Mengasah Kemampuan Manajerial Menuju Kemesraan

Liputan singkat Sinau Bareng Manifest Jurusan Manajemen UII, Dero Condongcatur, 5 Juli 2019

Sejak awal ketika KiaiKanjeng tampil di panggung Bu Anne sudah turut menyertai dengan alat gambus beliau. Nada etnik sederhana namun megah yang mempetualangi kebudayaan demi kebudayaan, peradaban demi peradaban dalam nomer Kenduri Shalatullah yang sedikit dipersingkat dari versi aslinya di album Perahu Nuh digeber. Dan kemesraan pun tersaji.

Tidak butuh waktu lama Mbah Nun pun turut naik ke panggung dan menyapa para jamaah yang memenuhi lokasi Sinau Bareng di Balai Padukuhan Dero Condong Catur. Mbah Nun langsung memberi dialog penuh cinta, “Anda berpijak di tanah milik siapa?” sontak jamaah menjawab “Allah”. Mbah Nun melanjutkan, “Saya doakan dari dalam tanah muncul getaran hidayah, dan dari langit pun muncul getaran hidayah”. Mbah Nun kemudian menguatkan hati kita semua untuk menghadapi masa-masa hadapan yang akan selalu penuh perjuangan “Tidak usah berharap apa-apa dari Indonesia. Tidak usah berharap Indonesia menolong kita. Kita yang akan menolong Indonesia”. Kalimat Mbah Nun ini sangat dalam menyentuh. Mbah Nun kemudian mempersilakan pihak yang terkait untuk memperkenalkan diri dari Perangkat  desa, kepala desa Concat, hingga Kepala Dukuh Dero.

Bu Anne juga dipersilakan untuk memberi perkenalan. Bu Anne sudah sejak pertengahan 1990-an intens meneliti berbagai hal yang berkaitan dengan etnomusikologi, qiroah dan gender di Indonesia. Namun menurut Bu Anne kedatangannya kali ini tidak untuk penelitian melainkan untuk menyambung silaturrahim dan dalam rangka launching buku beliau dalam versi terjemahan bahasa Indonesia.

Diberi kesempatan bagi pihak yang ingin bertanya kepada Bu Anne. Dan tampil pertanyaan-pertanyaan dari para muda belia. Dua pertanyaan di antaranya sedikit mirip. Penanya pertama bertanya mengenai kesan pertama yang didapat oleh Bu Anne di negeri ini, pertanyaan kedua tidak jauh berbeda menanyakan soal pendapat Bu Anne tentang keragaman budaya. Sementara yang terakhir seorang “Pujakesuma” alias Putra Jawa Kelahiran Sumatera bertanya bagaimana agar kebudayaan lokal dapat lebih dikenal oleh masyarakat sendiri.

Soal first impression ketika awal ke negeri ini, Bu Anne bercerita bahwa saat tiba pertama kali di tahun 1996 adalah bulan Ramadhan dan beliau sangat terkesan dengan betapa kayanya ragam nada yang bertebaran hampir setiap malam. Sesungguhnya nada adalah kekayaan sendiri yang mungkin tidak kita sadari, karena sebuah nada mungkin menempuh perjalanan mengarungi samudera kebudayaan sampai lada telinga kita atau terlantunkan dari diri kita. Soal keragaman budaya, Bu Anne secara khusus sangat berterima kasih pada Mbah Nun. Bu Anne teringat bahwa ketika ikut tour KiaiKanjeng di Madiun Mbah Nun menceritakan soal cara manusia Nusantara membungkus nasi pun bisa sangat berbeda-beda satu sama lain. Ada kreativitas budaya yang selalu muncul, selalu baru dan dari Mbah Nun Bu Anne belajar bahwa apa yang beliau pahami selalu belum final. Sang Pujasera direspons oleh Bu Anne bahwa tidak semua seni etnik harus naik ke pop-culture karena dalam pop-culture selalu ada akar muasal yang terlupakan. “Bahkan malam ini saya jadi belajar mengenai Pujakesuma,” ujar Bu Anne. Memang beginilah Sinau Bareng di mana semua saling belajar satu sama lain.

Menariknya, ketika Bu Anne bercerita tentang temuan-temuan beliau terhadap seni bernapas Islam, Bu Anne menyebut beberapa jenis seni, tradisi dan ritual seperti marawis, qasidah modern, Banjari, sholawatan namun Bu Anne juga menyebutkan tempat KiaiKanjeng dalam konteks seni ini. Tampaknya bagi Bu Anne, KiaiKanjeng adalah fenomena sendiri yang bisa disejajarkan dengan kreativitas-kreativitas kemesraan yang sifatnya mengabadi.

Karena gelar Sinau Bareng kali ini diinisiatifi oleh mahasiswa-mahasiswi jurusan Manajemen UII dalam rangkaian MANIFEST maka kita juga sedang mencoba lebih tertata dalam me-manage pikiran, hati, dan batin. Tiga kelompok workshop dibentuk dan diajak mengolah serta mengelola pikiran, meneguhkan logika. Salah satu pertanyaan yang cukup memancing dialog misalnya Mbah Nun berikan pertanyaan mengenai ada berapa jenis sistem hukum yang paling mengikat, dan lebih tinggi mana posisinya antara hukum negara dan hukum agama.

Mbah Nun sedikit memperingatkan kita bahwa kemampuan manajerial ini sangat penting agar kita bisa presisi pada skala prioritas. Bahwa agama adalah ciptaan Allah sementara prodak lain berupa negara maupun mazhab hanyalah inisiatif manusia. Tapi itu tidak berarti kita tidak menghormati negara, kita jadi bisa me-manage sikap atas ketidaksetujuan kita terhadap apapun di dunia sehingga semuanya memproduksi kemesraaan dan penerimaan satu sama lain. Mbah Nun menekankan, bahwa ini sangat penting karena telah berulang kali dalam sejarah, kita masih berkutat dengan metode pembinasaan, pemberangusan hingga pembubaran kepada yang berbeda. “Kalau kita tidak hati-hati dengan hal semacam ini, kita akan mengulangi yang sudah-sudah dan bisa-bisa kamu kena sendiri,” nasihat Mbah Nun. Sinau Bareng masih berlanjut, masih berjalan. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun