Apa Agamamu?

Apa agamamu? Sudah pasti mereka menjawab: Islam. Aku pun berpikir, sebab aku hampir selalu menyaksikan dan mengalami keadaan engkau menomorsatukan organisasimu; kelompokmu, firqahmu. Engkau tidak ber-fastabiqul khairat. Bukan berlomba-lomba menegakkan panji Islam, melainkan sibuk mendirikan tiang bendera kelompokmu masing-masing. Agamamu mungkin Remaja Masjid X, Y, Z, HMI, PMII, IMM, atau apa pun saja “RT-RT” primordialmu. Engkau bersaing untuk kepentingan eksistensi RT-mu. Engkau saling cemburu, saling curiga, saling ngrasani, sengaja tidak men-support acara RT lain, bahkan mengkafirkan dan membenci saudara-saudara seimanmu sendiri lebih dari kejengkelanmu kepada meraka yang tak seiman denganmu.

Bukankah yang kusuguhkan kepada masing-masing RT sesungguhnya memiliki perspektif yang sama meskipun kuambil dari angle dan dimensi yang berbeda-beda? Mengapa engkau memubazirkan energiku? Mengapa engkau tak berkumpul saja dan kita mengadakan “pleno”: bukankah kepentingan iman, kepentingan aqidah, dan jihad kita sebenarnya sama? Kalau memang agamamu Islam, mengapa engkau menganggap bahwa “RT sana” adalah orang lain yang tak sepihak denganmu? Tentu saja engkau punya perbedaan selera makanan, perbedaan soal rakaat salat tarawih atau berbagai macam hal lain: tetapi mengapa engkau tidak berusaha merumuskan suatu skala prioritas tentang substansi-substansi perjuangan yang engkau mutlak tidak berbeda? Silakan engkau saling cemburu soal romantisme nama korps serta bertengkar soal khilafiyah ringan, tetapi mengapa tak kau temukan dimensi dasar di mana engkau tak mungkin berbeda?

Sekarang umat Islam tak bisa lagi menunda penyelenggaraan kondisi total, mendasar, dan menyeluruh. Kini engkau membutuhkan rintisan lahirnya suatu generasi muda Islam baru yang tak mengulang kecengengan pertengkaran generasi sebelumnya. Generasi Islam baru yang berusaha menemukan pola ukhuwah baru, soliditas organisasional baru. Mengapa hanya ada pergerakan yang siang ini diselenggarakan oleh kelompok ini, dan malam nanti oleh kelompok yang lain, dan masing-masing merasa sebagai umat tersendiri yang saling merahasiakan sesuatu?

Mengapa tak ada dimensi jihad yang memungkinkan suatu kegiatan di mana yang menyelenggarakan bukan lagi kelompok ini atau itu melainkan, misalnya eksponen generasi muda Islam Ujungpandang. Apakah di setiap masalah engkau berbeda dan bertentangan satu sama lain? Engkau silakan bertengkar soal warna baju atau bunga bank, tapi benarkah tak ada tantangan dari luar dirimu yang membuatmu, pada konteks itu, tidak mungkin bertengkar satu sama lain?

Kalau setiap engkau merasa Islam dan menganggap yang lain bukan Islam, maka di mana Islam sesungguhnya?

Seminggu ini aku menangis dua kali dan berteriak-teriak sekali pada larut malam. Semula aku menyangka yang menangis itu adalah kelelahan tenagaku, tapi akhirnya aku tahu bahwa tangis itu terdengar dari nurani Islam agamaku.

(Harian Fajar, Ujungpandang/Makassar, Minggu 18 November 1990)