Cahaya Shalawat, The Light of Shalawat

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Besole Kec. Besuki Tulungagung, 18 Agustus 2019 (2)

Ini apik sekali. Lihat foto-fotonya ya. Allah menghadirkan keindahan dan amsal sekaligus. Saya tak sejak semula sadar bahwa di seberang panggung, terdapat sebuah bukit. Makin malam makin banyak orang yang berdatangan. Bukit itu juga menjadi tempat mereka ambil tempat duduk juga. Mereka mengikuti Sinau Bareng ini dengan meleseh di punggung bukit tentu saja konturnya miring.

Saat Mbah Nun menyapa mereka dengan uluk salam, flash light hp mereka nyala. Ini lama-lama jadi keindahan, tatkala KiaiKanjeng ajak mereka berbagi nyanyi bersama dengan membentuk tiga kelompok dengan tugas dan giliran masing-masing. Yang di punggung bukit itu satu kelompok. Saat mereka dapat giliran, flash light mereka nyala semua, bergerak bersama, butir-butir cahaya menjadi panorama yang indah di gelap malam di Desa Besole ini. Seperti sebuah pulau terasing tapi penghuninya tengah dilimpahi kegembiraan oleh Allah tanpa banyak dunia di sekitar segera menyadarinya.

Tampaknya yang Mbah Nun inginkan mereka penuhi. “Sampai akhir acara, mari kita tunjukkan kepada Allah, bahwa kita sungguh-sungguh….,” pinta Mbah Nun. Bagi Mbah Nun, yang datang ini mungkin hanya 1 persen dari semua warga Tulungagung, tetapi Allah melihat dan akan mengabulkan harapan-harapan baik sehingga Tulungagung jadi aman dan kompak.

Pemandangan keindahan tadi juga amsal atau bukti yang kontan. Tiga kelompok ini kompak, bisa bernyanyi sesuai jatah dan giliran, tanpa mereka saling kenal terlebih dahulu. Jadi ini jawaban tunai atas kegelisahan atau lontaran tentang persilihan yang ada. Kekompakan itu bisa diwujudkan. “Tanpa kenal saja kompak. Apalagi nanti perguruan-perguruan pencak silat akan turut menjaga keamanan kehidupan di Tulungagung,” tegas Mbah Nun.

Asik dan indah, itu yang saya rasakan. Dan keindahan flash light yang berpadu dengan dua kelompok lain, kemudian disambung dengan dua lagu yang asik juga: “Perdamaian” Nasida Ria dan Campursari “Suket Teki”. Di lagu terakhir ini, tiga orang ikut berjoget tapi gerakannya separuhnya adalah gerakan pencak.

Segmen ini kemudian Mbah Nun lanjutkan dengan meminta ketua tiga perguruan Pencak Silat PSHT, Bintang Surya Sejati, dan Pagar Nusa untuk menyampaikan apa inti pencak silat. Pencak silat hanya salah satu bagian kecil dari perguruan. Yang utama adalah belajar berbudi luruh dan mengetahui apa yang benar dan yang salah, baik dan buruk. Itulah yang disampaikan ketua PSHT.

Sementara yang Bintang Surya Sejati menegaskan rasa syukurnya bahwa telah terbangun kerukunan di antara tiga perguruan tersebut di Kecamatan Besuki. Adapun ketua Pagar Nusa mengingatkan pentingnya menyadari bahwa semua perguruan itu sejatinya satu, yaitu satu keluarga IPSI, Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia, dan beliau juga berterima kasih kepada Mbah Nun yang telah ikut malam ini menciptakan persaudaraan dan kerukunan.

Untuk semua itu, Mbah Nun lantas meneruskan tingkat kesadaran yang telah dicapai: bahwa sebenarnya tidak hanya perguruan pencak silat, pergerakan manusia sejatinya juga menuju titik yang sama yaitu ingin bisa berbudi luhur. Hanya saja di jalan, mungkin ada satu dua oknum yang mencederari, dan ini juga terjadi di politik, di demokrasi, bahkan juga dalam pelaksanaan agama. Dan pencak silat mengandung kata silat yang aslinya “silah”, yaitu menyambung. Menyambung manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah.

Buku Cak Nun