Bertanggung Jawab atas Ilmu di Maiyah

Sebenarnya tak ingin rasanya bercerita dan memperpanjang ingatan tentang Corona atau Covid-19 ini. Sebab rasa emosional kita sudah jenuh mendengar kata itu yang sudah sangat akrab di telinga kita, bahkan mungkin kita sudah bosan saking seringnya diucapkan. Awalnya, kita menyangka Pandemi Covid-19 ini bisa menjadi sebuah pijakan awal perubahan yang mendasar dalam peradaban kita sekarang. Nyatanya, sampai hari ini tidak terjadi perubahan yang mendasar pada hidup kita, bahkan malah mengakibatkan kita fobia, paranoid, takut, khawatir yang berlebih ketika mendengar istilah Covid-19 diucapkan.

Semua itu terbaca ketika ada berita atau info mengenai Covid-19. Yang terucap oleh mulut kita, “Ealah iku maneh-iku maneh. Sampek kapan awak dewe nglakoni urip koyok ngene.” Ungkapan itu sama persis seperti ketika kita mendengar berita maling yang ketangkap basah lagi oleh pihak keamanan, padahal sudah beberapa kali masuk penjara gara-gara kasus yang sama.

Beberapa waktu selama hadirnya pandemi banyak bertaburan di linimasa media sosial ungkapan kerinduan jamaah untuk Maiyahan. Ada yang mengungkapkannya dengan menyertakan rekam jejak foto Maiyahan dan disertakan emoticon sedih. Juga ditambahi tulisan misalnya “lekas sembuh dunia, rindu maiyahan; kapan bisa Bangbang Wetanan lagi?; kangen maiyahan” dan banyak rekam ungkapan lain yang semua mengungkapkan rasa rindu mendalam untuk bisa Maiyahan seperti sebelum pandemi hadir.

Jangankan untuk Maiyahan. Untuk sekadar ngopi bareng, cangkruk bersama konco-konco di warung kopi saja sekarang kita sudah susah. Di beberapa tempat ada aturan jam malam, belum lagi aturan jaga jarak. Budaya ngopi dan cangkrukan kini seperti tindakan kriminal, harus dilakukan diam-diam, kalau ketahuan aparat setempat, kita akan ditindak tegas karena dianggap melanggar aturan. Belum lagi konsekuensi publikasi di media sosial. Bisa-bisa kita malah jadi bahan bullying di media sosial hanya karena cangkruk dan ngopi di Warkop. Kemudian jari-jemari netizen yang budiman dengan semangat ke-SJW-annya menghakimi kita. Ladhalah….

Tapi kan kita rindu Maiyahan? Harus sampai kapan kita menunggu semua ini berakhir? Sudah pasti, seluruh Jamaah Maiyah merasakan kerinduan untuk Maiyahan. Tapi yang harus kita kreatifi adalah bagaimana sikap kita mengenai situasi seperti saat ini, yang membuat kita tidak bisa Maiyahan seperti dulu. Yai Tohar pada edisi Bangbang Wetan online minggu lalu menyampaikan momen inilah yang seharusnya mengantarkan kita pada Maiyah yang hakiki. Maiyahan itu tidak sekadar kumpul, ngopi, duduk melingkar dari malam sampai pagi menjelang subuh, ketawa haha-hihi. Alhamdulillah ada shalawatannya, ra ketang cangkeme arek-arek plegak-pleguk.

Semoga kerinduan kita untuk Maiyahan itu suatu pancaran terdangkal dari nurani kita yang bisa kita tangkap dan pahami, yang sebenarnya rindu berkumpul dan bekerja sama dalam naungan cinta Allah — yang di dalamnya adalah kumpulan orang-orang al-mutahabbina fillah yang berkumpul karena Allah, bersaudara karena Allah, bertemu karena Allah.

Atau alangkah lebih baik jika kita mulai mempraktikkan muatan ilmu dari Mbah Nun yang sudah tersimpan di sel ingatan kita, yang sudah kita dapatkan selama Maiyahan, sembari belajar dari saudara kita yang sudah mempraktikkan ilmu maiyahan yang didapatnya selama ini — yang buahnya perlahan dirasakan oleh masyarakat banyak. Semacam mencicil rahmatan lil ‘alamin. Sinau bareng kan bukan hanya ketika Maiyahan, bukan?

Mari kita nyicil kegembiraan untuk bertanggung jawab atas segala muatan ilmu yang telah Allah tebarkan melalui tangan malaikat-malaikat-Nya — dan diantarkan melalui Mbah Nun kepada kita yang mbambong dan gentho-gentho ini di setiap sinau bareng yang kita hadiri. Sebagaimana penjelasan Mbah Nun pada Rubrik Tetes dijelaskan “Kegembiraan Bertanggung Jawab”, “InsyaAllah kalau anakmu berwudlu, shalat, menolong orang lain, memilih kegiatan yang konstruktif, menghindarkan diri dari perusakan diri dan lingkungan, puasa dari narkoba dan molimo, atau apa pun, itu bukan karena taat kepada kita, bukan karena takut kepada polisi atau negara, melainkan karena sedang menjalankan kegembiraan bertanggung jawab kepada pencipta-Nya….”

Kita diajak oleh Mbah Nun untuk melatih diri untuk nyicil perbuatan yang konstruktif menuju kebaikan budi. Kita diajak membudayakan berbuat baik dan bermanfaat. Bukan untuk mencari keuntungan pribadi, materi, dan kesuksesan dunia, melainkan untuk melatih diri kita supaya gembira bertanggung jawab kepada Allah yang selalu kita rindukan kehadiran dan peran-Nya. Ilmu yang sudah diturunkan oleh Allah melalui Maiyahan bersama Mbah Nun untuk kita ada nilai tanggung jawab di dalamnya.

Pada Rubrik Tetes yang saya nukil di atas, Mbah Nun mengingatkan kita: kalimat Tuhan tidaklah nun jauh di sana, tetapi di kandungan hati kita bersama.

Surabaya, 17 Juni 2020

Buku dan Merchandise