Gerilyawan-Gerilyawan Kehidupan

Image by Colin Behrens from Pixabay

Tahu-tahu, atau kurang tahu, atau agak tahu, atau tidak mau tahu, atau pura-pura tahu banget, enam bulan sudah waktu dijalani bersama pandemi Coronavirus. Sudah amat banyak yang terjadi, ketegangan, kecemasan, ketakutan, hampir paranoid, cuek bebek, mengingkari fakta. Data yang kurang terpahami kualitas dan kuantitasnya. Serius nyinyir terhadap orang yang bekerja keras melawan sesuatu. Pasrah, berpikir, berdiskusi, ngobrol, ngumpet di rumah. Bertapa mirip burung onta atau kelinci di musim dingin. Sekali-sekali melongokkan kepala mirip kura-kura. Mirip keong pongpongan untuk mendeteksi perubahan cuaca. Menonton televisi untuk menafsir fakta yang sudah ditafsir habis oleh media. Membaca tafsir ayat suci dan ayat profan.

Pamer kesehatan dengan berjalan cepat atau naik sepeda. Pamer senyuman dan wajah dengan maksud berbagi kegembiraan hidup dan nasib baik. Membantu orang lain dan dibantu orang lain. Tertawa kocak mentertawakan yang perlu dan layak ditertawakan. Menangis menangisi apa yang perlu ditangisi. Marah memarahi apa yang perlu dimarahi dan yang tidak perlu dimarahi. Sekali-sekali dan banyak kali curiga-mencurigai dengan curiga yang otentik dan curiga artifisial. Membela-bela sesuatu, menyerang-nyerang sesuatu. Memuja dan mem-bully dengan alasan jelas atau dengan alasan tidak jelas. Bingung antara memilih berpikir atau meladeni emosi atau membiarkan kehendak liar. Imajinasi lunak dan imajinasi keras. Keras harapan dengan mengais-ngais masa silam. Menimbang-nimbang ilmu atau agama atau filsafat atau teknologi. Sibuk mencari sabun cuci untuk mencuci tangan, mencuci pikiran, mencuci kata-kata dan berita hoax. Mulur mungkret dan gojak-gajek.

Bahagia melihat anak cucu belajar di rumah berpakaian seragam di depan laptop atau hp. Jengkel terhadap kebisingan dan berdebar terhadap sepi. Makan dan tidur dan membayangkan yang romantis. Bekerja membuat sesuatu menjual sesuatu dan membeli sesuatu. Hilir mudik kesadaran yang meloncat-loncat. Migrasi dan inflasi pendapat atau opini. Tenang dan sekali-sekali menyaksikan rumah dan halaman rumah dan dunia luar demikian menyatu dalam kejelasan dan ketidakjelasan. Banjir asumsi, banjir kata-kata. Musik kenangan sebagai gua pelarian. Menderita karena diri sendiri dan orang lain banyak menderita. Ingin menyelamatkan dan berbagi keselamatan kadang berhasil kadang tidak berhasil. Menebak-nebak masa depan tanpa pijakan peta atau separo peta atau hanya mengandalkan potongan puzzle pengalaman dan iman. Bosan dan anti bosan.

Hati mekar melihat tumbuhan atau ikan dalam akuarium. Memberi selamat pada yang berulang tahun dan berbagi simpati plus doa bagi yang meninggal. Share chattingan atau status yang tepat sasaran atau setengah tepat sasaran. Terbuka dan tertutup melihat dunia. Mengembarakan ide secara virtual dan visual. Bercengkerama lewat telepon. Berdebat atau sepakat, sendiri atau bergabung dengan grup WA yang lucu-lucu. Gonta-ganti fokus antara kesehatan atau ekonomi atau seni budaya atau politik prasangka atau politik hukum sebagai solusi atau apa dan seterusnya seterusnya tiada henti. Hidup diisi dengan hal-hal yang sangat berhubungan dengan pandemi Coronavirus atau setengah berhubungan atau dengan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pandemi Coronavirus. Itulah yang kebanyakan atau kesedikitan dilakukan sejak bulan Maret sampai September ini.

Lantas apa artinya? Apa maknanya? Apa manfaatnya? Lantas apa yang bisa dipetakan barang sedikit atau agak banyak dari semua itu. Tidak ada yang tahu pasti secara persis.

Yang agak jelas menurut perasaan saya yang tengah terjadi adalah perang asimetris kontra perang simetris, perang semesta kontra mikro perang dan perang gerilya kontra kontra-gerilya dengan wilayah tidak terbatas. Kondisi seperti ini membangunkan gerilyawan-gerilyawan tangguh kehidupan, membentuk atau terbentuk komunitas gerilyawan kehidupan yang berupaya melawan pandemi Coronavirus dan berupaya agar waktu dan ruang berpihak padanya. Sebagai gerilyawan kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagian tampak di permukaan sebagian tidak tampak di permukaan tetapi mobilitas tinggi dan rendah berlangsung bergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Metode perang gerilya yang diterapkan adalah metode gerilya itu sendiri dan ketika sadar virus Corona terbaru ternyata sebenarnya saat menyerang manusia menggunakan metode perang gerilya sambil bermutasi untuk lolos dari deteksi maka para gerilyawan kehidupan kemudian menerapkan taktik dan strategi kontra gerilya dan kontra mutasi.

Itulah yang dilakukan oleh keluarga besar jamaah Maiyah, bersama komunitas-komunitas gerilyawan kehidupan yang lain. Sinyal-sinyal gerak gerilya mereka melawan pandemi Coronavirus kadang jelas tertangkap, kadang sengaja tidak menjelaskan diri alias samar. Yang penting ada.

Dengan kesadaran bahwa yang diperlukan adalah gerak gerilya dan munculnya gerilyawan kehidupan maka ada sedikit kepastian bahwa pandemi Coronavirus memang bisa dilawan. Paling tidak selama dua tahun mendatang ini perlu dibuktikan bahwa perang gerilya melawan pandemi Coronavirus ini efektif atau kurang efektif untuk kemudian dilanjutkan dengan menerapkan ikhtiar baru berupa taktik dan strategi super-gerilya dan super kontra-gerilya. Sambil menunggu datangnya sang penyelamat yang didambakan banyak orang, Kanjeng Pangeran Vaksin Kusuma selesai diproduksi, didistribusikan dan diperdagangkan di seluruh dunia. Mungkin tulisan ini mampu menghibur atau agak menghibur diri sendiri. Atau malahan menjengkelkan bagi yang kurang memahami maqoshid di balik tulisan ini.

12 September 2020

Buku dan Merchandise