Sakit Jiwa Sosial

Bernas, 26 Januari 1991

Kalau orang sakit panas, mungkin bisa dicarikan terapi dengan acuan dari Nabi Ibrahim. Kalau stress, bisa berkaca pada Ayyub. Soal-soal pencernaan, nempil dikit ke Muhammad. Atau banyak komplikasi fisis yang sumbernya dari terpotongnya hubungan antara manusia modern dengan manajemen cinta dan kesehatan model Isa dan Daud.

Adapun yang paling gampang, tentu saja kalau kita terkena santet atau tenung. Lebih gampang lagi, apabila seorang pasien menginsafi bahwa ia bukanlah pasien, melainkan dokter atau dukun atas dirinya sendiri.

Di dalam segala filosofi ilmu ketabiban, kesehatan, dan kesembuhan, dapat kita katakan bahwa pihak pertama adalah Allah, dan pihak kedua si penderita; sedangkan dokter, psikiater atau Mas Dukun tak lebih dari pihak ketiga, yang tidak dimiliki oleh hampir semua orang yang pada keadaan tertentu berduyun-duyun mendaftarkan dirinya menjadi pasien yang membuat seorang pelayan disebut dokter, seorang pembantu disebut psikiater, dan seorang buruh disebut dukun.

Makhluk yang bernama kesehatan atau kesembuhan telah diklaim dan dikapling sebagai milik khusus dan hak khusus dan otoritas khusus para dokter, psikiater, dan dukun. Makhluk itu menjadi komoditi dunia profesional, sementara masyarakat tak punya posisi lain kecuali konsumen dari komoditi itu.

Padahal produsen utama dari kesehatan dan kesembuhan pada hakikatnya adalah orang yang sedang digauli oleh suatu penyakit itu sendiri. Adapun “Produsen Agung”-nya tentu saja Allah sang pemilik segala arasy dan awang-uwung.

Terus terang saja itulah yang secara rutin menjadi bahan pusingnya kepala Mas Dukun. Orang memandangnya sebagai juru penyembuh: orang berdatangan untuk pasrah bongkokan sambil melontarkan kalimat penyekutu Tuhan: “Saya yakin hanya Mas Dukun yang bisa menyembuhkan saya…”

Gampang sekali orang menomorsatukan yang nomor dua. Gampang sekali orang menuhankan yang bukan Tuhan.

Kalau problem yang dibawa seseorang itu bersifat praktis—misalnya penyakit fisik ala kadarnya atau santet atau semacam kesurupan—Mas Dukun bisa tanpa banyak cincong menanganinya.

Tapi, kalau yang disodorkan kepadanya adalah efek dari penyakit-penyakit sosial, disinformasi tentang pemahaman-pemahaman hidup, atau mungkin salah kuda-kuda mental, intelektual atau spiritual, maka Mas Dukun harus mereformasikan berbagai mismanagement tatanan nilai dalam dunia kesadaran dan kebawahsadaran orang tersebut.

Penyakit-penyakit semacam ini bukan main kompleks, luas, dan ruwetnya. Terkadang ada orang yang memang tak sanggup lagi untuk memahami apa yang ditanggungnya. Lebih-lebih lagi merumuskan keruwetan-keruwetannya. Kebiasaan yang tinggal hanyalah menatap semacam kegelapan. Dan kegelapan itu adalah dirinya sendiri: dirinya gelap, sementara mripat pandangannya juga buta sedemikian rupa.

Tetapi kadangkala tidak sedikit anak-anak muda mendatangi Mas Dukun untuk menyodorkan sesuatu yang sesungguhnya sama sekali bukan problem. Ia berkata tentang buntu, kosong, bingung, deppressed, namun setelah digali bersama apa gerangan itu semua—ternyatalah bahwa faktor-faktor itu sebenarnya tidak cukup potensial untuk menindas mental mereka apabila saja terlatih untuk mendayagunakan akal sehat dan pengetahuan tentang pokok-pokok nilai kehidupan.

Seorang anak muda gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungannya dan menangis, serta merasa buntu dan tak berarti—hanya karena dulu orangtuanya kaya sekarang melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan! []

(Dimuat dalam buku Surat Kepada Kanjeng Nabi, Emha Ainun Nadjib, Mizan, 1996)

Buku Cak Nun