Di Rumah (Maiyah) Saja

Semakin hari semakin banyak dan semakin gencar kampanye dan tindakan “Di rumah saja”. Mulai dari pejabat, PNS, guru, pegawai bahkan para buruh senantiasa melakukan itu semua. Hanya mungkin berbeda cara pada setiap individu dalam melakukannya.

Setiap orang punya kecenderungan berbeda dalam menyikapi kata “Di rumah saja”. Karena, dalam proses melakukannya pun ditempuh dengan jalan yang berbeda. Jika sebagian besar mereka para pegawai, pejabat, dan PNS di rumah saja itu bisa diartikan sebagai pelaksanaan intruksi WFH (work from home) kerja dari rumah. Artinya mereka tetap bisa bekerja meskipun dari rumah, dan tetap mendapatkan gaji dari hasil kerjanya.

Lantas bagaimana dengan buruh yang di rumah saja, karena mereka ‘dirumahkan’, mereka terkena PHK? Secara keadaan mereka di rumah saja, tapi secara kondisi berbeda dengan para pegawai dan PNS. Bagaimana pula kita jamaah Maiyah menyikapi di rumah saja? Sudah barang tentu semua bisa tergantung situasi dan kondisinya.

Bahkan kemarin dalam salah satu tulisan Mbah Nun yaitu The Real Homework kita bisa baca: Sekarang kita sedunia didatangi tamu tak diundang yang namanya Covid-19. Tamu ini menghapus, membatalkan, menghilangkan berbagai macam pekerjaan profesional, Negara dan Lembaga-lembaga bahkan pekerjaan budaya kemasyarakatan — dipaksa diganti dengan “pekerjaan rumah”. Konstitusi utama di semua Negara di muka bumi sekarang ini adalah “Di Rumah Saja”. Bahkan pekerjaan kantor dikerjakan di rumah, yang memungkinkan. Tidak ada orang berkumpul di gedung, di kantor, di lapangan, di pasar, di rumah ibadah dan di mana pun. Semua dipaksa “Di Rumah Saja”. Itu pun masih kita persempit menjadi “Di Rumah Aja”.

Dan, itu semakin menyadarkan bahwa memang kondisi saat ini seperti itu.

Secara pribadi sebagai jamaah Maiyah, kerinduan untuk bermaiyah pun begitu menggebu, namun mengikuti setiap Khasanah dalam caknun.com membuat di rumah saja punya arti lain. Kesadaran bahwa apa yang Mbah Nun tuturkan dalam setiap tulisannya membuktikan bahwa ada cara untuk tetap bermaiyah meskipun harus “Di rumah (Maiyah) saja”, atau dengan arti lain walau kondisi di rumah saja tetap bisa bermaiyahan.

Sampai khasanah yang ke 49, seluruh tulisan Mbah Nun tersebut bisa menjadi materi untuk tetap bermaiyahan. Meskipun dengan cara yang berbeda dari biasanya, namun tetap memiliki makna. Melalui “Di rumah (Maiyah) saja”, kita masih tetap bisa menjangkau tetesan mata air Maiyah. Apa yang Mbah Nun tuliskan setidaknya memberi kompas kepada kita dengan kondisi saat ini.

Walaupun dari rumah, walaupun tak bisa melingkar, tetapi semoga kita masih dalam satu frekuensi “Maiyah”. Dalam situasi yang secara pribadi tak bisa melakukan sesuatu yang berarti dalam konteks penanganan kondisi negara, kita masih bisa berkeyakinan dengan berpegang pada apa yang Mbah Nun tulis. Simbah selalu mengingatkan kita untuk Meng-Allah pada segala sesuatu dalam kehidupan kita.

Saya mengutip lagi salah satu tulisan Mbah Nun dalam Khasanah di caknun.com berikut ini, Jamaah Maiyah tidak tergolong cerdik pandai. Bukan kumpulan orang hebat. Mereka juga tidak canggih menjawab jika ditanya tentang kematian, Akhirat, empat tahap kehidupan dan lain sebagainya. Mereka fokus ke hubungannya dengan Allah saja dan meletakkan diri pada posisi “In lam takun ‘alayya Ghodlobun fala ubali”. Asalkan Allah tidak murka kepadanya, maka sejak hidup di dunia mereka belajar dan berlatih ikhlas atas apa saja yang Allah menghendaki untuk dialaminya. Termasuk urusan Corona.

Semoga saja semua ini lekas selesai dan kita bisa tetap melingkar dalam balutan cinta Maiyah, dalam hamparan nilai Maiyah, dengan tetesan mata air Maiyah. Amin.

Lainnya

Revolusi Nyepi

The Real Homework

Guru, kok, Memanjat Kelapa!

OMA(H)IYAH

Membangun Rumah Pemahaman

Maiyah Rumah Kaca

Buku dan Merchandise