Panser Biru Sinau Bareng Berani Berubah dan Berbenah

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-18 Panser Biru, 3 April 2019

Medley Era dibawakan KiaiKanjeng bersama beberapa jamaah sebagai pembuka Sinau Bareng malam ini di lapangan Wonderia, di dekat pusat kota Semarang, Jawa Tengah. Malam ini tanggal 3 April 2019 Masehi. Acara Sinau Bareng digelar oleh komunitas suporter sepakbola. Ini malam terakhir dari perjalanan enam hari Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng sejak di Jepara, lanjut Gresik, Bangkalan, Lumajang, sampai Kudus. Timnya namanya PSIS dan suporternya bernama Panser Biru. Setelah sedikit googling, diketahui PSIS dijuluki Laskar Mahesa Jenar. Apakah imi Mahesa Jenar yang dalam seri “Nogo Sosro Sabuk Inten”?

Mungkin tidak semua orang bisa memahami dinamika dan alasan orang menjadi suporter atau kenapa orang bisa suka sesuatu bernama sepakbola. Tapi kita bisa berusaha mencoba meresapi apa yang berbeda dari kita. Menjadi bersifat ruang.

Setiap kali Sinau Bareng digelar oleh komunitas-komunitas suporter, nuansa yang terasa selalu adalah militansi, loyalitas dan egaliter. Kita bangsa tropis khatulistiwa ini, apalagi setelah tersentuh kolonialisme, cukup mudah menjadi militan pada apa-apa kumpulan yang kita terlibat. Militan tidak selalu buruk, asal dia tidak menghilangkan kemandirian dan kedaulatan pikir manusia secara individu. Dan agar kita tidak terjebak pada militansi dangkal, maka kita perlu pemahaman sejarah.

Ketika Mbah Nun sudah berada di atas panggung Mbah Nun sempat memberi satu poin ilmu bahwa kita perlu mengerti asal muasal segala yang kita terlibat di dalamnya. Jangan kita hanya mengerti mangga tanpa tahu bagaimana dia ditanam, biji benihnya seperti apa dan segala macam pengetahuan di baliknya. Orang yang militan seperti orang yang sedang dimabuk cinta, tak jarang kehilangan rasio, logika dan akal sehat. Sinau Bareng, Maiyah, hadir di tengah masyarakat dunia yang sedang mabuk pada militansi-militansi dan Maiyah tidak bertujuan untuk menipiskan lapisan cinta militan itu. Tapi justru mempertebal cinta dan membuka saluran yang mampat agar dia tetap menjadi logika keilmuan.

“Malam ini tema kita adalah Berani Berubah Berani Berbenah. Jadi ada perubahan ada pembenahan”, Mbah Nun membuka demikian. Dihadapan ribuan jamaah, hadirin dan sebagian besar suporter yang hadir.

Mbah Nun kembali me-refresh ingatan kita soal poin perubahan–yang juga telah disampaikan pada Maiyahan di Lumajang dan Kudus sebelumnya–dengan pengorbanan Ibrahim dan Ismail. Mesti berjiwa brahman Ibrahim, rela mengorbankan apa yang paling dicintai. Dan nyatanya, toh Allah ternyata juga tidak betul-betul tega ketika Ibrahim AS sudah bersedia mengorbankan Ismail yang dicintainya.

Di hadapan panggung pendukung Laskar Mahesa Jenar, Mbah Nun menjelaskan mengenai konsep wasilah. Kalau disambungkan, bukankah dalam cerita silat karya SH Mintardja Mahesa Jenar adalah seorang yang sangat menghormati jalur-jalur “wasilah” keilmuan namun ternyata dengan ketulusan dan kemurnian hatinya mampu menembus jalur-jalur para pendekar itu dari Wirasaba hingga ke Kebo Kanigoro. Mahesa Jenar sering memperhatikan dan meniru gerak hewan di alam. Dia selalu terbuka pada gerakan-gerakan baru. Apakah ini Mahesa Jenar yang sedang digembleng untuk terbuka pada ruang-ruang gerak yang baru?

Namanya Sinau Bareng, maka utamanya yang di panggung belajar kepada jamaah dan jamaah bersama-sama belajar. Salah satu metodenya adalah dengan workshop singkat padat efektif efisien. Tiga kelompok workshop dibentuk oleh Mbah Nun dari sukarelawan Panser Biru. Ketika diminta rembug singkat menentukan nama, kegembiraan terasa. Nama kelompok masing-masing disepakati: Sinchan, Jamaah Tribun, dan Campuran.

Workshop ini sebagai jalan menyerap aspirasi langsung dari Panser Biru untuk dimasuki bersama sesuai tema Berani Berubah Berani Berbenah. Kepada tiap kelompok Mbah Nun memberi pertanyaan untuk didiskusikan dan nanti dipresentasikan: (1) Apa ide kelompok Anda untuk perubahan Panser Biru dan PSIS sehingga siap untuk berbenah?; (2) Apa hubungan sepakbola dengan Tuhan, Malaikat, Nabi, dan Agama?; dan (3) Apa tujuan Anda menjadi suporter?

Paling lama waktu satu jam diberikan untuk mereka berdiskusi di belakang panggung. Sementara itu, hati belasan ribu Panser Biru yang hadir digembirakan oleh KiaiKanjeng dengan nomor-nomor Perdamaian, Fix You, dan One More Night dilanjut Beban Kasih Asmara. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun