Majelis Ilmu Gambang Syafaat Semarang, 25 Agustus 2020

Gambang Syafaat Menyelami Arti Kemerdekaan

Agustus identik dengan nuansa kemerdekaan. Ada pemandangan klasik setiap memasuki awal bulan kedelapan dalam kalender Masehi ini. Mayoritas masyarakat di kampung akan kompak memasang tiang beserta bendera merah putih di depan rumah. Tanda ikut merayakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Bulan agustus tahun ini, momentum kemerdekaan masih bisa dirasakan atmosfernya. Banyak kampung di Semarang tetap melaksanakan perlombaan dan syukuran khas tujuhbelasan. Mereka menganggap bahwa Indonesia telah sepenuhnya merdeka. Bebas dari segala macam bahaya yang dulu diberikan penjajah.

Pemaknaan merdeka semakin diperluas sampai ke tingkat individu. Orang-orang modern menganggap bahwa merdeka menjadi harga mati. Merdeka artinya bebas dari apa pun, siapa pun dan kondisi bagaimanapun. Sejak hadirnya Hak Asasi Manusia, manusia modern semakin merasa dirinya tidak terikat. Lepas bebas bagaikan burung yang berhasil kabur dari sangkar. Melakukan tindakan semaunya dan sesukanya. Berpotensi menjadikan manusia jauh lebih hancur dibandingkan saat masih belum merasa merdeka. Apa makna merdeka sesungguhnya?

Forum silaturahmi Maiyah Gambang Syafaat edisi Agustus 2020 menjadi awal dimulainya perjumpaan yang sudah sangat dirindukan jamaah. Berkumpul dalam satu tempat untuk berdiskusi kebermanfaatan dalam suasana cinta. Maiyahan edisi Agustus 2020 yang mengambil tema ‘Dijajah Egoisme’ dilaksanakan di salah satu rumah pegiat, Mas Arsyad, sekaligus rumah seorang pelukis asal Semarang, Bapak Hartono. Tetap mematuhi protokol kesehatan dan jumlah jamaah yang dibatasi, forum diskusi tukar pikiran berlangsung khidmat.

Kang Hajir membuka prolog dengan memberikan definisi tentang nature  dan culture. Egoisme muncul dari culture atau kebudayaan manusia. Egoisme dimaknai sebagai keakuan. Manusia sejatinya hanya menumpang di bumi atas izin Allah. Kenyataannya, manusia sekarang perlahan mulai merusak bumi itu sendiri. Manusia modern semakin mirip dengan benalu. Menyerap zat-zat makanan dari inangnya, sampai nantinya si benalu mati bersamaan dengan si pohon inang. Menurutnya, Indonesia lama dijajah dengan politik pecah belah melalui kendaraan bernama egoisme.

“Rumah saya terbuka bebas untuk siapapun,” tutur Pak Hartono. Beliau memberi kebebasan bagi masyarakat luar yang ingin melihat lukisan di galeri rumahnya. Menjadikan rumah depannya sebagai tempat diskusi atau hal bermanfaat lain. Sebuah lukisan yang cukup menarik perhatian jamaah, coba diberikan sedikit ulasan Pak Hartono. Satu lukisan besar didominasi warna merah cerah dengan beberapa potong gambar terkait situasi pandemi. Ada gambar seorang anak kecil tersenyum manis dan membawa bibit tanaman di pot. Lambang dari generasi baru yang akan lahir. Generasi yang diharapkan mampu mencintai lingkungan dan kebudayaan seperti ciri khas masyarakat Indonesia di masa lalu.

Beragama berarti berusaha meneladani sifat Allah sebisa mungkin. Tuhan ada selama dua puluh empat jam penuh. Punya pengawasan ketat yang super canggih. Semua yang ada di dunia berada dalam pengawasan dan cengkraman-Nya. “Semua yang di dunia memiliki masa expired. Tidak ada yang abadi,” tandas Kang War.

Dari kaca matanya, egoisme dinilai dapat menyebabkan seseorang terjebak pada kemerdekaan kecil. Kemerdekaan yang ditafsirkan sebagai kebebasan menerobos semua pagar. Andaikan egoisme hadir menyelimuti hati para pejuang bangsa, maka Indonesia sekarang masih berada dalam kekangan bangsa asing. Mbah-mbah kita di masa lalu tidak memikirkan gaji, tunjangan, hanya berjuang dan pasrah total kepada Allah. Puncaknya Allah memberi petunjuk dan mengizinkan mereka mendapatkan kemerdekaan.

Kemerdekaan Indonesia menjadi momen spiritual. Bagaiamana tidak? Di atas kertas, teknologi perang penjajah di masa lalu jauh lebih unggul dibanding bangsa Indonesia yang hanya dipersenjatai bambu runcing. Pancasila juga dianggap sebagai bentuk bimbingan spiritual yang secara logis tidak mungkin bisa diterbitkan secara spontan. Menyoroti lebih dalam tentang tema, Ego perlu dipelihara namun jangan diberi makan terlalu banyak dan akan menjadi isme. Egoisme akan meniadakan yang lain. Kang Anwar mengatakan, ”Kita itu dijajah oleh hal yang sepenuhnya tidak ada, jika terminasi berpikir kita tidak ada yang lain selain Allah.”

Ada ulasan menarik dari Kang War yang mengandung teka-teki terkait kemerdekaan. Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terdapat potongan kalimat, “…mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia…”

Pertanyaannya, kemana selanjutnya? Apakah masuk ke dalam pintu gerbang atau mencari pintu gerbang kemerdekaan yang lain? Karena isi potongan dalam teks UUD 1945 tersebut hanya mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang semata.

Bernegara diambil sebagai jalan menindaklanjuti kemerdekaan yang telah didapatkan rakyat Indonesia. Jika memang bernegara diibaratkan sebagai rumah besar dan undang-undang sebagai pagar atau temboknya, maka apakah fungsinya sudah sesuai dengan realitas yang ada?

Apakah pagar yang dibuat sudah melindungi bangsa Indonesia? Atau pagar itu dibuat dan diberi sedikit lubang agar bisa diakses dari luar? Atau mungkin tembok-tembok tebal itu sudah disediakan kunci duplikatnya bagi beberapa pihak agar bisa mengakses secara langsung? Tiga pertanyaan tersebut membuat seakan merdeka dan tidak merdeka menjadi samar. Menurut Kang Anwar, kemerdekaan sejati dapat tercapai ketika ada keselarasan antara apa yang dibicarakan dan apa yang seharusnya dilakukan.

Pudarnya Sisi Spiritual

Gus Aniq membawa jamaah untuk kembali berpikir tentang ajaran murni dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau menjadi petugas Allah untuk menciptakan peradaban kembali ke kemanusiaan yang tidak terjajah oleh nafsunya. Sadar bahwa kita sesama manusia yang diciptakan Allah menjadi manungsa: ‘manunggaling kuasa’.

“Sejak kapan kita dihilangkan sisi spiritualitasnya?” Tanya Gus Aniq kepada jamaah.

Mbah kita saat bulan Sura sering melakukan meditasi, tapa, kungkum atau apapun namanya. Tujuannya untuk intropeksi diri di awal tahun. Kebiasaan mengedepankan sisi spiritual bangsa Indonesia sudah mulai pudar dari generasi ke generasi. Mengembalikan pendidikan dengan khazanah nusantara tanpa mengabaikan budaya luar, dapat menjadi alternatif pendidikan di masa mendatang. Melatih generasi mendatang untuk terbiasa menyelesaikan masalah dengan pengetahaun khazanah nusantara yang telah dibangun selama ratusan bahkan ribuan tahun silam.

Kemerdekaan dimaknai bebas melampaui batas. Harusnya kemerdekaan itu mengerti batas bukan melampaui batas. Cara merdeka dengan mengingat Allah yang menciptakan segalanya. Menyinggung egoisme, Gus Aniq memulai dengan penjelasan tentang realitas. Semua realitas apapun bersumber dari Allah. Al-Haqq maknanya adalah sebuah realitas atau kenyataan, bukan kebenaran. Seperti inti yang terkandung dalam Surat Al-Ashr. Di mana yang dibahas bukan saling berwasiat dalam kebenaran melainkan berwasiat/berbagi/berargumentasi untuk menciptakan realitas-realitas. Ketika muncul egoisme, maka akan ada satu realitas yang merasa paling benar dari realitas-realitas yang lain.

Gus Aniq membahas tentang khilafah yang menurutnya bermakna pengelolaan. Menunjukkan bahwa manusia berada di belakang Allah bukan di depan. Banyak juga yang memandang khilafah sebagai wakil Tuhan. Realitasnya, banyak manusia modern yang menjadi wakil tuhan dengan mengedepankan egoisme. Padahal sejatinya menjadi khilafah berarti mampu menjadi duta kerahmatan dan duta kesemestaan.

Ego selalu diikuti dengan pembelaan, bisa berupa argumen pribadi atau mengambil dalil agama yang seolah membenarkan egoismenya. Pak Budi Maryono memberikan cerita yang berhubungan dengan egoisme. Di kampungnya, terdapat seorang penjual gas. Dia berjualan gas tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Tidak mengenakan masker ketika menghampiri pembeli. Penjual gas merasa mantap bahwa hidup dan mati milik Allah. Tidak peduli apakah pelanggannya merasa cemas atau bagaimana. Dia kemudian berdiskusi dengan Pak Budi.

Pak Budi membagikan jika memakai masker bukan bertujuan untuk melindungi diri sendiri, melainkan untuk memberi kenyamanan pelanggan. Setiap pelanggan memiliki sudut pandang dan kadar keimanan sendiri-sendiri yang tidak bisa disamakan. Keesokan harinya si penjual gas memakai masker.

“Salah satu cara menindas egoisme adalah menikah,” tambah beliau. Disambut gemuruh kecil dari jamaah. Menurut Pak Budi Maryono, kalau kita belum bisa bergembira karena membuat gembira orang lain, maka perlu ditakar lagi tingkat keegoisannya. “Kalau kita bisa bergantung hanya kepada Allah, kita akan merdeka dari penjajahan egoisme,” pungkasnya.

Masih berlanjut, merdeka tidak merdeka bergantung cara pandangnya. Pak Budi menceritakan pengalaman keseharian beliau yang juga seorang pedagang. Baginya, merdeka itu ketika dapat melayani sepenuh hati pelanggan tanpa melakukan kecurangan dan tindakan kurang baik lainnya. Sementara tidak merdeka itu melakukan apapun hanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin tanpa memperhatikan pelanggan.

Buku dan Merchandise