Budaya Dakwah

Umat manusia sekarang terjepit di antara dua ideologi dunia yang paling besar, sosialisme dan kapitalisme. Keduanya hendak memimpin dunia, tetapi modernitas yang dilakukan ternyata kandas, tidak mampu menjawab persoalan-persoalan sejarah, bahkan tidak menemukan sesuatu yang sebenarnya dicari. Poinnya, bagaimana seseorang muballigh mengetahui dan menelusuri letak Islam di antara dua ideologi besar ini, Islam dewasa ini sedang menghadapi tantangan untuk menjadi alternatif ketiga.

Media komunikasi yang paling artikulatif kini adalah pemikir-pemikir Islam. Mereka dianggap sebagai garda depan dari pemikiran Islam di Indonesia. Tetapi, tidak boleh dilupakan di sisi lain ada orang-orang yang sama sekali tidak dikenal, bahkan ada berpuluh-puluh orang semacam ini. Mereka memiliki standar kualitas pemikiran Islam yang paling kontekstual, tidak hanya sekadar berpikir, tetapi sudah mewujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan, mempertahankan hidupnya untuk itu.

Konstelasi pemahaman tentang Islam di kalangan umatnya dan konteksnya dengan budaya, antara Islam dan islami ada jarak jauh. Terjadi kesenjangan antara penampilan formalitas dan kualitasnya.

Dalam politik misalnya, kita masuk saja ke persoalan Indonesia. Yang dikehendaki berdirinya negara Islam, atau memproses kebudayaan masyarakat yang islami. Kalau maunya negara Islam ialah suksesi politik, pergantian politik, dan pergantian sistem, berarti akan memakai bendara Islam, segala sesuatu akan formal. Atau ada kemungkinan lain, disadari bahwa masyarakat ini majemuk dan laa ikraaha fiddin. Artinya, sekadar ikut membantu, bersedekah dalam proses Islamisasi kebudayaan.

Jelas, persoalannya bukan bendera. Maka, di sini seorang muballigh harus menentukan sikap pilihannya. Sikap bukan pasti begini atau begitu, tetapi dia menjadi ummatan wasathan, dia menjadi orang yang paham di dalam konteks ini.

Secara umum semua manusia adalah khalifatullah fil ardl. Di antara khalifah-khalifah itu ada dua tipe: tipe Rasul dan Nabiyullah. Ini kapasitasnya tentu berbeda, bakat dan kemampuannya, tanggung jawabnya, dan tugas kekhalifahannya pun berbeda. Rasul memiliki kewajiban menggembala umat, sedangkan Nabi tidak. Nabi cukup menjadi pendekar-pendekar, tetapi tidak berdiri di depan seperti politikus atau sebagai pemimpin masyarakat.

Di antara kita ada pula dua tipe, mungkin kita tipe Rasul atau mungkin kita tipe Nabi. Kita harus sadar masing-masing. Menjadi seorang muballigh, ia berada dalam kategori Rasul. Tugasnya sangat berat, tetapi pekerjaan yang mulia. Dia harus kenal untuk sekian tahun berdakwah secara sirr (rahasia), kemudian baru dengan terus terang, harus tahu pula kerja sama dengan Abu Thalib. Muhammad Saw pun tahu bagaimana harus menyuruh ke Thaif, harus hijrah ke Madinah untuk beberapa waktu, dan kapan harus kembali ke Mekah dia tahu momentum sejarah, sehingga dia menjadi tokoh nomor wahid di dalam sejarah umat manusia.

Dengan faktor-faktor baru sejarah umat manusia sekarang, sistem nilai kini sudah sama sekali lain. Gua Hira adalah Gua Hira yang baru. Madinah tempat kita hijrah adalah yang lain, batu yang dilemparkan (kepada Rasulullah) ketika di Thaif adalah batu yang berbeda, berhala yang menyelubungi Ka’bah ketika itu kini berubah bentuknya, dan kaum kafir Quraisy yang menguasai wilayah Ka’bah mungkin kini adalah yang disebut “sistem Dajjal” dengan beberapa pelakunya: entah berbaju merah, berbaju kuning, berbaju hijau, atau yang lain, tetapi mungkin kafir di abad ini bukanlah manusia-manusia, barangkali berada dalam diri sendiri, meskipun kita sudah bertabligh ke mana-mana. Karena itu, seorang muballigh harus menempuh tarekat yang sangat berat supaya bisa memakrifati berhala-berhala baru, jahiliah-jahiliah baru, dan lemparan-lemparan batu yang baru itu.

Sunan Kalijaga, Shafar 1407 H/Oktober 1986
(Diambil dari Sedang Tuhan Pun Cemburu: Refleksi Sepanjang Jalan)

Lainnya

Keluarga Almutahabbina Fillah

Islam Data

Kutub Keasingan

Diam-diam Mensyahadati Islam

Buku dan Merchandise