Menggali Puisi Iman Budhi Santosa dengan Kedalaman Saintifik Suryomentaram

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 April 2019

Tidak setiap bulan sebuah teori terkuak dan ditemukan bukti penguatnya. Tanggal 11 April 2019M ini, teori Einstein mengenai black hole akhirnya dapat ditangkap oleh rangkaian kamera satelit yang disebar di berbagai penjuru bumi dan digabung dalam satu bahasa gambar. Teori tersebut akhirnya mulai menemukan bukti yang gamblang di mata, jauh setelah pencetusnya tidak lagi berada di dimensi yang ini.

Tanggal 11 April 2019 ini juga Mbah Nun sedang membersamai dan menguatkan Pak Novel Baswedan yang tepat satu tahun kasusnya berjalan dan belum menemukan titik terang. Dan seperti tanggal 11 setiap bulannya, tanggal 11 Apruil 2019 M ini juga Perpustakaan EAN kembali menyelengarakan diskusi rutin Sewelasan di pendopo Rumah Maiyah, Kadipiro, Gang Barokah yang bertetangga agak jauh dari NKRI.

Diskusi Sewelasan kali ini membawa buku Jiwa Puisi karya almarhum Mbak Dian Lufia Rahmawati. Karenanya sejak awal sekali Bu Roh mengajak para peserta diskusi untuk mengirimkan doa terbaik untuk seseorang yang telah menyumbangkan gagasan dan idenya dalam bentuk buku ini. Ini juga sebenarnya adalah hasil dari penelitian beliau almarhumah.

Dalam buku ini, puisi Pak Iman Budi Santosa dibedah dengan berlandaskan teori atau ajaran-ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram. Pak Iman Budi Santosa hadir secara lahir batin, namun Ki Ageng Suryomentaram mungkin hadir secara batin saja. Keberlangsungan satu teori, seperti kita pelajari pada apa yang terjadi tepat pada hari ini, ketika Katie Bouman berhasil menangkap image black hole. Kontinuasi dari teori yang hampir seabad usianya oleh Einstein.

Dalam pengetahuan atau kawruh, manusia saling bekerja sama. Dan capaiannya, juga tentu adalah capaian bersama seluruh penduduk peradaban bumi. Romantisme kesukuan dan kebangsaan bisa untuk kita kenang-kenang manis romantis, tapi urusannya selalu bukan itu. Tidak begitu penting sebuah teori berasal dari siapa dan dari mana. Sains adalah estafet dari satu generasi ke generasi. Ki Ageng Suryomentaram mungkin juga adalah pemegang tongkat estafeta dalam proses pendidikan zamannya, yang sesuai dengan kondisi era dan masyarakatnya. Kita perlu melanjutkan estafet itu.

Semangat kontinuasi kawruh jiwa Ki Ageng Suryomentaram itu sangat terasa kalau kita mendengarkan Mas Ryan Sugiarto yang menjadi salah satu pembabar bahasan malam hari ini. Sebaiknya pembaca yang budiman memang memiliki buku yang dibahas malam hari ini, dan juga buku Psikologi Raos karya Mas Ryan. Dalam buku tersebut Ki Ageng Suryomentaram ditempatkan sebagai dasar teori dalam ilmu psikologi. Dan memang seperti itu bukan? Hanya karena pandangan kita selama ini kurang imbang, sehingga kadang kita mendengar nama Suryomentaram menjadi sangat klenik.

Faktanya, Ki Ageng Suryomentaram lahir pada 1892. Itu adalah era modernisasi Jawa, ekonomi sedang beranjak pada liberalisme dan lahan pertanian telah dikuasai berbagai pemilik saham baik yang dari Eropa maupun Amerika, ini bahannya cukup banyak kalau kita ingin pelajari. Novel Sherlock Holmes sudah terbit waktu itu. Ini memang tidak dibahas oleh Mas Ryan tapi saya cukup teringat beberapa jalinan data sejarah yang sedang hangat di era kelahiran Ki Ageng Suryomentaram. Artinya memang, Ki Ageng Suryomentaram tidak setradisional yang kita kira selama ini. Beliau adalah tokoh modern juga. Atau mungkin, pandangan kita mengenai modern-tradisional yang selama ini agak kurang pas panggonan-nya. Mas Ryan menjabarkan banyak hal mengenai Ki Ageng Suryomentaram dan juga dari pengalaman beliau bagaimana tantangannya membawa wacana Kawruh Jiwa Suryomentaram ke dalam dunia akademis kampus yang selalu berdasar teori dari Barat.

Perlu kita akui kita memang banyak melihat hal semacam ini. Selalu memandang pengetahuan dari Barat selalu lebih tinggi dan mulia atau lebih rasional dan objektif. Tapi kita juga bisa melihat titik balik yang cukup ekstrem di mana fenomena purifikasi budaya seolah ingin mengenyahkan yang berbau asing dan terlalu mengkultuskan lokalitas. Mungkin kita semua perlu berpikir ulang soal mana lokal dan global, kita pelu lebih dialektis soal lokal-global ini.

Tampaknya ini juga sama semunya. Budaya barat bukan segalanya, dan budaya kita juga tidak sempurna-sempurna amat tapi inilah yang kita punya. Sudah cukup pola pikir terlalu meninggikan salah satu dari yang lainnya, setiap budaya perlu memberikan sumbangsih dalam peradaban bersama manusia ke depan. Bukan dalam persaingan saling membinasakan tapi dalam pekerjasamaan dan kontinuasi keilmuan. Malam ini, Suryomentara sedang dikontinuasi dan puisi-puisi Pak Iman sedang digali bersama.

Selain terjadi dialog, beberapa apresisi puisi juga hadir. Mbak Fitri menyumbangkan pembacaan puisi Pak Iman dan kemudian disusul oleh Pak Untung Basuki, maestro dan sesepuh teater. Kita tentu ingat Pak Untung Basuki adalah seorang sahabat karib Rendra dan juga dekat dengan Mbah Nun. Lagu Hati Matahari yang sering dibawakan KiaiKanjeng adalah berasal dari nada lagu ciptaan Pak Untung Basuki.

Malam itu para peserta diskusi Sewelasaan selain mendapat bonus ilmu yang mendalam juga mendapat serbuan keindahan yang syahdu. Sayup-sayup dari Syini Kopi di depan sana, suara Sting mengalunkan lagu bernada Timur Tengah, Desert Rose. Malam tangggal 11 April 2019 ini, diskusi sewelasan sedang sangat puitis dan saintifik sekaligus. Dalam dan indah seperti puisi dan berkelanjutan seperti sains. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun