Maiyah sebagai Pendidikan Alternatif Sosial-Kemasyarakatan (4)

KiaiKanjeng sebagai Instrumen Pendidikan

KEBERADAAN KiaiKanjeng sebagai format musik tak terlepas dari pementasan drama reportoar berjudul Pak Kanjeng pada 1993. Seperti diketahui, drama tersebut merupakan bentuk solidaritas Mbah Nun dalam melawan hegemoni Orde Baru, khususnya keberpihakannya terhadap rakyat Kedungombo yang tergusur tempat tinggalnya karena pembangunan waduk.

Lakon ini kemudian menjadi nama komunitas yang mulanya dikenal dengan sebutan ‘Komunitas Pak Kanjeng’. Melalui kesadaran menyosialisasikan bentuk kesenian yang peduli terhadap persoalan sosial-politik, komunitas ini mencoba menerapkan bentuk keseniannya sebagai media kritis dalam memandang persoalan sosial-politik yang tengah berkembang bebas. Kemunculan nama Gamelan Kiai Kanjeng yang menjadi identitas komunitas maupun alat musik, hadir atas semangat kreatif dan kegelisahan para pendukungnya” (Mohammad, 2005: 56)

Menurut Pratama (2016: 06) KiaiKanjeng merupakan sebuah nama konsep nada yang digubah Novi Budianto. Komposisi nada pada alat musik gamelan KiaiKanjeng berbeda dengan tangga nada yang sering dipakai: laras pentatonis dengan dua jenis nada, yakni slendro dan pelog. Perbedaan itu terletak pada jumlah bilahan: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol dengan nada dasar G= do atau E minor. Keunikan gamelan KiaiKanjeng itu menandakan kreativitas dan otentisitas yang merdeka. Meski konsep gamelan KiaiKanjeng berbeda dengan aturan alat musik lain, melalui tangan kreatif Novi Budianto, Joko Kamto, Doni, Islamiyanto, dan personel lain, musik jazz, dangdut, blues, rock, hingga campur sari dimainkan olehnya dengan fantastis. Bahkan, alunan merdu shalawat pun disampaikan dengan merdu dan kontemplatif.

Khalayak umum telah mengenal KiaiKanjeng sebagai eksplorator yang tak membatasi pada aliran atau jenis musik. Komposisi alat musik KiaiKanjeng memungkinkan mengeksplorasi musik Jawa, Melayu, Sunda, Dayak, Cina, dan Barat sekali pun. Pada suatu kesempatan, Mbah Nun menyampaikan bentuk eksplorasi universal KiaiKanjeng sebagai sikap “post-globalisme” yang diejawantahkan di pelbagai kehidupan. Ia menyampaikan demikian lantaran menghindari “padatan-padatan” yang bersifat parsial: modern atau tradisional. Keduanya justru dikonstruksi secara kreatif oleh CNKK (Cak Nun-KiaiKanjeng).

Sebagai instrumen alat musik trans genre, pada tahun 1996, KiaiKanjeng meluncurkan album Kado Muhammad. Masyarakat Indonesia gayung bersambut. Lantunan gita berjudul Tombo Ati sebagai salah satu shalawat yang diawali oleh berbait-bait puisi gubahan Mbah Nun dan personel KiaiKanjeng turut membangkitkan gairah keislaman di Indonesia yang berbasis tradisi lokal. Oleh sebab itu, pendekatan kultural lewat musik tersebut mampu menarik atensi masyarakat umum. Atas peran Mbah Nun dan KiaiKanjeng, komunitas sosial yang berseteru di berbagai daerah di Indonesia bisa terredusir.

KiaiKanjeng pentas bersama Cak Nun di Bojonegoro untuk mempertemukan para blandong dengan pemerintah (Perhutani) yang saat itu sedang berkonflik. Begitu pula di Pati, antara masyarakat petani dengan pemerintah. Juga sewaktu KiaiKanjeng dan Cak Nun hadir di Kalimantan di antara masyarakat Dayak dan Sampit yang sedang panas-panasnya bertikai. Di situ KiaiKanjeng ikut memberikan pelumas jiwa melalui lagu, wirid, dan sholawat mendampingi proses pencegahan konflik vertikal-horisontal yang dilakukan oleh Cak Nun. Karena itu KiaiKanjeng adalah kelompok musik plus ikut mengerjakan upaya pencegahan konflik” (Dokumen Progres, 2016: 22)

Buku Cak Nun