Belajar dari Terminologi Fakta, Makna, dan Nyata

Wabah Corona telah memukul sendi kehidupan umat manusia sedunia. Ribuan nyawa hilang akibat serangan ganas Covid-19. Hari demi hari korban bertambah. Entahlah, asa kami semoga wabah ini segera reda dan berakhir.

“Terhadap apa pun saja yang dilakukan oleh Lembaga Otoritas Negeri atas hal-hal yang menyangkut Coronavirus, Maiyah tidak berkomentar, tidak mengkritik, tidak memberi saran, tidak memuji dan atau apa pun saja. Maiyah hanya menggali ilmu dan pengetahuan untuk Jamaah Maiyah sendiri.”

Dawuh Simbah di atas patut kita indahkan. Menyikapi pandemi ini alangkah baiknya kita lebih mawas diri. Menengok ke dalam. Menahan untuk tidak koar-koar. Sebisa mungkin kita bersama-sama mencari dan menggali hikmah di balik “musibah”.

Saya teringat satu teori dari Mas Sabrang tentang terminologi “fakta – makna – nyata”. Bagaimana menerapkan terminologi itu? Kita ambil satu contoh sederhana.

Di tengah perjalanan tiba-tiba ban motor kita bocor. Respons pertama yang muncul bisa jadi kita ngomel. Marah-marah. Dan menghardik keadaan. Lantas kita menepi dan bergegas mencari tukang tambal ban.

Asem tenan, selak enek acara malah kenek alangan,” begitu kira-kira sambat kita.

Atau mungkin kita tetap kalem, Stay cool. Menganggap hal ini biasa saja. Lebih baik mencari solusi daripada mengutuk situasi.

Sampai di bengkel tukang tambal ban, kita menerima kabar bahwa di daerah yang akan kita lewati ada pohon besar tumbang di tengah jalan. Allahu Akbar. Seketika kita mengucap istighfar.

Dari kronologi cerita di atas, kita dapat mencerna sekaligus memosisikan fakta, makna, dan nyata. Faktanya adalah ban motor bocor. Namun pemaknaan atas fakta ban bocor bisa sangat beragam.

Fakta ban bocor bisa dimaknai sebagai musibah, karma, hukuman, ujian, atau justru hidayah. Itu bergantung pada pilihan, sikap, positioning kita masing-masing dalam memaknainya. Kalau ban bocor dimaknai dengan sikap yang dangkal, sangat mungkin hal tersebut kita anggap musibah. Dan reaksi yang muncul adalah marah-marah. Anyel, sebel, nggrundel, mangkel.

Sebaliknya, bila fakta ban bocor dimaknai dengan keluasan berpikir, keikhlasan, serta prasangka baik, maka kejadian yang dikira kemalangan itu justru menjadi sebuah kenikmatan. Ban bocor adalah skenario Tuhan untuk menyelamatkan kita dari mara bahaya (tertimpa pohon).

Lantas, apa yang dimaksud dengan “nyata”? Nyata atau kenyataan berposisi Wallahu’alam. Artinya, yang benar-benar tahu kenyataan makna ban bocor itu musibah, karma, hukuman, ujian, atau hidayah hanyalah Sang Maha Pembuat Skenario.

Allah-lah yang mutlak tahu akan hal itu. Kenyataan menurut “versi kita” sifatnya relatif. Dinamis. Dan sarat dialektika. Namun jangan lupa bahwa Allah memberi rumus pada kita, “Aku seperti yang dipersangkakan oleh hamba-Ku.” Logikanya, kalau kita memiliki sangka baik kepada segala takdir-Nya, mudah-mudahan Gusti Allah juga membalasnya dengan kebaikan. Atau bisa sebaliknya.

***

Menurut Mas Sabrang, terminologi fakta, makna, nyata inilah yang menjadi salah satu tolok ukur yang membedakan pemahaman orang Barat dengan orang Timur. Setiap menemukan sebuah informasi atau kasus manusia Barat cenderung “mencari keluar” (mengejar fakta). Dengan pengetahuan dan ilmu (sains) mereka meneliti, mengidentifikasi, mengolah sumber informasi sampai clear dan dapat dipertanggung jawabkan dengan akal. Dengan kata lain kalau sebuah kasus tidak bisa dinalar dengan logika, maka hal tersebut dianggap fiksi atau mitos belaka.

Sedangkan peradaban manusia Timur itu sebaliknya. Mereka fokus “mencari ke dalam” untuk menggali makna. Fakta, bagi orang Timur, tak lebih sebagai faktor, unsur, atau instrumen. Yang jauh lebih penting ialah memaknai sebuah fakta dengan presisi akal dan nurani. Selalu berupaya nggoleki apike pada setiap peristiwa (fakta) yang terjadi. Dengan pemaknaan yang presisi perilaku yang timbul selanjutnya adalah ketepatan bersikap, yang dibungkus rasa sabar dan syukur.

Terminologi fakta – makna – nyata yang ditawarkan Mas Sabrang tersebut (atau saya menyebutnya dengan rantai sistem logika) dapat diterapkan dalam konteks kasus apapun, misalnya Corona. Faktanya, Corona telah menjadi pandemi. Menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ribuan orang meninggal karenanya.

Kalau kita memakai kacamata orang Barat, maka fokus kita adalah mencari fakta tentang segala hal yang berkaitan dengan Coronavirus. Mulai dari asal-usul, gejala, cara penularan, metode pencegahan, hingga proses menemukan antivirus.

Ironinya, dalam proses pencarian fakta tersebut manusia Barat cukup mengandalkan pengetahuan dan ilmu (sains) semata. Sangat sedikit atau bahkan tidak melibatkan Maha Subjek yang mengendalikan makhluk bernama virus.

Berpijak pada rantai sistem logika (fakta – makna – nyata), sebagai orang timur (wabil khusus Jamaah Maiyah), jangan sampai kita terjebak dan berhenti sebatas fakta tentang wabah virus Corona.

Ada langkah selanjutnya yakni proses pemaknaan. Memaknai dengan kejernihan akal dan kemurnian hati. Wabah ini bisa saja sebagai azab, hukuman, balasan, atau sekadar indzar (peringatan) Tuhan. Setiap kita berdaulat untuk memaknai sesuai kapabilitas masing-masing. Yang penting kita menemukan sari hikmah sehingga dapat mendekatkan hubungan kita dengan-Nya.

Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. ‘Aalimul-ghoibi wasy-syahadah, huwar-rohmaanur-rohiim. Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (Q.S. Al Hasyr: 22). Sungguh hanya Allah Yang Maha Tahu perihal kenyataan dan kebenaran dari maksud ditimpakannya wabah Corona kepada seluruh penduduk dunia. Fa’tabiruu yaaa ulil abshoor. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan (Q.S. Al-Hasyr: 2).

Di tengah badai pandemi ini, tak ada cara lain bagi kita selain terus memohon petunjuk kepada Allah Swt. Melafalkan Ya Rohman, Ya Rohim, Ya Hadi, Ya Mubin. Disambung dengan panduan wiridan dari Mbah Nun. Inilah momen baik (bertepatan dengan bulan Rajab dan Sya’ban) untuk mengambil jarak rohani dari dunia maya. Membangun imun sekaligus membangunkan iman dari tidur panjang kealpaan.

Shallu ‘alan Nabi Muhammad.

Gemolong, 1 Sya’ban 1441 H.

Buku dan Merchandise