itu semua karena pada hakikatnya kita adalah percikan potensial Allah yang termanifestasikan karena Nur Allah. Dan tidak ada kemungkinan untuk resign dari keabadian. Kalau tidak suka, ya silakan pergi ke kehidupan lain yang di luar Kuasa Allah, di mana itu mustahil adanya. Kehidupan abadi ini keniscayaan. Tinggal piilih mau menjalaninya seperti apa. Di neraka jahanam khaalidiina fiihaa atau surga ‘Adn khaalidiina fiiha abadaa (QS Al Bayyinah: 6 dan 8). Dua-duanya keabadian tak berujung yang membayangkannya pun kita tak bisa, apalagi menjalaninya dalam kesengsaraan di neraka.

Dan renungkanlah betapa sesungguhya kita semua sangat dekat dengan gerbang menuju keabadiaan, yaitu kematian. Dunia ini dan akhirat kelak hanya dipisahkan oleh selembar hijab tipis, yang setiap saat bisa koyak. Hanya diperlukan satu sumbatan di aliran darah menuju otak atau jantung, atau virus aneh yang tiba-tiba bermutasi menyerang manusia, atau sopir dump truck mengantuk, dan seribu satu macam sebab tak terduga lainnya, untuk membuka tabir tersebut.

Kita semua antri memasuki gerbang kematian, dalam antrian yang kita sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang urutannya. Yang lebih dulu hidup belum tentu lebih dulu mati. Yang sakit–bahkan parah–tidak mesti duluan menemui maut dibanding yang sehat. Siapa saja bisa mati kapan saja dan di mana saja kalau memang ajalnya sudah tiba.

Oleh karena itu kita harus berpikir dan berperilaku dalam frame kesadaran akan keabadian ini. Dan bukannya sibuk terjebak dalam urusan kesementaraan di dunia yang membuat kita tidak mempunyai bekal yang cukup untuk menempuh keabadian. Tetapi seringkali justru itulah yang persis kita lakukan.

Coba sesekali titeni aktivitas kita dalam 1 hari dan waktu yang dihabiskan dalam rentang waktu 24 jam. Yang terlihat langsung sebagai kegiatan mengumpulkan perbekalan di akhirat (ini pun belum tentu diterima, karena bisa jadi aslinya bermotif duniawi) misalnya shalat (wajib 5 waktu, plus tahajud, dhuha, dan rawatib) paling banter hanya 2 jam sehari. Atau hanya sekitar 8%. Itu pun kalau ghirrah (semangat) sedang tinggi. Padahal iman itu naik turun, dan biasanya lebih banyak di area turunnya.

Ketika muncul “rasa bosan menjadi orang baik”, mungkin seharian waktu kita akan berlalu percuma begitu saja. Sebagian besar waktu kita habiskan untuk urusan mencari penghidupan dan mengupayakan keberlangsungannya di dunia, dan mengurusi hajat jasmani kita. Seringkali tanpa mempedulikan halal-haram dan konsekuensinya nanti di akhirat.

Bagaimana kira-kira nasib kita nanti dengan persiapan yang seadanya seperti itu. Oleh karena itu sangat penting kemudian untuk “me-rohani-kan” apapun saja yang kita kerjakan. Semua aktivitas harus kita temukan relevansinya dalam konteks persiapan roh kita menjalani keabadian. Innamal a’malu binniat. Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Demikian Rasulullah bersabda.

Selama ini banyak orang salah fokus menganggap ini sebatas ritual ketika hendak shalat, puasa, atau ibadah mahdhah lainnya. Begitu salah fokusnya sampai-sampai orang pada bertengkar soal apakah niat itu harus dilafalkan secara dzahir ataukah cukup dalam hati saja. Padahal ini juga berlaku untuk semua gerak lahir dan batin kita, dan sesederhana itulah cara kita me-rohani-kan semua aktivitas kita. Kita hendaknya meniatkan semua aktivitas kita sebagai upaya untuk mendapatkan ridla Allah Swt. Seperti halnya ikrar kesetiaan pada saat pernikahan, niat juga harus diperbaharui setiap saat. Jadikan kebiasaan sebelum melakukan suatu kegiatan untuk mengambil jeda sesaat meneliti motivasi dan mengembalikannya ke niat yang benar.

Tentu saja semua titipan omongan ini hanya relevan jika kita sungguh-sungguh percaya akan perkara yang ghaib, akhirat. “Mereka yang beriman kepada yang ghaib,…” (QS Al Baqarah: 3). Bagi yang percaya akhirat, sering-seringlah mengingat kematian, dan kehidupan abadi setelahnya. Kematian adalah nasihat terbaik, kata Rasulullah. Setiap saat berusahalah untuk mengingat dekatnya maut. Niscaya dunia ini terasa ringan bagimu. Engkau tidak akan ngoyo menghalalkan segala cara untuk meraih dunia. Engkau akan lebih sedikit tertawa dan juga tidak lama-lama bersedih karena kejadian apapun, senang ataupun susah, yang menimpamu di dunia.

Buku dan Merchandise