Cita-cita dan Puncak Cinta untuk Simbah

Tidak bisa terlupakan kala malam itu, Simbah dan keluarga KiaiKanjeng kerso rawuh untuk sinau bareng di kampung kami, Tambahmulyo, dengan segala upaya warga membujuk, saya sendiri memberanikan untuk menerima tanggung jawab besar menjadi pelaksana pada kegaiatan Sinau Bareng tersebut. Mengingat saya sendiri hanya jamaah biasa yang kerap mengikuti kegiatan simbah di beberapa kota terdekat saja, seperti Solo, Sragen, Pati, Purwodadi, dan sesekali datang ikut sinau di Mocopat Syafaat dan Gambang Syafaat.

Meski sejak kelas 2 SMA saya menjadi jamaah Maiyah youtube. Atas izin Allah ketika saya mulai kuliah semester awal saya sangat ingat di lapangan desa Gemolong adalah pertama kali saya mengikuti Sinau Bareng langsung di lokasi, mengikuti kegiatan hingga selesai, ketika doa dipanjatkan oleh Simbah dan semua jamaah diminta untuk khidmat konsentrasi dengan Allah dalam hati kecil terbisik “semoga mbah Nun kapan-kapan bisa ngaji bareng di kampungku, Gusti”.

Berjalanya waktu, hanya bisa mengikuti Sinau Bareng di kota-kota dekat, bisa memandang Simbah dengan sorotan mata penuh cinta kasih seperti orangtua kepada anaknya, dan tidak pernah menyia-nyiakan untuk salaman dengan Simbah.

Tepat empat tahun dari doa yang saya mintakan kepada Allah di Gemolong, syukur alhamdulilah dua minggu yang lalu kampung kami disinggahi simbah dan keluarga KiaiKanjeng untuk muruki anak-cucunya di sini, sekali dua kali konfirmasi dengan Cak Zakky dengan penuh kehati-hatian untuk meng-iyakan jadwal Simbah kerso rawuh di tempat kami.

Hari H kegiatan semakin mepet, setiap hendak tidur hati terbayang hiruk-pikuknya hari H kegiatan seperti apa, dua hari sebelum kegiatan diselenggarkan, Almarhum Pak Is hadir di mimpi sepintas tanpa ingat apa yang dimaksud Pak Is, namun sudah saya rencanakan besok di Transit simbah, Pak Is saya mintakan alfatihah saking Mbah Nun, tapi apa daya di tempat Transit saya tidak bisa berbuat apa-apa, Simbah datang, saya hanya berani memandangnya dari jauh dengan sesekali harus stay HT (handtelephone) untuk kontrol keadaan di lokasi, namun waktu sebentar di transit saya sempat memperkenalkan bapak-bapak yang ada di ruangan tersebut kepada Simbah, saking senengnya duduk bersebalahan dengan Simbah hingga lupa untuk memintakan Alfatihah untuk Pak Is, apalagi hanya untuk meminta foto dengan Simbah.

Namun ketika semua bapak-bapak sudah beranjak merapat ke panggung, Simbah diantar Mas Alay kebelakang untuk mengambil air wudhu, ruang transit sudah sepi, tersisa saya dengan Mas Alay, ada getaran apa di hati Simbah selepas keluar dari kamar mandi menanyakan ke saya, “Mas jenengmu sopo?” Semakin tidak berkutik. Inilah puncak cinta untuk Simbah, yang jauh-jauh hari merencanakan beberapa hal untuk meminta sesuatu, namun jika sudah ketemu, gembira tiada terkira.

Semoga Pak Is tidak menagih janjiku untuk memintakan Alfatihah Simbah, allahu yarham Pak Is. Alfatihah.

Grobogan, 5 September 2019

Buku Cak Nun