Hikmah Di Balik Musibah: Butir-butir dari Al-Qur’an

Pendahuluan

Kata “musibah” berasal dari bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Pengertian awal kata musibah adalah “sesuatu benda yang mengenai atau menimpa pada sesuatu benda lain.” Kedua benda itu, baik yang mengenai maupun yang dikenai, boleh benda konkret ataupun abstrak.

Salah satu hikmah besar Al-Qur’an yang berbahasa Arab dan masih terpelihara keasliannya hingga kini telah memungkinkan kita menggali konsep-konsep yang terkait kata penting dalam kehidupan manusia. Di antaranya adalah kata musibah, yakni melalui kata yang berasal dari kata kerja intransitif showaba.

Al-Qur’an menyebut kata yang berhubungan dengan ‘musibah’ ini sebanyak 77 kali dalam 56 ayat dan 27 surat. Tulisan ini diturunkan semata-mata dari 56 ayat ini saja.

Pengertian Musibah

Al-Quran menggunakan istilah musibah untuk 4 (empat) makna, yaitu pertama makna asal yang telah disebut di awal tulisan ini. Kedua, sesuatu dari langit yang menimpa bumi, seperti hujan (QS 2: 19 dan 30: 48), angin berapi (QS 2: 266), angin dingin (QS 5: 117), guruh dan halilintar (QS 13: 13), hujan es (QS 24: 43) dan angin (QS 38: 36). Makna ketiga ialah kebaikan atau keburukan yang menimpa manusia, seperti rahmat Allah (QS 12: 56) dan adzab kepada kaum Nabi Luth as (QS 11: 81). Makna keempat adalah yang terbanyak disebut oleh Al-Quran, yaitu keburukan yang menimpa manusia. Al-Quran jelas menumpukan pesannya untuk makna yang keempat ini.

Al-Quran menyatakan bahwa sesuatu musibah terjadi melalui proses hukum sebab-akibat (kausalitas). Pandangan ini bersumber dari “hipotesis” awal ajaran agama Islam bahwa Allah Ta’ala adalah “Sebab dari segala sebab” atau Causa Prima, maka Iradah (Kehendak) Allah Swt adalah termasuk “sebab”.

Pernyataan Al-Qur’an tentang musibah ini menggunakan beberapa gaya penuturan, yaitu (1) semua kejadian di bumi terjadi atas kehendak Allah (QS 4: 78, 64: 11), (2) semua tertulis dalam “Lauh al Mahfuzh” (QS 57: 22). Yang ke (3) menyatakan bahwa ulah manusia adalah sebab dari berlangsungnya proses kausalitas.

Empat Tujuan Allah Mendatangkan Musibah

Walaupun begitu Allah Swt menegaskan bahwa Allah Swt menyediakan alam di sekitar manusia dengan keadaan awal yang baik, dan perbuatan manusia mengakibatkan kerusakan (antara lain QS 4: 79, dan S. 41: 30). Karenanya, ada jenis musibah yang lebih dahsyat dari musibah fisik, yaitu musibah rusaknya akhlak manusia sendiri, terutama perangai melawan Ajaran Tuhan (QS 8: 25, S. 11: 81 dan 89, S. 16: 34, S. 28: 47-48, S. 39: 51, S. 42: 30 dan 40 dll). Dalam tataran inilah musibah itu datang ditujukan kepada manusia: (1) sebagai adzab dari Tuhan.

Adakah tujuan lain saat Allah mendatangkan musibah kepada manusia? Ada, yaitu agar: (2) kaum beriman (Mukminin) menjadi kuat dan tahan uji (QS 3: 153) karena musibah hanyalah ujian keimanan dari Allah Swt (QS 3: 165-166), (3) kaum beriman (Mukminin) menjadi waspada terkena imbas musibah akibat perbuatan melanggar ajaran Allah Swt (QS 8: 25), dan (4) agar umat manusia ingat kembali pada Ajaran Tuhan Allah Swt dan mengamalkannya secara penuh (QS 7: 100-101 dan 156).

Yang Perlu Dilakukan Saat Menghadapi Musibah dan Sesudahnya

Al-Qur’an mengajarkan untuk melakukan 5 perkara dalam situasi musibah, yakni (1) bersabar (QS 2: 156), (2) bersabar dan bertaqwa/berhati-hati menjaga pelaksanaan syariat (QS 3: 120 dan S.31: 17), (3) menaati Allah dan Rasul-Nya (QS 3: 172), (4) waspada terkena musibah/adzab akibat perbuatan dholimin (QS 8: 25), (5) tetap konsisten melaksanakan ajaran Allah meski dibenci oleh orang ingkar, karena musibah adalah ujian keimanan (QS 3: 165-166) dan kedengkian kepada mukmin tidak akan menimbulkan musibah apapun (QS 3: 120).

Siapakah Yang Berpotensi Mendapatkan Adzab?

Pertanyaan di atas sangat wajar kita ajukan buat panduan dan bahan muhasabah (introspeksi) ke dalam diri kita. Al-Qur’an menyebut banyak orang yang berpotensi memperoleh adzab dari Allah Swt dan sifat-sifatnya. Yaitu (1) orang munafik (QS 4: 62), (2) yang berlambat-lambat atau tidak pergi dalam berjihad (QS 4: 72-73, S. 9: 120), (3) yang tidak berhukum pada hukum Allah (QS 5: 49), (4) yang meminta diberi kekuatan seperti kekuatan Nabi (QS 6: 124), (5) yang suka berbuat dosa (QS 6: 124), (6) yang suka membuat tipu daya pada mukminin (QS 6: 124), (7) yang menuduh mukminin sebagai sumber bencana (QS 7: 131), (8) yang tidak beriman atau bertaqwa atau berzakat (QS 7: 156), (9) yang berlaku dholim (QS 8: 25), (10) yang melakukan homoseks /LGBT (QS 11: 81), (11) yang mengingkari ajaran Nabi (QS 11: 89), (12) yang mengolok-olok Al-Qur’an (QS 16: 34), (13) yang menyembah Allah namun tak begitu yakin pada Allah (QS 22: 11) dan (14) yang menjauhi Rasulullah/tak suka sunnah Rasul (QS 22: 35).

Penutup

Allah berfirman dalam QS Ar Ra’du 13: 31:

وَلَوْ أَنَّ قُرْءَانًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْئَسِ الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Mohammad Djafnan Afandie, Ponpes Budi Mulia, Banteng Tiga, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Catatan: Tulisan ini diangkat dari ceramah penulis di Majlis Cahaya Iman, pandeansari, Condongcatur dan di Masjid AL-MAarhamah, Candi Gebang Permai, Wedomartani, Sleman, Yogyakarta pada 27 dan 28 Oktober 2018 yang lalu, pasca musibah gempa di Palu-Gorontalo.

Buku Cak Nun