Cinta, Keamanan, dan Ketertiban Sinau Bareng di Ponpes Al-Hidayat

Liputan Sinau Bareng CNKK di Ponpes Al-Hidayat, Salaman, Magelang, 26 Maret 2019

“Demi keamanan dan ketertiban…,” kata bapak tua yang menjaga parkir, ketika saya baru tiba di lokasi Sinau Bareng malam ini, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Hidayat, Kedunglumpang, Salaman, Magelang. Demi keamanan dan ketertiban, itu maksudnya biaya parkir. Dua ribu rupiah. Yah, memang keamanan dan ketertiban tidak pernah mahal. Malam cukup dingin di pengakhiran Maret tanggal 26. Masih di tahun 2019 Masehi.

Lokasinya agak mblusuk. Makin mendekati tempat acara Sinau Bareng ini berlangsung, ornamen NU dan pemilu makin kental terasa. Di pinggir-pinggir jalan, di dekat sawah, di mana-mana baliho berisi gambar caleg dan capres-cawapres terpampang di sana-sini. Di headset saya masih melantunkan lagu “Comfortably Numb” milik Pink Floyd. Motor saya parkir. Begitu headset saya lepas, ternyata lantunan Yahlal Wathon sedang berkumandang, oleh suara sekumpulan santriwati di panggung. Sudah mendekati selesai. Segerombolan sipil beratribut semi militer yang kerap disebut Banser tampak hilir-mudik.

Dua gadis MC yang sangat berpotongan santriwati memandu acara. Sesekali mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang, sepertinya cukup dipahami oleh kalangan santri.

“Setelah ini akan dilantunkan shalawat nahdliyyin yang dipopulerkan oleh…”  (menyebut satu nama yang sepertinya populer kalau tidak salah ada “Fifi”-nya). “Dia itu teman TK saya lhoooo…,” jamaah yang sudah memadati barisan depan langsung gerrr. Tampaknya nama ini cukup populer. Mungkin di kalangan santri. Mungkin di kalangan lain yang juga suka shalawatan. Saya kurang tahu. Wajar saja, setiap struktur dan kelompok manusia, kecil maupun besar selalu punya tokoh-tokoh dan seleb populernya sendiri-sendiri. Nama shalawat ini juga saya baru dengar. Bagi saya yang kurang beridentitas NU, kata nahdliyyin lebih lekat dengan gelombang nahdlah-nya Mesir ketimbang tradisionalis. Tapi itu sudah saya tuliskan beberapa kali. Kalau diulang lagi jadi bosan nanti.

Sejak awal kita bisa paham ini acara yang sangat ke dalam. Dan rupanya, untuk perhelatan yang sangat masuk ke dalam diri ini, pondok Al-Hidayat memilih menggelar Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Atmosfer Sinau Bareng ternyata bukan orang lain bagi mereka.

Manusia perlu keamanan dan ketertiban. Dan Sinau Bareng adalah penjagaan keamanan yang tanpa terlalu banyak pembekuan atribut, pembentukan identitas dengan petanda dan penanda. Itu tidak selalu buruk tapi rasanya Maiyah lebih memilih kedalaman tawa, keceriaan dan kebahagiaan; Cinta. Samudera ilmu dan cakrawala pemahaman pun menyusul dengan sendirinya. Maiyah tidak memadat seperti kebanyakan golongan yang ada saat ini, tidak ada atribut yang secara resmi membuat seseorang sah atau tidak sah menjadi JM. Sehingga Maiyah bisa ikut nyengkuyung golongan manapun yang sedang ingin membangun dirinya, menggali ke dalam. Dan bermanfaat kepada yang luar. Di situ diam-diam di jalan sunyi Maiyah membangun serta menyumbang keamanan dan ketertiban pada peradaban manusia saat ini.

Duo MC santriwati telah merampungkan tugasnya. Dan KiaiKanjeng dipersilakan menempati panggung. Suara mas Islami, Mas Imam dan Mas Doni langsung menyapa, dan shalawat melantun. Shalawat bukan untuk penanda identitas, dia adalah ekspresi cinta. Cinta melampaui petanda dan penanda, dia menggejala. Shalawat Badar dengan aransemen berbagai suku Nusantara dan dunia, nomor Kenduri Shalatullah melantun. Kita beranjak pada peradaban pasca-negara. Pasca nasionalisme. Cinta telah terbit, keamanan dan ketertiban pada peradaban masa depan di mana struktur yang kita kenal bukan lagi seperti sekarang. Di mana tidak ada lagi batas imajiner yang namanya negara maka manusia mesti siap penuh cinta pada sesama makhluk. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun