Malam Perdana Sastra Liman

Suasana malam sedang semarak di Rumah Maiyah, di Kadipiro. Tiga tiang di pekarangan dibalut oleh warna-warni kain Shibori pada Selasa malam 5 November 2019. Untuk pertama kalinya diadakan gelaran “Sastra Liman” yang rencananya akan dibuat rutin pada tanggal lima setiap bulannya sekaligus pada tiap penerbitan majalah Sabana. Pada edisi perdana acara ini, Sastra Liman juga menjadi ajang re-launching majalah Sabana yang sekarang bernama lengkap “Majalah Sastra Maiyah Sabana”. Ini adalah edisi kesepuluh, namun juga sebuah kelahiran baru.

Acara dipandu oleh Mbak Umi Kulsum yang setelah menyapa para hadirin kemudian memberikan kesempatan untuk sesi sambutan. Dalam sambutannya, Pak Budi R Sardjono, salah seorang pengasuh Sabana, menyatakan bahwa Sabana ingin memberi lebih banyak ruang bagi generasi muda. Sedikit bercanda Pak Budi Sardjono katakan “Yang sudah tua-tua ini, kan sudah bau tanah. Ya bau parfum juga”. Tawa yang menyambut sepertinya tawa yang merenung. Memang dalam edisi kali ini, bahasan mengenai apa yang lazimnya disebut generasi milenial diangkat oleh majalah Sabana. Pun, ruang-ruang ekspresi juga lebih banyak diluangkan pada mereka yang berusia kisaran dua puluhan awal, bahkan ada yang masih di sekolah menengah atas.

Istilah millenial juga diberi sedikit garis kritik oleh sesepuh kita Pak Iman Budhi Santosa dalam pidato beliau malam hari ini. Menurut Pak Iman, istilah ini agak bermasalah karena sesungguhnya setiap zaman juga adalah berada pada rentang sebuah milenium. Pak Iman mengajukan istilah “kiwari” sebagai alternatif untuk istilah milenial. 

Mbah Nun memberikan kita kado keilmuan yang sangat padat dalam Sabana edisi kali ini, dengan tulisan berjudul “Pada Mulanya Adalah Bukan Kata”. Dan ketika malam telah berpuncak Mbah Nun membersamai para hadirin dengan kehadiran yang utuh penuh cinta. Pada mula sekali, Mbah Nun berpesan agar kita semua selalu punya minimal tiga kesadaran yakni sadar spektrum, sadar skala, dan sadar perspektif. Ini semua dibutuhkan agar kita tidak salah dalam mengambil keputusan-keputusan hidup.

Kita diajak kembali oleh Mbah Nun untuk merenungi apakah kita berada dalam sebuah pengalaman ataukah pengalaman yang berada dalam kita? Dan untuk itu kita memang perlu menuntut diri untuk terus bergerak, baik bergerak secara ketubuhan, hati, pikiran, jiwa. Selalu kembara. Selalu melanglang buana.

“Allah itu Maha Penyair yang luar biasa” ungkap Mbah Nun. Dan itu bermakna semua karya-Nya adalah maha sastra yang sangat tinggi, misterius seperti puisi dan Mbah Nun melanjutkan “Hidup itu harus puitis”. Menyenangkan sekali berada dalam pengalaman ketidakpastian, penuh kemungkinan keindahan. Keutuhan pola yang ber-rima serta misteri-misteri yang tidak akan tuntas terjamah seperti puisi. Seperti Pak Mustofa W Hasyim yang juga hadir. Dan atau, seperti nostalgia petik-petik puitik yang dikisahkan Mbah Nun mengenai Umbu Landu Paranggi serta para anggota PSK (Persada Studi Klub) pada masanya. Mereka manusia-manusia yang puitis.

Pendekar-pendekar yang hadir malam hari ini juga memang ragam pula bentuk, jenis dan species budayanya. Seorang pendekar wanita bernama Tiara, berrambut cepak dengan tato yang indah di leher kiri, anting salib berkerlingan di kupingnya melengkapi kulit putih dan sorot mata ramahnya. Dengan segera teman-teman relawan yang sedang praktek di Perpus EAN menghampiri Tiara dan mengajak interview barang sebentar. Rupanya Tiara adalah seorang mahasiswi jurusan sastra di sebuah universitas di Yogyakarta. Wawancara ini dan wawancara dengan hadirin lain nanti bisa pembaca yang budiman saksikan di postingan IG TV @GamelanKiaiKanjeng dan @perpus_ean.

Spirit Sinau Bareng memang kita bawa kemanapun dan dimanapun. Malam ini, bukan sekadar pagelaran sastra belaka. Dialog, tanya-jawab juga dihadirkan. Beberapa pertanyaan diajukan oleh beberapa hadirin. Pak Iman, Pak Mustofa W Hasyim serta Mbah Nun dengan semangat kepengasuhan yang luar biasa merespons.

Salah satu pertanyaan yang menarik, mungkin adalah pertanyaan mengenai sastra profetik dari seorang mahasiswa. Mbah Nun kemudian jelaskan bahwa kita sebaiknya tidak terlalu terjebak dalam kungkungan kata-kata yang sudah terpolusi makna.

Dari kata radikal, jilbab dan hijab atau apapun. Semua mengalami ketersesatan makna sehingga keputusan-keputusan yang dilahirkan dari ketersesatan itu menjadi ketersesatan lain yang makin menambah kegelapan di atas kegelapan. Di sinilah Sastra Liman hadir sebagai sebuah ruang untuk kembali memancangkan logika, rasionalitas, dan keindahan makna.

Soal kata “profetik” secara spesifik Mbah Nun jelaskan bahwa apapun jenis pekerjaan yang bersifat rohaniah itu sebenarnya sedang menjalani tugas kenabian. Sedangkan sesuatu itu bersifat rohaniah atau tidak, kita pula mampu memutuskannya dengan mandiri. Artinya, kita bisa menjadikan segala konsentrasi kita bersifat profetik. Bersifat dan bersikap secara kenabian. Mbah Nun tegaskan bahwa sastrawan itu juga pekerjaan kenabian, begitupun dokter dan apapun selama dia dirohanikan.

Tanpa terasa malam telah memijak pukul 00.00 WIB, malam tetap mesra dengan tawa dan bahagia. Helai demi helai kemesraan semacam ini yang kelak akan kita kenang, karena yang sekarang akan menjadi masa lalu juga. Kita berpuisi, menghadirkan jiwa sastra untuk masa-masa yang masih misteri. Seperti puisi.

Buku Cak Nun Majalah Sabana