Untill We Are Ready, Crazy Little Thing Called Maiyah

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Maret 2019 (2)

“This thing called love, I just can’t handle it
This thing called love, I must get round to it
I ain’t ready
Crazy little thing called love…”

Saya sampai tidak sengaja ikut berseru, “Ready, Freddie!” Saat suara Mas Doni nenyanyikan lagu Crazy Little Thing Called Love milik Queen, sampai pada bagian “Untill i’m ready”. Dalam rekaman, Roger Taylor-lah yang menyerukan “Ready, Freddie!” dan entah bagaimana ini jadi tradisi di kalangan penggemar Queen mau siapapun yang menyanyikan lagu tersebut, penonton akan berseru Ready, Freddie! Ini adalah lagu pertama dan mungkin satu-satunya yang diciptakan Freddie Mercury dengan gitar. Karena Freddy tidak bisa main gitar maka chord gitarnya sangat simpel. Untuk menyamai sound gitar asli dari Freddie, Brian May akan menggantinya dengan Fender Telecaster saat membawakan lagu ini, demi mendapat sensasi orang yang tidak bisa main gitar.

“I gotta be cool, relax…” Suara Mas Doni diiringi dengan permainan gitar Mas Patub dan personel Letto lainnya. Ini, Crazy Little Thing Called Maiyah eh Called Love dibawakan pada majelis Mocopat Syafaat 17 Maret 2019 M. Masih di halaman TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Tidak untuk mendramatisir hujan, tapi memang hujan dan menggenag malam itu sampai-sampai Mas Helmi pada awal acara sempat bercanda mengatakan para jamaah duduk di perairan.

Maafkan kalau tadi memulai dari lagu tersebut. Tampaknya Mbah Nun sendiri juga sangat antusias saat lagu tersebut dibawakan.

Mbah Nun menyatakan pada malam tersebut, bahwa ada hal yang akan disampaikan berkenaan dengan Maiyah dan ini juga berkaitan dengan kondisi dunia saat ini yang memang semakin terasa membutuhkannya. Tapi kesiapannya perlu diperhitungkan matang-matang. Tapi juga Mbah Nun sampaikan bahwa para JM sebaiknya tetap punya kemampuan untuk menikmati dunia. Istilahnya jangan terlalu nyufi. “Selama itu semua dalam rangka menikmati kehidupan akhirat”. Dalam berbagai majelis cinta bernama Maiyah ini, kita selalu paham bahwa dunia dan akhirat tidaklah saling terpisah. Jasad dan tubuh, ruh dan raga, dunia dan akhirat, masa lalu dan masa depan, menyatu manunggal dalam syahadat. Kesaksian cinta.

Dalam ber-Maiyah kita menggali kembali dan selalu kesiapan kita. Waktu tidak menunggu kita siap dan cinta bisa datang menghujam tanpa kita pernah tahu kapan datangnya. Seperti lirik lagu Queen itu, kan?

Maiyah bukan sesuatu yang besar secara jumlah massa, dan memang tidak pernah ada urusan dengan jumlah followers. Bahkan kita tidak jadi fans dan followers belaka. Mbah Nun tegaskan juga, “Anda tidak perlu datangin semua majlis Maiyah yang jauh-jauh” terasa penekanan di sini adalah agar Maiyah tidak menjadi kewajiban yang memeberatkan. Kita berkumpul untuk bersama, meringkankan sesama dan menggembirakan.

Soal tidak menjadi followers ini, juga Mbah Nun kisahkan bahwa dalam hidup Mbah Nun tidak pernah ikut bersaing apa-apa untuk merebut apa-apa. “Tapi anda jangan lantas begitu. Anda mesti tetap fastabiqul khairat.” Jelasnya, Mbah Nun seperti sedang memberi kita contoh bahwa yang kita jadikan guru bukanlah seseorang yang kita copy paste jalan hidupnya. Tapi kita bisa memilih untuk mengambil saripati yang prinsipil dan menerapkan dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan itu sekali lagi, kita mempersiapkan diri pada peradaban cinta yang akan datang.

Karena tadi terlanjur bahas lagunya Queen. Saya juga jadi teringat, Brian May gitaris Queen dikenal sebagai gitaris yang unik karena begini juga. Era 70 hingga 80-an, ketika demam Glam Rock menyerbu, para musisi berlomba menunjukkan skill musik mereka. Brian May tidak tampak dalam pertunjukan jago-jagoan main gitar itu, gitaris yang mendalami astro-fisika ini memilih bermain harmonis dengan rekan-rekannya. Tapi dengan sendirinya, orang tahu bahwa dialah juga layak dikenal sebagai dewa gitar sepanjang masa. Baiklah, walaupun dalam urutan saya pribadi David Gilmour di Pink Floyd tetap nomor satu.

Mas Sabrang menambahkan, bahwa memang ada beberapa orang yang secara sadar atau tidak berperan sangat banyak karena dia berada di luar hierarki sosial. Yang bermain di luar arena permainan yang lumrahnya orang ketahui.

Maiyah punya sisi ini. Karena dia berada di luar struktur. Maka ketika para ormas berlomba mengangkat tokoh-tokohnya sebagai orang suci yang tidak manusiawi, Maiyah tetap berusaha seobjektif dan serasional mungkin dalam memandang segala fenomena. Ada sisi di luar nalar yang umumnya, ketika orang-orang berlomba memperbanyak massa, Maiyah tenang berjalan di tengah badai zaman.

Memanglah, crazy little thing called Maiyah ini punya potensi membangun peradaban baru. Organisasi keagamaan yang kita kenal sekarang, kebanyakan berdiri di era kolonial dan mau tidak mau perlu diakui, ada pengesahan kolonialis di situ. Kita juga tidak bisa mempertahankan versi sejarah sempit bahwa apa-apa yang diwariskan kolonial pasti buruk. Tapi kalau urusannya kemudian dibikin versi sejarah bahwa ormas agana kita semua pasti adalah pelawan kolonial sejak awal, jelas ada yang keliru dalam kita memandang sejarah.

Kehadiran Mbak Nanik yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif juga adalah warna sendiri. Entah partai apa dan Pak Tanto Mendut juga berkata halus (dari standar kehalusan beliau sendiri tentu) tidak peduli partai apa “Orang semua partai sama saja.” Kutipan ini sudah diperhalus dengan menghilangkan unsur-unsur asu, bajingan dan sebagainya itu. Mbak Nanik memberi kita perspektif bahwa apa yang biasanya kita anggap lumrah bisa saja tidak begitu lumrah atau bahkan agak menyulitkan bagi orang seperti beliau.

Apa itu normal? Entahlah. Dan Mbah Nun mengungkapkan, “Ini gara-gara manusia kenal standardisasi. Seolah ada standar tinggi badan normal seperti ini dan yang lainnya tidak normal. Siapa yang menentukan?” Kita berada pada era modernitas dengan segala sesuatunya memuja ukuran dan standar yang tampak oleh mata.

Namun soal pencalonan Mbak Nanik, Mbah Nun tegaskan bahwa di sini, di Mocopat Syafaat dan di berbagai majelis Maiyah lainnya, kita tidak bisa menyatakan akan memilih atau mendukung. “Yang bisa kita lakukan adalah beritikad menggali kebenaran dan kebersamaaan dari masing-masing kita,” jelas Mbah Nun.

Memang Maiyah tentu tidak semurahan itu untuk menyatakan mendukung atau tidak mendukung. Semua berhak memilih dan bersikap. Ini crazy little thing called Maiyah. Kecil saja secara jumlah. Kita tak seberapa. Tapi cukup berani untuk mendobrak kemapanan pikir yang telah dianut berabad-abad.

Buku Cak Nun