Ziarah Pemilu

Yang terbaik yang sebaiknya kita lakukan selama masa kampanye dan pemilu insya-Allah adalah memperkhusyuk shalat, menambah jumlah jenis dan kreativitas ibadah, menyaring pengeluaran mulut, membantu atau menolong setiap orang yang dijumpai yang sedang membutuhkan pertolongan, serta berdekat-dekatan dengan orang saleh. Wong kang soleh kumpulono, kata Sunan Kalijogo, mentrasfer ma’rifat empiris Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Mengenai hal yang terakhir ini kita nyanyikan lagi hikmah kontekstual “sebaik-baik ulama adalah yang didatangi umara, seburuk-buruk ulama adalah yang mendatangi umara”. Adapun alkisah kemudian memang sungguh tidak gampang mentukan kriteria dan formula identifikasi tentang orang saleh dewasa ini. Kenyataan inter-relasi struktural di antara manusia, lembaga dan fungsi-fungsi, telah  sedemikian canggihnya, sehingga benar-benar tidak gampang memilih yang mana yang saleh.

Kalau umpamanya terminologi yang kita pakai adalah konstelasi Umayah-Bilal-Abu Bakar, maka peta zaman dewasa ini sedang sedemikian complicated-nya dan sedemikian over-dinamisnya untuk setiap kali “menangkap” bahwa yang ini adalah Umayah yang sedang menyelenggarakan kekufuran dan menindas Bilal, sedangkan yang itu benar-benar seorang Abu Bakar yang mengorbankan diri menebus nasib tauhid sang Bilal.

Ke-Umayah-an, ke-Bilal-an dan ke-Abu Bakar-an memiliki relativitas kasuistik dan berubah-ubah dalam rentang waktu. Kita hampir tidak bisa sedang berjalan berdampingan dengan Abu Bakar secara konstan dalam satu jam, karena pada menit kesekian kita tiba pada konsteks lain yang membuat kita kaget karena yang berjalan di sisi kita itu ternyata Umayah juga. Relativitas yang sama sangat bisa juga terjadi pada kedirian Abu Bakar sendiri dan Bilal. Bahkan Bilal yang hadir dalam konteks tukang becak, tukang parkir atau sopir, mendadak bisa mengejutkan kita yang pada momentum tertentu lantas mem-Bilal-kan kita ini sendiri.

Tokoh wayang punakawan yang bernama Togog saja pun, menurut ki dalang Sujiwo Tejo—yang termasuk saya favoriti—: kini sedang mengalami kebingungan yang memuncak. Ia ditugasi Sang Hyang Wenang (Al-Malik) untuk mempunakawani (mengawal, mengingatkan, mengontrol) penguasa yang lalim. Di dalam lakon-lakon wayang tradisional yang disebut penguasa lalim itu secara simplifikatif diwakilkan pada pihak Rahwana dalam Ramayana atau Kurawa pada Mahabharata.  

Tetapi Togog yang kenyang dengan pengalaman abad 20 tidak lagi bisa memakai cara berpikir simbolik-formal semacam ini. Penguasa yang lalim pada pandangannya lebih bersifat kata kerja dinamis dibandingkan kata benda statis. Kelaliman (kedhalim-an, atau lebih benar lagi secara harafiah: dhulm) tidak diwakilkan oleh suatu  subyek sejarah secara permanen, melainkan direpresentasikan secara dinamis oleh konteks dan kasus yang berkembang dan berubah-ubah dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Togog mengambil kesimpulan sementara bahwa ia tidak mengawal suatu pihak, suatu golongaan atau kelompok, melainkan  mengawal nilai. Ia boleh membelot dari istana dan menngembara ke mana saja asalkan ia mengkritik setiap kelaliman.

Resikonya, alam pikiran zamannya belum berjalan seiring dengannya. Masyarakatnya masih teguh berpikir simbolik-formal. Pokoknya jangan dekat-dekat pada pihak yang sudah mutlak dirumuskan oleh “ma’rifat umum” sebagai penguasa lalim. Kalau Togog beredar dan menggeser-geser sepak terjangnya nilai kelaliman, maka ia secara sangat gampang dituduh plin-plan.

Khalayak tidak menilai Togog berdasarkan pada apa yang ia lakukan, melainkan berdasarkan pada di mana ia berada dan ke mana ia pergi. Penglihatan dan ilmunya sederhana; kalau Togog mampir ke kandang kambing, meskipun itu karena ada kambing yang sedang masuk angin dibutuh dipijat, orang menyimpulkan Togog adalah kambing,  bahkan ada yang menyebut Togog itu begundhal-nya kambing.

Ilmu seperti itu tidak salah. Itu psikisme orang patah hati pada kambing, yang permasalahannya sesungguhnya tak ada kaitannya dengan Togog.

Irasionaloitas pergaulan yang menjadi muatan kesulitan ala Togog ini kalau dikembalikan pada wong kang soleh kumpulono, yang tergampang adalah—pada bulan-bulan pemilu ini—mempersedikit pertemuan dengan orang hidup dan memperbanyak pertemuan dengan orang mati. 

Maksud saya, banyak-banyaklah melakukan ziarah. Mungkin bersama teman-teman sejawat berombongan bikin tour keliling ziarah ke makam-makam Walisono (bukan Walisongo, lho). Orang-orang yang masih hidup, biar pun tokoh yang sudah sangat populer, kini identifikasinya serba sangat relatif. Maka mestinya identifikasi tokoh-tokoh yang sudah wafat agak lebih jelas, meskipun tidak tertutup kemungkinan proses manipulasi historis bisa mebuat tokoh ini atau itu bertahan masthur (tersembunyi kasunyatan-nya dari mata manusia) sampai akhir zaman.

Tradisi ziarah ini, sepanjang tidak menjebak pelakunya dalam syirik dan tahayul, bisa sangat bermanfaat. Sekurang-kurangnya setting fisik suatu lingkungan pemakaman leluhur secara estetik lebih kondusif bagi kebutuhan spiritual psikologi pendatangnya, dibanding ruang diskotik atau pentas dangdut. Kalau tujuam ziarah sebatas pada keperluan untuk memproses sumblimasi batin dan penjernihan pikiran tentu tak ada soal.

Tapi banyak juga sih penziarah yang melangkahkan kakinya ke suatu pemakaman dalam rangka kapitalisme atau kekuasaan. Ziarah berfungsi mirip dengan lobi ke birokrat untuk mendapatkan akses ekonomi. Almarhum juga difungsikan sebagai tlundakan (tangga) sukses ekonomi atau karir. Sebagaimana datang ke pengajian pun orang banyak datang antara lain untuk ‘berkah laris dagangan”-nya dan gampang naik pangkatnya.

Katakanlah orang berziarah bukan untuk mohon dagang laris dan naik pangkat dalam mekanisme tahayul, melainkan dimaksudkan sebagai proses identifikasi dan penyerapan energi dari aura sejarah almarhum yang diziarahi. Maka penerapan tematik ziarah menjadi harus ditentukan secara seksama. Kalau ziarah ke makam Sunan Ampel, umpamanya, ya mestinya tidak dengan tujuan menyerap fadlilah laris dagang dan ambisi politik, karena dalam kedua soal itu Baginda Ampel maupun Walisongo justru sangat zuhud (menahan diri dan menidakkan kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Tematik ziarah menjadi harus ditentukan secara seksama. Kalau ziarah ke makam Sunan Ampel, umpamanya, ya mestinya tidak dengan tujuan menyerap fadhilah laris dagang dan ambisi politik, karena dalam kedua soal itu Baginda Ampel maupun semua Walisongo justru sangat menerapkan zuhud (menahan diri dan mentidakkan kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Kalau sedang dirundung ambisi atau ras amanah untuk merebut kekuasaan, cocoknya mungkin cari makan Anusopati yang dulu sanggup menikam Ken Arok—bapak sambungnya yang sakti dan dalam jangka waktu yang sangat panjang sanggup menjalankan “strategi Kebo Ijo dan Keris Empu Gandring:” untuk perebutan dan pelannggengan kekuasaan. Atau justru ziarah ke makam Ken Arok sekalian, agar mungkin mentrasfer energi untuk men-Tunggul-Ametung-kan entah siapa yang ia pusingkan.

Saya sendiri bersama beberapa sahabat menjumpai makam Raden Sahid tapi bukan di Kadilangu Demak. “Ini Raden Sahid siapa?” kami bertanya kepada penjaganya. “Ya Kanjeng Sunan Kalijogo waktu muda!”jawabnya.

O, jadi Sunan Kalijogo sepuh dimakamkan di Kadilangu. Yang di sini ini Kalijogo muda ketika masih bernama Raden Sahid. Kesimpulannya kami harus mencari di mana makam Sunan Kalijogo waktu masih kanak-kanak.

24 April 1997

Buku Cak Nun