Tiga Profesor Eropa Temui Cak Nun di Rumah Maiyah

Sejak pukul 09.00 WIB pada hari Kamis tanggal 28 Maret 2019 M Rumah Maiyah, di Kadipiro tampak cukup ramai. Mereka yang berkumpul ini rata-rata tidak punya keangkuhan untuk berkata bahwa mereka adalah sample yang bisa mewakili secara representatif keseluruhan Jamaah Maiyah. Mereka datang bersedekah pagi-pagi, tentu karena pertama memang lowong waktunya dan kedua mereka hadir untuk turut bersilaturrahmi dengan tamu yang datang jauh-jauh ke Kadipiro pagi hari ini. 

Tiga akademisi dari Eropa hari ini berkunjung diantarkan oleh Mas Karim. Kita tahu Mas Karim beberapa bulan kemarin sering tampak di berbagai lingkar Maiyah berbagai tempat, lokasi dan dimensi. Jelas sekali bahwa Mas Karim sendiri tampak menikmati perjalanan sunyi beliau. Tapi selain itu, Mas Karim memang sedang menyelesaikan riset beliau tentang peran agen non-state dalam hal keamanan, untuk itu sample yang diambil oleh Mas Karim adalah Jamaah Maiyah dan Banser.

Mbah Nun ditemani Pak Toto, Mas Sabrang, Mas Jamal dan Mas Helmi pertama-tama menemui Prof. Denis Rodgers, Dr. Laurens Bakkers dan Dr. Adam Higazi di ruangan pribadi Mbah Nun. Akademisi-akademisi ini ingin menyimak lebih intens perihal Maiyah dari Mbah Nun langsung yang dianggap sebagai inisiator utama Maiyah. Tentu status semacam ini kita tahu sering ditampik oleh Mbah Nun sendiri di berbagai majelis Maiyah. Namun memang semua hal dan setiap orang memiliki limitasi pandang dan keterbatasan kuota bahasanya masing-masing dalam mengungkapkan sesuatu. Dunia akademisi tak terkecuali. Dan sebagai orang-orang yang mendalami ilmu sosial terutama antropologi, hal ini disadari betul oleh para tamu kita pagi ini.

“Mereka datang kesini untuk bertukar pikiran dan yang terutama sekali menyambung hati satu sama lain,” begitu Mas Helmi membuka pengantar ketika para tamu dipersilakan berramah-tamah di ruang tamu. Suasana tampak cair saja. Kita ingin mendengar sudut pandang mereka dan mereka ingin mendengar sudut pandang kita. Lita’arofu, saling mengenal, adalah peristiwa yang selalu dinanti oleh para pejalan Maiyah.

Mbah Nun menyampaikan sedikit heran kenapa penelitian mengenai keamanan mengambil sample Maiyah. “Maiyah hampir tidak pernah membahas mengenai keamanan,” ungkap Mbah Nun. Tapi justru dari situlah uniknya. Dan bukankah, kebaikan yang sangat mulia adalah kalau kita melakukan kebaikan tanpa berpikir bahwa itu pasti kebaikan? Jalan sunyi Maiyah rasanya disadari atau tidak berujung pada sumbangsih kebaikan yang semacam tersebut. Ada getar keamanan, kegembiraan dan kenyamanan yang terpancar dari setiap manusia-manusia yang ber-Maiyah dan mungkin itulah yang dirasakan oleh Mas Karim sehingga mengambil sample Maiyah sebagai agen sekuritas non-state.

Tapi siapa, apa dan bagaimana orang Maiyah itu? Prof. Lawrence yang cukup lama berada di Indonesia mengaku sudah cukup paham dengan berbagai majelis dan ormas keagamaan di Indonesia. Tapi saat mendengar Maiyah, menurut beliau terasa samar-samar “seperti pernah dengar”. Maka pagi ini adalah kesempatan beliau juga untuk menggali Maiyah lebih dalam. Sebab kalau sekadar majelis pengajian dan ormas, toh itu hampir tidak jauh berbeda dengan kumpulan-kumpulan spiritual di berbagai negara yang pernah mengalami kolonialisme. Kalau sekadar agen keamanan milisi para-militer atau sipil yang dimiliter-militerkan, itu fenomena lumrah yang banyak ditemukan di berbagai belahan dunia. Tapi Maiyah, apa Maiyah ini?

Mas Karim membahasakan para Jamaah Maiyah kepada para akademisi sosial ini sebagai “Followers Maiyah”. Walau sekadar memudahkan bahasa, Mbah Nun sedikit menolak istilah tersebut. Sebab menurut Mbah Nun, “Mereka yang datang ke Maiyah bukan followers, bukan pengikut.” Tidak bermental fans. Ini juga tentu diikuti dengan mental tidak cari followers.

Seorang jamaaah putri, Mbak Farisa menegakkan martabatnya. Dengan lancar Mbak Farisa menegaskan pagar bahwa banyak peneliti dari luar yang menjadikan kita objek dan menetapkan standar atas peradaban menurut yang terbaik bagi mereka. Namun secara pagar ilmu sosial, kita bisa berpikiran positif bahwa tentu para akademisi ini juga sudah menyadari posisi dan limitasinya. Prof. Lawrence menegaskan kembali hal ini, yang rasanya ini adalah bahasan paling dasar dalam kajian ilmu sosial bahwa mereka datang ke sini untuk mendengar pandangan sini terhadap dunia dan sangat senang juga bila perlu membagikan pandangan-pandangan mereka. Sedangkan Prof. Denis yang juga adalah promotor penelitian Mas Karim menjelaskan bahwa dia sangat menyadari dirinya adalah orang yang belajar ilmu sosial dari bangku kuliah, namun dirinya menyadari bahwa bentuk interaksi dan komunikasi selalu berubah.

Peradaban dunia adalah satu jalinan yang berkelindan, hanya belakangan sering dibuat mundur oleh bakunya batas imajiner bernama negara dan bakunya tafsir-tafsir serta kelas otoritas keilmuan. Mbah Nun menjelaskan lebih presisi, “Maiyah bukan diukur dari parametermu, justru Maiyah itu parameter”.

Cukup banyak bahasan yang ternyata masih asing bagi para akademisi ini ketika dijelaskan oleh Mbah Nun. Misal bahwa yang disebut keberagaman tidak hanya antar ras, etnis dan agama tapi juga antar individu. Juga bahasan soal, “Hidup adalah satu rumah dengan banyak pintu,” tambahan Mbah Nun lagi, “di Maiyah anda bisa bikin pintu sendiri untuk memasukinya.” Ini penting disampaikan Mbah Nun karena kita hidup di dunia yang selama ini berjalan dengan memandang bahwa hidup seperti rumah dengan banyak kamar. Mas Sabrang juga menjelaskan dengan bahasan tentang efektivitas dalam menempuh perjalanan diri.

Bahasan yang tampaknya cukup membuat para akademisi tamu kita agak terperangah mungkin ketika Mbah Nun menjelaskan mengenai, “Nabi Muhammad tidak butuh wahyu. Wahyu itu untuk semua manusia, dititipkan kepada Muhammad Saw”. Kita yang terbiasa berada pada atmosfer Maiyah bisa saja justru luput melihat di mana keistimewaan Maiyah karena kita terlalu dalam larut. Sesekali memang kita perlu melihat dari pintu dan jendela yang berbeda. Apakah Maiyah ini sekadar sama saja dengan kumpulan-kumpulan pengajian, tukang diskusi, grup spiritual atau yang lainnya? Atau memang, Maiyah memang adalah parameter baru bagi peradaban baru di depan.

Pertemuan pagi hingga siang ini kemudian ditutup dengan makan bersama, Soto Kudus telah tersedia. Obrolan berlanjut dengan lebih cair dan penuh canda tawa. (MZF)

Buku Cak Nun