Tenteramnya Nalar Kepanditaan Rasional

Tasyakuran di Ndalem Yudaningratan, 17 Januari 2019

Pikiran itu mekanismenya. Rasio itu sifatnya. Akal beda lagi ternyata. “Tolong lihat KBBI, lihat kata “akal” dan kata kerjanya “mengakali”. Selama ini konotasinya (mengakali) jelek, ngapusi, menjebak, menyiasati. Padahal itu prinsip utama di dalam ajaran Allah, ya’qil itu artinya meng-akal-i. “Afala ta’qilun” mengapa engkau tidak meng-aqal-i. Meng-aqal-i artinya memperlakukan sesuatu dengan kerja akal. Memperlakukan sesuatu dengan nalar.”

Begitu Mbah Nun sampaikan di Ndalem Yudaningratan Jl. Ibu Ruswo No 35, Yogyakarta, di hadapan handai taulan serta keluarga Keraton Ngayogyakartahadiningrat. Ini tanggal 17 Januari 2019 M, empunya kediaman, Gusti Yudaningrat atau lengkapnya Drs GBPH H Yudaningrat, MM sedang tasyakuran ambal warsa, milad, atau birthday beliau yang ke-61 tahun. Pada usia ini, tampaknya Gusti Yuda merasa sangat perlu lebih mengasah diri menuju ketenteraman. Karena begitulah maka pada acara ini Mbah Nun dimintakan nasihat betul-betul, sehingga Gusti Yuda berposisi mendengarkan dengan seksama wejangan-wejangan Mbah Nun.

Waktu dimanfaatkan dengan efektif karena kita tahu pada malam ini juga majelis Mocopat Syafaat sedang berlangsung, Mbah Nun hadir di Mocopat Syafaat setelah menshodaqohkan ketenteraman yang dibutuhkan oleh Gusti Yuda dan para hadirin yang kebanyakan tentu adalah keluarga Keraton juga. Karena itulah pada kali ini memang sedikit lebih mirip tausyiah daripada Sinau Bareng yang biasanya. Konteks kondisi dan kepentingan nuansa pandangnya berbeda memang. Tidak sampai satu jam Mbah Nun berbicara, bahasan yang padat dirangkum. Hanya ada sedikit terjadi tanya jawab kilat dengan Mas Kimpling pada penghujung. Kutipan kalimat Mbah Nun di atas juga sebenarnya merupakan respons atas pertanyaan Mas Kimpling mengenai apa itu nalar dan bedanya dengan akal.

Mbah Nun didampingi oleh dua “punokawan dan ponokawan” yang pas tidak pernah menyela walau begitu juga pandai mengisi celah di mana bisa menyempilkan sedikit joke yang sangat efektif. Kita tahu bahwa dagelan Mataraman memang hasil temuan kultural Keraton Yogyakarta, elaborasi konsep punakawan yang dijadikan cara untuk mengkritik dan menertawakan diri sendiri. Tidak setiap pentausyiah siap dengan kejutan-kejutan lelucon, dan Mbah Nun tampaknya bukan saja sigap melayani kenakalan para puno dan ponokawan, tapi juga melengkapi dengan candaan namun kesemuanya tidak menipiskan sajian ilmu. Sejak awal Mbah Nun merespons.

“Ini bukan gento, kalau dalam tradisi Jawa ada punakawan dan ada ponokawan. Kalau punakawan itu sahabat yang setia, kalau ponokawan itu sahabat yang menemani dan dia lebih tahu daripada yang ditemani. Sekarang ini para pemimpin tidak punya punakawan tidak punya ponokawan. Makanya banyak ngawurnya.” Tawa para hadirin yang notabene bisa dikatakan mayoritas berada pada tampuk kepemimpinan kultural justru meledak.

Agak sulit juga menyebut ini tausyiah karena sejak awal Mbah Nun tidak memulakan dengan salam yang formal. Ternyata itu ada alasannya dan dari situ Mbah Nun menyampaikan bahwa salam adalah penyampaian niat baik, iktikad untuk saling mengamankan, karena itu hukumnya sunnah. Sedangkan, menjawab salam disebut hukumnya wajib karena ketika ada orang beriktikad baik untuk bersikap aman kepada kita, maka kita juga lumrahnya membalas iktikad baik tersebut dengan kadar serupa bahakan dianjurkan lebih.

Maka salam bukan formalitas belaka, sementara juga Mbah Nun sedikit singgung kebiasaan para pejabat zaman now yang suka memperpanjang salam seolah harus merangkum salam dari berbagai agama dan kepercayaan untuk dapat dipercaya bahwa dia sedang bersikap mengamankan. Bukan soal urusan teologis, tapi menurut Mbah Nun hal semacam ini juga tidak efektif. Semua salam niatnya baik, ucapkan sesuai agama dan kepercayaan sendiri saja dan nanti bisa dibalas sesuai kepercayaan yang membalas. “Saya tidak mengatakan semua agama sama. Telo karo jagung bedo, ning bareng-bareng podo-podo ngekeki gizi nang wong.” Maka demi ketenteraman itulah Mbah Nun sempat sampaikan pada Gusti Yuda, “selamat berhijrah dari keksatriaan menuju kepanditaan”.

Posisi Keraton Ngayogyakartahadiningrat sekarang ini oleh pola pikir NKRI dipandang sebagai bawahan atau bagian dari negara yang baru lahir di tahun 17 Agustus 1945 itu. Keraton-keraton se-Nusantara memang sedang mesti bersabar dengan bocah bungsu ini dan Mbah Nun membesarkan hati para keluarga keraton bahwa aslinya keraton adalah pusakanya negara. Bahwa orang lupa pada apa itu pusaka maka menurut Mbah Nun di situlah orang-orang seperti Gusti Yuda perlu tenteram hatinya.

“Di Indonesia kata pusaka sudah hilang, sudah tidak pernah dihayati dan tidak pernah dipakai untuk dasar manajemen pengelolaan bangsa Indonesia di bidang apapun.” Konstelasi pacul, pedang dan keris juga dibabarkan untuk melengkapi sajian ilmu ketentraman ini. Kita tahu belaka, di Indonesia pedang yang untuk menjaga mereka yang macul justru dipakai untuk macul. Maka tenteramlah, tenteramlah. Wa mahuwa tenteram? Nah ini juga penting sekali dan memang secara khusus Gusti Yuda meminta dibabarkan ilmu ketenteraman itu dari Mbah Nun.

Sedikit dan sesekali memang ada singgungan bahasan dengan kahanan negeri bungsu bernama NKRI sana itu. Tapi tingkat urgensi NKRI tidak begitu tinggi kali ini, karena NKRI jelas tidak bikin tenteram. Bahasan soal ketenteraman oleh Mbah Nun diupayakan seholistik dan sekomperhensif mungkin sehingga perlu dimulai dari konsep tafakkur, tazdakkur dan tasyakkur. Semua adalah kata kerja ke dalam dari pikir, dzikir dan syukur, hanya saja ketiganya ini lebih bersifat ke dalam. Jadi ketika orang sudah bertasyakkur menurut Mbah Nun dia sudah siap menerima apa saja yang datang padanya, tidak lagi tergantung objeknya tapi dia yang telah matang untuk bersyukur.

Buku Cak Nun