Doa Khatmil Qur’an Pada Sinau Bareng

Setiap kali selesai mengkhatamkan membaca al-Qur’an tiga puluh juz, kita dianjurkan membaca doa khatmil Qur’an. Doa ini ada di bagian akhir mushaf al-Qur’an. Adakalanya mengkhatamkan membaca al-Qur’an tersebut merupakan kebiasaan individu, namun sangat sering ia merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam berbagai bentuk, cara, dan momen. Pada akhirnya, khataman al-Qur’an sebagaimana dapat kita lihat telah menjadi salah satu tradisi keagamaan yang hidup di dalam masyarakat.

Yang paling umum misalnya adalah tradisi tadarus al-Qur’an di mushalla atau masjid selama bulan Ramadhan. Pada akhir bulan Ramadhan itu biasanya ada khataman yang menandai tadarus al-Qur’an telah selesai. Artinya, al-Qur’an sudah selesai dibaca sampai 30 juz, bahkan bisa lebih dari satu kali putaran. Pada saat khataman itulah, doa khatmil Qur’an akan dibaca. Menariknya, khataman ini juga sering diacarakan dengan mengundang banyak orang dan ada hidangan makan bersama, misalnya nasi ingkung.

Itu salah satu contoh. Contoh lainnya, bisa kita jumpai dalam suatu hajatan seseorang. Ini biasanya mengambil bentuk mengkhatamkan membaca al-Qur’an dalam satu kali majelis. Sebanyak tiga puluh orang disiapkan. Masing-masing dapat jatah membaca satu juz. Maka dalam hitungan waktu kurang lebih satu jam, seluruh 30 juz al-Qur’an sudah terbaca. Lalu seseorang di antara mereka akan bertugas membaca doa Khatmil Qur’an.Dahulu sekali di pesantren ada istilah khataman bin nadhor. Yang dimaksudkan dengan khataman jenis ini adalah mengkhatamkan membaca al-Qur’an dengan melihat teks al-Qur’an pada mushaf-nya. Dua contoh di atas termasuk dalam kategori ini. Mengapa ada bin nadhor? Karena ada satu lagi pasangannya yaitu khataman bil ghaib. Ini lazimnya dilakukan para santri yang menghafal al-Qur’an. Salah satu puncak hafalannya diresmikan/ditandai melalui khataman bil ghaib. Jadi, dia sejak usai shalat subuh sudah membaca al-Qur’an sampai akan selesai mungkin pada waktu maghrib. Karena hafal, maka dia membaca tanpa membuka mushaf al-Qur’an.

Orang-orang lainlah yang menyimak dia, untuk memastikan ada salah baca atau tidak. Dari para penyimak ini bisa juga ada yang sama-sama penghafal, ada juga yang tidak. Mereka berfungsi menyimak.

Jadi bin nadhar tadi maksudnya adalah membaca mushaf dengan kedua mata, sedangkan bil ghaib artinya tanpa melihat alias hafal. Pada keduanya, doa khatmil Qur’an tentu juga akan dibaca.

Demikianlah doa khatmil Qur’an dibaca yaitu ketika tiga puluh juz al-Qur’an telah selesai dibaca. Alhasil, doa khatmil Qur’an menjadi bagian integral dari khataman al-Qur’an. Meski begitu, ada juga beberapa bagian awal dari doa ini yang diambil menjadi pepujian yang dilantunkan di mushalla-mushalla, masjid, TPQ, atau banyak tempat dan kesempatan seperti wisuda TPQ dll, sehingga doa khatmil ini cukup populer.

Mbah Nun  juga sering menghadirkan doa khatmil Qur’an versi pepujian ini yang dihiasi dengan musik KiaiKanjeng dalam banyak Sinau Bareng yang diselenggarakan oleh berbagai macam penyelenggara yang justru kebanyakan hajatnya bukan khataman al-Qur’an sebagaimana digambarkan di atas. Timbul pertanyaan kiranya, mengapa Mbah Nun memilih nomor doa khatmil Qur’an untuk Sinau Bareng yang tema penyelenggaranya, sebagai misal, Syukuran dan atau ulang tahun lembaga seperti rumah sakit atau universitas (contohnya Dies Natalis ke-62 Unpad belum lama ini), wisuda, peringatan, dan lain-lain.

Menariknya, doa khatmil Qur’an ini, yang Mbah Nun ajakkan kepada semua jamaah untuk melantunkan bersama, biasanya di awal-awal, oleh Mbah Nun dipilih sebagai respons atas tema atau konteks hajat penyelenggara. Misalnya syukuran atas prestasi yang telah dicapai sebuah lembaga yang menyelanggarakan Sinau Bareng ini. Di situ Mbah Nun memaknai bahwa suatu prestasi tentu dicapai dengan upaya dan usaha yang tidak mudah. Ada liku-liku perjuangan yang ditempuh hingga sampai pada tercapainya prestasi tersebut. Bagi Mbah Nun satu rangkaian usaha dan perjuangan sampai suatu titik keberhasilan dipandang tak ubahnya perjalanan khataman. Kata khatam dirasakan oleh Mbah Nun sama pasnya untuk dikenakan pada suatu daur pengalaman hidup tersebut.

Bila ditarik ke konteks al-Qur’an, tampaknya ini merupakan implikasi dari kecenderungan kuat Mbah Nun kepada al-Qur’an di dalam bagaimana menghayati dan menyelaminya, atau bagaimana meletakkan al-Qur’an sebagai sesuatu yang side by side dengan pengalaman hidup. Di sinilah, Mbah Nun tidak bisa secara terpisah melihat khataman al-Qur’an sebagai khatam membaca teks al-Qur’an, namun bahwa di dalam satu rentang perjalanan hidup manusia ada kualitas khataman. Karena toh ayat-ayat al-Qur’an tak hanya yang literer. Diri, pengalaman, dan sejarah manusia adalah juga salah satu jenis firman Tuhan. Contoh yang paling mudah dalam hal ini adalah ungkapan, “Ah, dia sudah khatam kalau untuk urusan seperti itu.”

Apa yang ingin dicatat oleh tulisan ini adalah sangat jarang kita lihat tema, topik, atau hajat yang bukan secara “resmi” berkaitan dengan kegiatan pendidikan al-Quran alias tema yang bersifat umum yang direspons dengan perspektif doa khatmil Qur’an sebagaimana dilakukan oleh Mbah Nun dalam berbagai Sinau Bareng. Ini hal yang langka, dan khas Mbah Nun. Dalam konteks sinau Qur’an, yang dilakukan Mbah Nun ini adalah satu fenomena living Qur’an tersendiri yang untuk kesekian kalinya menggambarkan bagaimana dalam diri beliau al-Qur’an dihayati secara hidup. Membaca hidup tanpa terlepas dari al-Qur’an.

Itulah salah satu dari sekian banyak butir khasanah dari Sinau Bareng yang kali ini dapat kita petik berkaitan dengan al-Qur’an: cara Mbah Nun mengaplikasikan doa khatmil Qur’an.

Yogyakarta, 18-19 September 2019

Buku Cak Nun