Khuruj KiaiKanjeng dan Nasionalisme Pak Nevi

Mengetahui KiaiKanjeng berperjalanan acara dalam 10 sehari terakhir ini tanpa pulang Jogja, seorang kawan saya menyebut KiaiKanjeng sedang dalam khuruj. Ini istilah yang biasanya diartikan pergi meninggalkan rumah keluar kota bahkan keluar provinsi dan pulau untuk berdakwah. Namun KiaiKanjeng, seperti kita tahu punya paradigma dekonstruktif dan rekonstruktif tersendiri menyangkut apa yang disebut sebagai dakwah. Saya kira teman-teman mengerti hal ini.

Yang kita mungkin perlu sedikit persegar sedikit ingatan kita adalah bahwa khuruj-nya KiaiKanjeng berlangsung sepenuhnya atas undangan berbagai lapisan masyarakat. Seperti kita tahu, dalam pembelajaran Maiyah, kenyataan diundang oleh masyarakat ini punya beberapa makna tersendiri. Dan, KiaiKanjeng punya keyakinan dan istilah spesifik untuk ini: diperjalankan.

Seperti tadi malam, pagi barusan pulang dari Surabaya, malamnya segera acara di RSU Sakina Idaman. Dan sore tadi, KiaiKanjeng sedang dalam perjalanan menuju Colomadu Karanganyar buat Sinau Bareng di Lapangan Desa Baturan malam nanti dalam rangka Grebeg Suran.

Pak Nevi yang 26 Agustus lalu sudah pulang dari menunaikan ibadah Haji, sejak tadi malam sudah bergabung kembali dengan deretan jadwal diperjalankan tersebut. Termasuk sore ini, saya satu mobil dengan beliau. Istimewa beliau ini. Sebagian teman-temannya memanfaatkan perjalanan untuk istirahat. Bahkan jika sebagian yang lain tadi sebelum pada tidur, ada yang menyibukkan diri dengan membuka medsos, menyimak berita, dll, maka Pak Nevi beda sendiri.

Beliau nonton youtube. Yang ditonton bukan musik atau yang lain, tetapi video upacara kemerdekaan RI. Disetel agak keras, dan tampaknya beliau belum mengenal headset hehe maafkan, sehingga yang duduk di sekitarnya dapat mendengarkan setiap aba-aba dalam upacara itu. Suaranya mencuri perhatian telinga saya juga tentunya. Apa yang terjadi pada Pak Nevi. Pulang ibadah haji, rasanya semakin meningkat saja nasionalismenya.

Sepanjang perjalanan Jogja-Solo ini, Pak Nevi tidak tidur, tetapi menikmati perjalanan, memandang keluar kaca mobil, terlihat beliau siap untuk rangkaian khuruj KiaiKanjeng pada jadwal-jadwal berikutnya. Sebentar lagi kami akan segera tiba di lokasi acara. Warga mobil hiace ini sudah on semua. Suara-suara terdengar lagi. “Kae lapangane, gari golek pintu masuk ke lapangan,” terdengar suara Adin memandu driver.

Buku Cak Nun