Dialektika Manusia Soliter dan Manusia Solider

Mengenang 7 Hari Mas Iman Budi Santosa di Kadipiro, Kamis 17 Desember 2020

Umbu Landu Paranggi memiliki kepekaan kuat dan kecermatan yang mendalam dalam mengamati dan memahami murid dan komunitas Malioboro. Umbu mirip mursyid sekaligus murabbi dengan kemampuan menunjukkan arah perkembangan dan kemampuan mengasuh para murid dan komunitas Malioboro.

Tentu Umbu menelusuri kecenderungan murid dan komunitas Malioboro lewat tulisan yang dikirim ke Pelopor Minggu. Puisi, esai tentang kehidupan yang harus ditulis oleh mereka yang tengah berada pada ruang kompetisi, cerpen atau reportase kegiatan dialog sastra atau pertunjukan sastra. Selain lewat tulisan, Umbu mampu menjenguk jiwa-jiwa mungil kreatif lewat pergaulan, pertemuan, ujian psikologis, dan lewat sentuhan personal ketika bertemu empat mata.

Umbu sepanjang yang saya ketahui, mirip guru aliran Taman Siswa, selalu ngemong dalam memacu dan memicu motivasi berkembang dan berubah menjadi lebih baik. Ketika di ruang publik, tidak pernah mempermalukan orang atau menjatuhkan seseorang. Dengan kelembutannya, atau dengan diam, dia mengajarkan sesuatu. Baru kalau bertemu berhadapan empat mata, Umbu mirip pendekar peguron pencak silat menghajar murid yang bandel. Caranya unik dan khas Jawa. Dia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit yang harus dijawab dengan jujur (cara sederhana seperti ini kemudian hari juga dilakukan oleh Mas Iman Budhi Santosa).

Lantas mengapa Umbu bersama rombongan Persada Studi Klub sering menyambangi dan bersilaturahmi ke masyarakat asal dari murid dan komunitasnya? Karena Umbu, saya menduga dengan keras, ingin mengenal dan memahami genealogi dan sosiologi serta antropologi (etnografi) dari masyarakat komunal yang berpotensi kreatif tempat asal-usul dan tanah kelahiran para murid dan anggota komunitas Malioboro.

Dengan motivasi dan tujuan (maqoshid) seperti itu Umbu bersama rombongan mendatangi dan bersilaturahmi ke Borobudur tanah kelahiran Jihaad Hisyam, bersilaturahmi ke Klaten tempat kelahiran Naning Indratni, bersilaturahmi ke Bantul tempat kelahiran Jabrohim Singodikromo, M Sahari dkk, bersilaturahmi ke markas Remaja Nasional di kantor Nasional (sekarang BRI) kidul Klenteng Gondomanan, dan secara intensif menyambangi dan bersilaturahmi ke Kotagede tempat asal usul Achmad Charis Zubair, Slamet Kuntohaditomo, Muhammad Masykuri, Darwis Khudori, Dalhar DW (leluhurnya dari Joyopranan), Muhammad Khamdi Rahardjo, Mustofa W Hasyim yang kemudian ternyata juga menjadi tanah kelahiran Erwito Wibowo, Bukdanul Khuri, Hamid Nuri, Ahsin Nuri, Agung Hartadi. Bahkan, kemudian terbentuk Poros Sastra Malioboro-Kotagede karena kunjungan bolak-balik antara aktivis sastra Malioboro dan Kotagede.

Saya pernah mengajak rombongan Kotagede ini ke tempat pertemuan di rumah mbak Widarmi Dipowuryo di Janturan Umbulharjo dimana disitu terjadi perdebatan hangat dan panas’ antara Mas Warno Pragolapati dengan Emha Ainun Najib, sementara Umbu sebagai wasit hanya senyum senyum sambil klempas klempus merokok. Dengan maqoshid seperti itu Umbu dan rombongan bersilaturahmi ke rumah Mas Iman Budhi Santosa di sebuah tempat yang tenang di Jawa Tengah.

Dengan fakta, data dan informasi yang relatif akurat serta lengkap ini Umbu kemudian melakukan semacam manajemen edukasi yang tepat dan pas untuk para murid dan komunitas Malioboro. Umbu melakukan identifikasi potensi personal dan semacam klasifikasi kemungkinan masa depan mereka. Treatment yang dilakukan Umbu untuk mereka sering tidak terduga, mengejutkan, bahkan mengguncang kemapanan berpikir, serta menyegarkan sikap dan semangat mereka untuk hidup kreatif dengan mengutamakan proses ketimbang hasil.

Umbu kemudian juga berhasil mengidentifikasi kecenderungan mereka. Dan kecenderungan personal murid-murid serta anggota komunitas Malioboro ada tiga. Pertama, ada yang cenderung menjadi manusia soliter introvert menguasai dan menekuni dunia dalam serta asyik memandang ke dalam dirinya sebagai tambang inspirasi. Puisinya sering berciri dan dikategorikan sebagai puisi tentang aku lirik. Kedua, manuasia solider extrovert menguasai dunia di luar dirinya, asyik memandang orang lain dan masyarakat serta asyik menekuni dunia luar dirinya sebagai medan inspirasi. Puisinya sering berciri dan dikategorikan sebagai puisi tentang aku publik.

Manusia jenis ketiga adalah manusia yang memiliki kemampuan, kekuatan, semangat serta daya tahan (imunitas dan stamina) yang luar biasa sebagai manusia dialektika yang dirinya bergerak cepat, intens, memasuki tegangan tinggi dan dalam arus pengembaraan dan pencarian bolak-balik antara status dan lokus sebagai manusia soliter menuju status dan lokus sebagai manusia solider, dan sebaliknya dia bisa pontang-panting full gelisah ketika terseret arus proses yang bergerak dari status dan lokus manusia solider menuju status dan lokus manusia soliter.

Perjalanan rohani, jiwa bahkan ragawi yang dilakukan dan diproses dengan mekanisme dan metabolisme bolak-balik seperti ini awalnya dan pertengahannya sangat melelahkan karena menguras energi spiritual, intelektual, energi kemanusiaan dan energi fisik. Ibarat ksatria yang memperoleh ilmu baru dari Begawan Ki Ajar Umbu Landu Paranggi, manusia jenis ketiga ini harus melakukan kegiatan bertapa yang sangat berat, yaitu tapa nyepi sekaligus tapa ngrame. Dibutuhkan stamina dan cadangan stamina ruhani, jiwa dan ragawi yang yang ekstra. Dan hasilnya, ksatria ini akan mendapatkan ajian kesakitan hidup dan pusaka sipat kandel yang kompatibel untuk menjalankan fungsi kreatif berkebajikan di tengah masyarakat. Sebagai guru.

Manusia didikan atau yang berproses di Persada Studi Klub Malioboro jenis ketiga ini tidak banyak jumlahnya. Yang banyak jumlahnya adalah manusia jenis soliter yang soliter banget, dan manusia solider yang solider banget.

Saya kemudian membayangkan, manusia jenis ketiga yang sudah gentur tapane matang dan cerdik mirip pong-pongan yang kualitasnya pong isi bukan pong kosong bolong melompong. Manusia pong-pongan ini ketika ingin soliter memiliki mekanisme untuk memasuki dunia di dalam diri dengan bersembunyi di cangkang kerasnya nilai utama kehidupan yang dia bangun sendiri. Kemudian ketika ingin menjadi memasuki lokus dan status sebagai manusia solider, dia keluar dari cangkang membuka mata dan menggerakkan kaki-kaki kreatifnya untuk berjalan-jalan dan srawung dengan dunia luar.

Dengan demikian manusia jenis ketiga, manusia soliter yang sekaligus menjadi menjadi manusia solider hasil dari proses mem-PSK dan proses perjuangan hidup selanjutnya memiliki kapasitas dan kualitas untuk menjadi guru. Sebagaimana gurunya, Umbu Landu Paranggi sendiri, Mas Iman Budhi Santosa adalah manusia jenis ketiga ini. Dia memiliki kualitas dan kapasitas sebagai guru kehidupan. Tentu Mbah Nun ( Muhammad Ainun Najib yang bertransformasi menjadi Emha Ainun Najib bertransformasi menjadi Cak Nun dan kemudian bertransformasi lagi menjadi Mbah Nun) dalam pandangan Umbu Landu Paranggi juga termasuk golongan manusia dialektis= manusia soliter yang sekaligus manusia solider. Maka adalah biasa kalau Mas Iman Budhi Santosa dan Mbah Nun saling berguru, sebab keduanya memang tunggal guru tunggal ilmu.

Nah, sebagai manusia dialektis ini kemudian kita mengenal Mas Iman Budhi Santosa sebagai guru kita semua. Semoga ilmu yang beliau berikan dengan tulus itu dapat senantiasa kita manfaatkan dan kita amalkan sehingga menjadi amal jariyah bagi Mas Iman Budhi Santosa. Semoga demikianlah adanya. Aamiin.

Lainnya

Buku dan Merchandise