Gambang Syafaat Oasis di Tengah Metropolis, Workshop Diri Sampai Akhir

Mungkin jamaah tidak menyadari, di kehidupan metropolis kita butuh oasis. Butuh Sabana atau ruang penyegar bagi napas hidup warga kota. Di antara hotel bintang 5, mall-mall, department store.

Ruang terbuka bukan sekadar taman, lapangan hijau atau hutan kota. Walau itu perlu untuk kehidupan satu kota, sebagai paru-paru kota.

Akan tetapi adakah degup jantung kota, adakah angin di aspal dan beton kota. Sebagaimana ditulis Umbu Landu Paranggi dalam lagu puisi “Apa Ada Angin”:

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dihembus desa melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya
Yang terpinggirkan di sudut-sudut kota

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Katakanlah Umbu mengajak para urban untuk pulang ke desa. Atau lebih khusus mau mengikat para penyair Malioboro untuk bertahan di Yogya.

Lalu bagaimana dengan warga yang kadung tinggal di kota besar. Bagaimana mereka menemukan atau membuat oasis di kotanya. Itulah yang dilakukan Gambang Syafaat.

Dibanding Mocopat Syafaat yang hampir selalu formasi lengkap, Gambang Syafaat selalu jarang lengkap diformasi Cak Nun dan KiaiKanjeng. Keduanya pancet tanggalnya setiap bulan. Mocopat setiap tanggal 17, Gambang tiap tanggal 25.

Mocopat nyaris di pelosok desa di Bantul. Nama desanya Tamantirto kecamatan Kasihan, rumah Cak Nun. Saya ikut menjadi saksi saat awal Cak Nun membangun rumah di desa sepi pinggiran Yogya.

Tak terbayangkan begitu Mocopat digelar tiap bulan, kampung di situ menjadi hidup, paling tidak di sektor warung dan parkir. Bisa dipastikan 5 ribuan jamaah menghadiri Sinau Bareng Maiyahan.

Gambang digelar di Masjid Baiturrahman, Simpanglima Semarang. Di pusat kota ibukota provinsi Jawa Tengah. Memang. Tapi Gambang bisa dikatakan oasis di satu kehidupan metropolis. Sinau Bareng Maiyahan digelar benar-benar dengan semangat lesehan.

Pada 1990-an, Simpanglima pernah menjadi ruang publik sekaligus ruang ekspresi. Masih ada GOR, Rendra pernah baca puisi yang terkenal dengan honor 13 juta rupiah. Masih ada Wisma Pancasila, Teater Lingkar beberapa kali pentas di sini, pernah juga dihadiri Umar Kayam.

Masih ada supermarket, Harian Sore Wawasan termasuk berkantor di situ. Aula STM Pembangunan masih kerap ada pementasan dan pameran senirupa.

Tak lupa mbak-mbak lesehan penjaga malam hingga pagi tiba dengan tawa dan sapa.

Belakangan ruang ekspresi itu hilang, lalu bermunculan mall-mall atau department store. Kemudian tumbuhlah new metropolis, semacam kota baru.

Saya pernah bicara dengan Simon Hate. Teater penyadaran mudah ditumbuhkan di desa atau di kampung kota. Tapi cobalah diadakan di real estate atau new metropolis, dengan lingkungan yang sama sekali baru.

Bagi saya itulah ujian Gambang Syafaat. Bagaimana ia sama dengan memberi workshop bagi diri dan jamaah yang sebagian besar mahasiswa, secara terus-menerus tak lelah-lelah, di lingkungan baru suatu new metropolis.

Seorang aktivis Gambang, Gus Dur, yang tahu persis dunia metropolis dan oasis itu. Sebab dia bekerja di mall terbesar berjarak hanya likuran meter. Saat berada di lantai lima, dia melihat persis titik simpul Gambang.

Malam di 25 Desember Gambang ulangtahun. Teman-teman, Roni sekjen, Gus Aniq, Nugroho penyair, Ibnu, Monty dll, menyiapkan gelaran tumpeng sederhana.

Juga pameran foto dan desain poster karya Monty. Desain kontemporer yang citarasa pop art-nya tidak kalah dengan Pablo Picasso, Andy Warhol atau Jean Paul Basquiat. Tentu bersama grup musik Wakijo yang menggubah lagu Umbu dalam genre kroncong, jazz hingga blues.

Termasuk baca puisi mbeling-kontekstual Nugroho. Bersama segenap senior, Prof Ilyas, Prof Saratri, Gus Budi Maryono, Bib Anis Sholeh Ba’asyin, dan silih berganti.

Surprise Cak Nun hadir bersama Presiden Jancukers Sujiwo Tejo. Surplus malam itu Cak Nun mengatakan: Gambang Syafaat adalah simpul maiyah yang paling jadi, dewasa dan kreatif, tanpa kehadirannya pun tetap rutin jalan.

Kelanggengan Gambang Syafaat bisa jadi karena semangat mempertahankan oasis di tengah metropolis.

Gus Dur mungkin juga mencatat, di antara dingin ac dan aroma keju mall. Betapa di Ramadhan, masjid penuh jamaah tarawih, juga mall penuh pengunjung urban section.

Batinnya: apakah Ramadhan yang akan datang bisa kembali seperti itu, hanya Gus Corona yang bisa menjawab.

Lewat tengah malam
Masih terdengar shalawat
Menebar syafaat
Sayup-sayup sampai
Di ibukota sangsai.

Buku dan Merchandise